Moderasi dan Toleransi untuk Kerukunan di Jagad Media!

Moderasi dan Toleransi untuk Kerukunan di Jagad Media!

- in Suara Kita
141
2
Moderasi dan Toleransi untuk Kerukunan di Jagad Media!

Tak bisa dipungkiri, Media Sosial (Medsos) dalam perkembangan media telah mengambil posisi menandingi media-media konvensional atau tradisional, seperti televisi, radio atau media cetak. Keunggulan itu dapat terjadi karena medsos tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak, modal yang besar dan tidak terikat oleh infrastruktur produksi yang masif seperti kantor, gedung dan perangkat peliputan yang lain.

Merebaknya situs medsos yang muncul menguntungkan banyak orang dari berbagai belahan dunia untuk berinteraksi dengan mudah dan dengan ongkos yang murah ketimbang telepon. Dampak positif yang lain dari adanya situs jejaring sosial adalah percepatan penyebaran informasi. Akan tetapi ada pula dampak negatif dari medsos, yakni berkurangnya interaksi interpersonal secara langsung, munculnya kecanduan dalam pemakain handphone, serta persoalan etika dan hukum karena kontennya yang melanggar moral, privasi serta peraturan.

Bermedsos perlu adanya moderasi dan toleransi. Istilah moderasi sering muncul ketika akan memposting sebuah iklan atau komentar di internet. Sebelum iklan atau komentar yang diposting muncul di situs tersebut biasanya iklan akan dimoderasi terlebih dahulu oleh admin situs tersebut. Postingan akan dipriksa apakah sudah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Moderasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti menengahi suatu masalah atau meninjau. Moderasi dapat didefinisikan suatu kegiatan untuk mengatur, memandu serta menengahi komunikasi interaktif baik yang berbentuk lisan maupun tulisan. Dalam arti lain moderasi adalah suatu kegiatan untuk melakukan peninjuan agar tidak menyimpang dari aturan yang berlaku dan telah ditetapkan.

Baca Juga : Islam Damai, Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian Dunia

Pemerintah dalam era medsos yang bebas perlu melakukan moderasi. Apa yang dimoderasi?, yang dimoderasi adalah semua jenis medsos, mulai dari Facebook, Youtube, Whatshapp, Instagram, Twitter dan lainnya. Hal ini penting supaya postingan yang muncul dimedsos tidak menimbulkan masalah atau konflik di publik. Tugas moderasi medsos memang berat dan memakan tenaga maupun biaya yang cukup besar, tetapi pemerintah melalui Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) mampu memoderasi medsos dengan cara bekerjasama dengan lembaga terkait.

Moderasi dalam medsos penting dilakukan untuk menindak kalau ada user yang melanggar etika dan hukum dalam bermedsos. Jangkauan medsos yang luas kalau tidak termoderasi konten yang diposting per-user maka dampaknya juga luas, tidak pandang yang posting itu anak kecil, dewasa, orang tua, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, ataupun Presiden. Dampak yang luas ini yang perlu diperhatikan dan dicegah.

Indonesia sebagai masyarakat yang berbudaya dan beretika tinggi harapannya mulai dari netizen mampu mengkontrol sendiri apa yang diposting. Masyarakat harus mampu berpikir apakah postingan yang akan diupload memiliki dampak apa, melukai hati orang lain apa tidak, mengandung unsur adu domba apa tidak atau mengandung unsur makar apa tidaknya. Berpikir secara dewasa yang dimulai dari netizen lebih efektif daripada menunggu dimoderasi pihak lain.

Moderasi cukup ringan ketika masyarakat memiliki sikap toleransi yang tinggi. Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi bearti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat bearti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarindividu maupun antarkelompok dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap tolerasi dapat menghindari diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Sikap toleransi sudah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ajaran toleransi sudah tertuang dalam Surah Al-kafirun Ayat 1-6. Ada peristiwa yang mengiringi turunnya surah ini, sebagaimana tertulis dalam kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Setelah Rosulullah menyampaikan ajaran Islam, beberapa tokoh musyrik merasa bahwa ajaran Muhammad mengancam ajaran mereka. Untuk itu, para tokoh datang kepada Rosulullah. Mereka adalah al Wahid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf.

Mereka datang ke hadapan Rosulullah dan mengusulkan untuk berkompromi dan berdamai di antara dua belah pihak. Meraka mengatakan, “Hai Muhammad, bagaimana kalau beberapa waktu (selama setahun) engkau mengikuti agama kami. Sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu. Kita menyembah tuhan-tuhan dengan bergantian. Kalau ajaranmu benar, maka kami bisa selamat. Begitu juga sebaliknya. Kalau ajaranmu yang benar, kami bisa selamat.”

Nabi Muhammad SAW menolak dengan tegas tawaran ini sebab tidak mungkin Rosulullah menerima ajaran yang bertolak belakang dengan wahyu yang sudah diterima dari Allah. Tidak mungkin Rosulullah menyembah sesembahan orang kafir Mekkah. Untuk menjawab tawaran orang musyrik tersebut, turunlah Surah Al-Kafirun.

Surah Al-Kafirun ayat 1-6 menunjukkan sikap toleransi beragama. Arti Surah Al-Kafirun berbunyi, “Katakanlah, “orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Indonesia yang terdiri dari berbagai penganut agama, suku, Ras, bahasa, golongan maupun partai yang beragam maka toleransi menjadi kunci memperkuat Persatuan Indonesia. Para pendiri bangsa telah meletakkan sikap toleransi beragama dalam sila ke 1 yaitu, “Ketuhan yang Maha Esa.” Semua warga Indonesia memiliki hak dan kewajiban bertuhan dan beriman sesuai kepercayaan agama serta tuhan masing-masing.

Di era medsos yang bebas toleransi menjadi meminimalisir moderasi. Sikap toleransi di medsos penting untuk menghindari postingan yang berbau ujaran kebencian, fitnah, adu domba dan konten negatif lainnya. Para netizen hendaknya dewasa dalam bermedsos, postinglah konten-konten yang positif, mencerahkan dan menghibur penduduk medsos. Tetapi untuk pemerintah melalui Kominfo jangan lengah memoderasi medsos demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang damai.

Facebook Comments