Moderasi Beragama Dalam Kebhinekaan

Moderasi Beragama Dalam Kebhinekaan

- in Suara Kita
172
2
Moderasi Beragama Dalam Kebhinekaan

Di tengah situasi politik  pasca pilpres 2019 dan pasca pengumuman sengket pilpre 2019 dari Mahkamah Konstitusi saat ini dimana kebhinekaan masyarakat Indonesia sangat rentan konflik sosial politik yang  kemudian bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memecah persatuan dan kesatuan bangsa, moderasi dalam beragama amat penting untuk dikedepankan dalam menyikapi keragaman.

Karena itu, nilai-nilai Bhineka Tunggal diamallkan oleh bangsa Indonesia harus dijadikan sebagai upaya merajut kesatuan dan persatuan  negara Indonesia tercinta ini. Di tengah tengah  maraknya berita hoax, fitnah atas nama  agama dan penyebaran benih-benih kebencian dan prasangka buruk pada orang lain harus dihilangkan. Sifat iri dan dengki, sifat pemarah, sifat pendendam, sifat angkara murka pada orang  lain dan umat lainya harus direduksi.

 Dengan begitu, segala persoalan kebangsaan saat ini harus disikapi dengan kepala dingin dan hati yang arif bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan pemerintah dan rakyat, jangan ada politik adu domba, semua harus dapat diselesaikan dengan jalan kembali pada Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinekaan harus dijadikan sebagai petunjuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia juga diajarkan dalam Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki nilai-nilai luhur, budi pekerti, etika dan moral bagi setiap warga negara Indonesia dalam rangka merangkai rasa kedamaiaan berbangsa.

Karena itu, kekayaan isi sila tersebut mudah digali kalau kita mengingat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia. Adalah niat bangsa Indonesia untuk mengakui kenyataan bahwa di Indonesia terdapat pelbagai macam agama dan kepercayaan yang mempunyai pokok-pokok ajaran yang berbeda. Dengan demikian, umat beragama yang hidup di Indonesia sudah semestinya mampu memaknai moderasi beragama dalam kebhinekaan secara mendalam agar tumbuh dalam hati dan nurani dalam merajut persatuan bangsa.

Baca juga : Dari Media Sosial untuk Rekonsiliasi Kebangsaan

Nilai kebhinekaan ini merupakan bagian dari moderasi beragama untuk mendukung rasa keharmonisan berbangsa. Filsuf klasik abad pertengahan, Auguste Comte, mengatakan bahwa agama itu mengajarkan cinta kasih pada manusia. Lebih tepatnya agama kemanusiaan, yang menebarkan benih-benih kasih sayang pada sesama umat manusia. Comte, menjelaskan agama yang berbasis pada cinta manusia inilah yang akan  memulihkan keseimbangan dan keintegrasian baik dalam diri pribadi individu maupun dalam masyarakat. Dalam  konteks ini, moderasi beragama akan bisa diejawantahkan bila umat beragama selalu menggunakan nalar humanitas, sehingga dapat terhindar dari sikap kekerasan, dan konflik sosial politik.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika merupakan kepribadian Bangsa Indonesia, yang memiliki banyak agama dari Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindhu, Budha dan Konghucu. Dengan melihat kemajemukan beragama ini, maka Sila pertama Ketuhanan  Yang Maha Esa menjadi sumber utama bagi terwujudnya nation state, untuk melahirkan sebuah persatuan kesatuan. Agama menjadi sumber dari sumber pembentukan sebuah nation state.

Pernyataan diatas dipertegas oleh Presiden RI Soekarno, yakni ketika Soekarno menguraikan pancasila, di dalam pancasila, pluralitas agama-agama diakomodasi, tetapi sekaligus diatasi sehingga dimensi partikularitas yang dapat menyebabkan perpecahan, konflik dan disharmoni dapat diatasi sementara negara sebagai sebuah entitas baru yang universal dan netral bagi semua golongan tetap muncul.

Dengan adanya nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan pancasila seluruh peleburan tiap-tiap agama menjadi hilang. Setiap ego dan fanatik, kebenaran klaim agama harus dihilangkan sehingga harus menggunakan rasa kebangsaan, dengan begitu akan tercipta kehidupan yang menghargai antar sesama . Di mana nalar yang digunakan untuk mencapai kerukuan beragama, ukuranya terletak pada merasa sebagai warga negara Indonesia yang memiliki nasib yang sama untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.

Dengan demikian, Sikap hidup menciptakan moderasi beragama dalam kesatuan dan persatuan bangsa, dapat terwujud dengan adanya keamanan, kemampuan semua komponen bangsa dan kemampuan mengendalikan diri dari sikap ucapan dan perbuatan yang tidak menyinggung dan merugikan orang lain. Karena itu, kerukunan umat sejatinya bisa dilandasi dengan semangat nilai-nilai pancasila, yang di sana juga ada sila kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan dan kesatuan ,keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila-sila tersebut itu menegaskan umat beragama untuk selalu hidup atas dasar nurani kerukunan.

Dengan demikian, nilai moderasi beragama dalam kbhinekaan perlu dibangkitkan kembali dalam upaya merajut kerukunan dan keharmonisan umat yang terkoyak akibat adanya berita hoaks, fitnah dan prasangka buruk. Karena itu, nilai moderasi beragama dalam kebhinekaan sangat berarti bagi perkembangan umat Indonesia sehingga menghasilkan rasa persaudaraan, perdamaiaan, hidup rukun berdampingan.

Itulah inti moderasi beragama  dalam  Bhinneka Tunggal Ika untuk menyemaikan persatuan, persaudaraan dan kesatuan bangsa. Setiap agama hadir untuk menyebarkan kedamaiaan. Moderasi beragama dalam Bhinneka Tunggal Ika memiliki relevansi yang sangat tepat sekali saat ini di tengah situasi pasca pilpres 2019 sebagai upaya merangkai rasa persatuan, rasa persaudaraan, rasa keharmonisan berbangsa dan bernegara. Semoga.

Facebook Comments