Moderasi Beragama Sebagai Narasi Alternatif Melawan Residu Puritanisme

Moderasi Beragama Sebagai Narasi Alternatif Melawan Residu Puritanisme

- in Suara Kita
652
4
Moderasi Beragama Sebagai Narasi Alternatif Melawan Residu Puritanisme

Pasca Reformasi 1998 kita menyaksikan adanya perubahan mendasar dalam perilaku keberagamaan di Indonesia, utamanya di kalangan umat Islam. Dalam tinjauan antropolog Robert W. Hefner, terjadi kebangkitan gerakan Islamisme yang merujuk pada gerakan formalisasi syariah di sejumlah wilayah di Indonesia. Sedangkan menurut sosiolog Greg Fealy dan Sally White, pasca Reformasi ekspresi keberagamaan kaum muslim terbagi ke dalam setidaknya tiga corak, yakni kesalehan personal, ekspresi sosial-politik, dan ekspresi ekonomi.

Meski ada multiekspresi keberagamaan, namun pada dasarnya semua itu mengarah pada kecenderungan puritanisme. Yakni keyakinan atau pandangan yang meyakini bahwa kesucian agama harus dijaga dari pengaruh unsur luar, semisal budaya atau nilai lokalitas. Dalam konteks kesalehan pribadi misalnya, puritanisme itu tampak pada sikap sebagian umat yang anti-pada akulturasi agama dan budaya lokal.

Dalam konteks kesalehan politik dan sosial, paham puritanisme termanifestasikan ke dalam gerakan politisasi agama dan kebangkitan populisme Islam. Di sini, Islam lebih dipahami sebagai sebuah mesin politik untuk meraih kekuasaan, alih-alih sumber ajaran moral. sementara dalam konteks kesalehan ekonomi, nalar puritanisme itu tampak pada menjamurnya industri barang dan jasa berlabel syariah yang diklaim lebih merepresentasikan ajaran Islam.

Dalam banyak hal, puritanisme ini menyisakan sejumlah residu persoalan. Antara lain pertama, munculnya gugatan terhadap relasi agama dan negara. Pasca reformasi kita melihat sendiri bagaimana isu relasi agama dan negara kembali mencuat. Padahal, sebelumnya kita tahu bahwa isu relasi agama dan negara nisbi sudah selesai dengan diterimanya NKRI dengan ideologi Pancasila. Kedua, tumbuhnya sikap anti pada budaya Nusantara yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Dan ketiga, renggangnya hubungan antar-agama karena menguatnya sentimen fanatisme identitas keagamaan di sebagian umat Islam.

Residu terakhir yakni renggangnya hubungan antar-agama ini belakangan kita rasakan kian akut. Dalam lingkup kecil, ada sebagian umat Islam yang emoh berinteraksi dengan umat agama lain, bahkan sekadar untuk mengucapkan selamat hari raya. Alasannya, hal itu akan mencemari akidah dan keimanan. Dalam lingkup besar, misalnya politik, masih banyak umat Islam yang emoh dipimpin oleh sosok yang berlatar belakang agama berbeda.

Moderasi beragama ialah narasi alternatif yang bisa ditawarkan untuk menjembatani kembali hubungan antar-agama yang sempat renggang. Moderasi beragama berangkat dari keyakinan bahwa pada dasarnya semua agama bersikap moderat, dalam artian tidak menyuruh umatnya mempraktikkan laku kebencian apalagi kekerasan. Agama, ialah bahasa teologis untuk menyatakan cinta pada Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Tiga Agenda Moderasi Beragama

Maka, idealnya gagasan moderasi agama difokuskan untuk menghadapi isu-isu relasi agama dan negara, isu akulturasi agama dan budaya, serta isu hubungan antar-agama. Dalam konteks isu relasi agama dan negara, idealnya kita bisa membangun paradigma moderat dalam bernegara. Yakni bahwa NKRI yang berdasar Pancasila ialah bentuk final yang tidak bisa direvisi oleh gerakan dan ideologi agama apa pun. Dalam konteks relasi agama dan budaya, kita harus membangun kesadaran moderat bahwa agama tidak hadir untuk menghapus budaya dan tradisi lokal. Akulturasi agama dan budaya ialah sebuah keniscayaan yang akan memperkaya keduanya.

Terakhir, dalam konteks relasi antar-umat beragama, kita harus mengembangkan perspektif moderat yang meyakini bahwa pada dasarnya semua agama menuju pada tujuan yang sama; yakni Tuhan. Hanya caranya saja yang berbeda. Pemahaman yang demikian ini kiranya akan meluruhkan sikap egois, arogan, dan eksklusif dalam beragama. Dalam konteks masyarakat majemuk dimana ideologi puritan tumbuh subur di dalamnya kita perlu memperkuat moderasi beragama sebagai semacam narasi alternatif. Tanpa moderasi beragama, kemajemukan itu akan menjadi ancaman yang membahayakan persatuan.

Facebook Comments