Moderasi Dan Toleransi : Tantangan Etika Virtual Di Era Pasca-Kebenaran

Moderasi Dan Toleransi : Tantangan Etika Virtual Di Era Pasca-Kebenaran

- in Suara Kita
261
3
Moderasi Dan Toleransi : Tantangan Etika Virtual Di Era Pasca-Kebenaran

Dunia maya (virtual) menjadi media potensial guna melakukan transformasi nilai moderat dan toleran. Namun di sisi lain, dinamika dunia maya diakui juga menimbulkan dilema. Sisi positif dan negatif baik konten dan efeknya hampir sama kuat eksistensinya. Faktor utama yang mampu mengendalikan adalah pelakunya.

Kehadiran smart netizen menjadi konsekuensi dan keniscayaan. Regulasi dan penegakan berkeadilan hingga kini masih gampang ditabrak karena dinilai berbenturan dengan kebebasan dan kepentingan. Etika virtual dibutuhkan sebagai karakter fundamental smart netizen guna  mengarusutamakan dunia maya dengan moderasi dan toleransi.

Tantangan Era Post-Truth 

Media sosial kini tampil digdaya. Di sisi lain ketidakpercayaan terhadap fakta dan data yang disajikan oleh institusi terkait maupun media massa mainstream semakin besar. Fenomena ini menguatkan bahwa eksistensi era pasca-kebenaran (post truth) di Indonesia masih terjadi.

Istilah Post-Truth  pertama kali muncul pada bulan Januari tahun 1992 dalam sebuah artikel pada Nation Magazine. Artikel tersebut ditulis oleh seorang penulis keturunan Serbia-Amerika, Steve Tesich.

Tesich menggambarkan apa yang disebutnya “the watergate syndrome”. Semua fakta-fakta buruk yang diungkapkan di masa kepresidenan Richard Nixon justru membuat warga Amerika meremehkan kebenaran. Post-truth juga menjadi refleksinya atas skandal Iran-Kontra dan Perang Teluk Persia.

Kamus Oxford sempat menetapkan kata post-truth sebagai international word of the year pada tahun 2016. Sepanjang tahun tersebut intesitas politik yang terjadi tinggi. Grathwohl memprediksi post-truth masih akan menjadi word of the year selama beberapa tahun setelahnya.

Baca juga : Moderasi di Era Sosial Media: Mencairkan Eksklusivisme Agama di Dunia Maya

Pada tahun-tahun tersebut percakapan dunia didominasi oleh wacana politik dan diskursus yang dipicu oleh meningkatnya signifikansi media sosial sebagai sumber berita. Selain itu juga dibarengi dengan semakin besarnya ketidakpercayaan terhadap fakta dan data yang disajikan oleh institusi terkait maupun media massa mainstream.

Keyes (2004) menyebutkan post-truth  ditandai dengan merebaknya berita hoaks di media sosial. Hoaks atau berita palsu paling dominan tersebar melalui media sosial. Van der Linden (2018) memaparkan ada lima indikator yang  biasa terdapat dalam berita ‘palsu. Pertama, terdengar konyol untuk menjadi kenyataan.  Judul berita kerap dirancang khusus agar kita mengkliknya. Jadi, kita tidak boleh terjebak clickbait. Kedua, Berhati-hati dengan konten berita politik. Berita palsu memang dibingkai untuk mewakili kepentingan kelompok tertentu. Banyak riset menunjukkan bahwa manusia lebih memperhatikan dan memproses informasi yang sepaham dengan pemikirannya.

Ketiga,  berita hoaks lebih cepat viral daripada fakta. Viral tidak selalu menjadi indikator yang baik tentang hal-hal yang penting. Konten viral yang dibagikan berulang kali sering didasarkan pada hal-hal yang tidak akurat. Keempat, verifikasi sumber dan konteks. Ciri paling mencolok dari berita palsu adalah ketiadaan sumber. Berita palsu mampu bertahan di tengah masyarakat karena kita terus-menerus dihujani informasi tersebut. Kelima, jangan terlalu percaya dengan berita yang beredar di media sosial Media sosial bukan situs berita yang terjamin kebenarannya. Media sosial memungkinkan semua orang menyampaikan informasi yang terlihat seperti hal nyata.

Konten hoaks dan penyebarannya tidak dibenarkan dalam agama. Fenomena hoaks banyak direkam dalam Al-Quran. Misalnya pada kisah Nabi Adam dan Hawa yang teperdaya oleh berita hoaks yang disampaikan iblis tentang ‘pohon keabadian’ hingga mengakibatkan terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Selanjutnya pada kisah Fir’aun, sang penguasa yang membuat berita hoaks dan membentuk opini publik tentang Nabi Musa yang katanya ingin mengkudeta sang penguasa dan mengusir rakyatnya. Dan masih banyak rekaman sejarah lainnya. Aktualisasi Etika  

Pribadi yang moderat dan toleran merupakan tuntutan dan impian setiap pribadi. Kini, etika tidak cukup dari aspek religiusitas dan sosial, namun perlu terpancarkan pula di dunia virtual. Meksipun pondasi dan pedoman utamanya tetap pada aspek religius. Beberapa hal penting diperhatikan guna membentuk dan mengaktualisasikan etika virtual.

Etika virtual tidak semata ditunjukkan secara tekstual namun lebih penting adalah kontekstual. Pengungkapan dalil-dalil sebagai dasar argumentasi akan semakin memperkuat aktualisasi. Apalagi jika menghadapi konten radikalisme digital.

Pendekatan teologi yang mudah diterima khalayak dunia maya penting dilakukan. Hikmah-hikmah dapat dikuatkan. Diskusi terbuka penting dibudayakan. Dan jika dibutuhkan dimungkinkan debat yang menjunjung etika.

Smart netizen mesti menjadi teladan dan memberikan aura positif melalui pancaran etika virtualnya. Dengan demikian, segala argumen dan sebaran konten positif darinya akan mudah diterima dan diikuti netizen lainnya.

Etika virtual mesti ditampakkan melalui suasana yang adem hingga netizen merasa nyaman. Perpecahan mesti menjadi prioritas yang dihindari. Selain kebenaran, persatuan mesti menjadi fokus utama.

Etika virtual dapat menjadi karakter fundamental guna menangkal radikalisme digital. Karenanya pembentukannya mesti massif melalui gerakan bersama. Satu atau dua seleb medsos penting memang dijadikan ikon moderat dan toleran. Tujuannya agar semua netizen tertarik mengikuti dan tercelupkan karakternya menjadi pribadi moderat dan toleran.

Facebook Comments