Mimpi Negara Islam : Dari Pemberontakan, Teror Hingga Aktifitas Organisasi Politik

Mimpi Negara Islam : Dari Pemberontakan, Teror Hingga Aktifitas Organisasi Politik

- in Suara Kita
262
0
Mimpi Negara Islam : Dari Pemberontakan, Teror Hingga Aktifitas Organisasi Politik

Pilihan dasar dan bentuk negara Indonesia yang disepakati dalam perjanjian luhur pendiri bangsa adalah bukan negara berdasarkan agama, tetapi negara yang beragama dengan dasar Pancasila. Tidak ada satu agama yang secara simbolik-formal diprioritaskan, walaupun mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Pilihan negara bangsa dengan sistem republik dengan dasar falsafah luhur menjadi prasasti suci hingga hari ini tetap dipertahankan sebagai pilihan final.

Namun, bukan berarti gairah untuk mendirikan negara Islam di Indonesia tidak pernah ada dalam sejarah. Bahkan gerakan itu masih terasa hingga saat ini. Berawal dari Gerakan Darul Islam di bawah komando Sekarmadji Maridjan Kartosewirjo beberapa tahun setelah Indonesia merdeka untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Pemberontakan terjadi dengan pasukan Tentara Islam Indonesia yang lazim dikenal dengan pemberontakan DI/TII. Dalam sejarah, pemberontakan ini dikenal sebagai salah satu pemberontakan tersulit karena menyebar ke berbagai wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Pemberontakan DI/TII merupakan gerakan yang mempunyai mimpi negara Islam di Indonesia. Gerakan ini mulai redup pada akhir tahun 1962 ketika sang pemimpin ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Namun, mimpi, cita dan ideologi tidak pernah pudar. NII tetap beroperasi secara sembunyi dan terpecah dalam beberapa organisasi dengan Sembilan faksi komandemen wilayah (KW). Beberapa kader NII kemudian bermetamorfosa dalam bentuk organisasi baru Bernama Jamaah Islamiyah yang selanjutnya menjadi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Secara penamaan tidak ada istilah negara Islam, tetapi mimpi dan cita mendirikan negara Islam Indonesia semakin kuat bahkan dengan jaringan yang lebih luas.

Perubahan dari Gerakan lokal NII dalam atraksi gerakan selanjutnya dibawa lebih luas lintas teritori Indonesia bahkan di Asia Tenggara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei dan Kamboja. Pembagian wilayah komando itu dikenal dengan sebutan mantiqi satu hingga empat hingga ke Australia.

Corak gerakan ini membawa mimpi negara Islam Indonesia lebih luas lagi dengan membangun jejaring dengan Al-Qaeda. Perjuangannya pun ingin menegakkan kekhalifahan di Asia Tenggara dengan metode teror. Pemberontakan bersenjata diganti dengan metode yang lebih menakutkan dengan aksi-aksi terorisme.

Era Reformasi menandai kebebasan politik yang menjadi lahan subur bagi masuknya kembali para kombatan dan Gerakan yang pada masa Orde Baru ditekan dengan sistem pertahanan berbasis intelijen yang kuat. Akibatnya Indonesia menjadi panggung teror dari eks NII yang berganti JI dengan mimpi yang sama ingin mendirikan negara Islam.

Selain gerakan radikal milisi seperti NII dan JI di atas, dalam sejarah Indonesia mimpi negara Islam juga digerakkan dalam Gerakan dakwah politik. Gerakan dan ideologi tran-nasional seperti salafi, ikhwanul muslimin dan hizbut tahrir memainkan peran penting dalam panggung Islam politik untuk mencita-citakan mimpi negara Islam. Bedanya, gerakan ini tidak melalui jalur kekerasan, tetapi dengan kaderisasi dakwah. Organisasi politik pioneer dalam hal ini adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengimpikan sebuah negara Islam bahkan dalam kekhalifahan global. Memang dalam perjalanannya, HTI dibubarkan sebagai ormas sesuai Perppu Nomor 2/2017 tentang organisasi kemasyarakatan karena memiliki asas, ciri dan sifat yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Namun, penting dicatat bahwa mimpi Negara Islam baik dari NII, JI, hingga HTI adalah sebuah ideologi yang diprediksi tidak akan pernah pudar sebagai mimpi DI/TII yang hingga hari ini mengilhami berbagai gerakan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Berbagai cara akan dilakukan meskipun gerakan, organisasi dan ruangnya dipersempit. Kaderisasi, rekurtmen dan indoktrinasi akan terus berjalan menghiasi perjalanan bangs aini.

Tergantung pada komitmen kebangsaan seluruh elemen bangsa dalam memperkokoh konsensus nasional. Jika wawasan kebangsaan ini mengalami krisis dan keropos, tentu akan mudah masuk mimpi ideologi negara Islam sebagaimana yang terjadi secara sembunyi di berbagai daerah.

Facebook Comments