Moderasi di Era Sosial Media: Mencairkan Eksklusivisme Agama di Dunia Maya

Moderasi di Era Sosial Media: Mencairkan Eksklusivisme Agama di Dunia Maya

- in Suara Kita
288
1
Moderasi di Era Sosial Media: Mencairkan Eksklusivisme Agama di Dunia Maya

Di tengah banjirnya suguhan yang mempromosikan kajian agama di media sosial, sepintas lalu memudahkan kita untuk terhubung dengan konten-konten kegamaan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Di lain hal, kemudahan ini bisa juga berakibat fatal bila suguhan kajian yang dikonsumsi adalah berupa kajian yang berisi indoktrinasi atau klaim-klaim kebenaran pada pihak tertentu dan menyerang dan menganggap salah bila melihat kelompok yang berbeda dengannya.

Indoktrinasi dengan mengukuhkan kebenaran tunggal pada pihak tertentu menyebabkan ceramah agama gagal menumbuhkan kearifan dan kesadaran terhadap perbedaan dalam pengalaman bertuhan. Sejatinya, Tuhan yang diyakini sebagai pengasih dan penyayang, akan tetapi, bila ditafsirkan dengan penjelasan yang menguntungkan satu kelompok saja serta eksklusif, justru akan mengarah pada otoritarianisme dan mendaku hanya kelompoknya saja yang pantas dan benar dalam menafsirkan agama, selainnya salah.

Kaca mata penafsiran agama yang tendensius yang disebarkan melalui media sosial tidak bisa dinafikan akan mewujud menjadi sikap intoleransi yang berlapis-lapis di tengah-tengah masyarakat. Berlapis-lapis dalam artian, intoleransi bisa terjadi antara satu agama apalagi terhadap agama yang berbeda. Survey yang pernah dilakukan oleh “Tolerance Index” pernah mencatat bahwa intoleransi di Indonesia menguat di daerah-daerah yang banyak menggunakan jargon keagamaan. Bahkan berdasarkan catatan Kontras, sepanjang tahun 2017 yang lalu telah terjadi 75 peristiwa kekerasan berdimensi agama.

Paling tidak data ini membuktikan bahwa kekerasan atas nama agama masih terus berlangsung. Meski tidak ditetapkan penyebab utama dari kekerasan itu terjadi, namun lazimnya peristiwa-peristiwa kekerasan atas nama agama yang terjadi di negeri ini, berawal dari benturan pemahaman keagamaan yang terjadi akibat otoritarianisme penafsiran. Yang pada saat ini jamak ditemukan di media sosial.

Baca juga : Mubaligh dan Upaya Deradikalisasi Dunia Maya

Perlu diketahui, pembacaan yang eksklusif terhadap teks suci akan melahirkan apa yang disebut oleh Khalid Abou el-Fadl sebagai hermeneutika otoriter (as-Sulthoh at-Tafsir) atau istilah Nasr Hamid Abu Zayd sebagai pembacaan tendensius (Qiroatu at-Talwiniah al-Mughridhah).

Menurut Fadel, pembacaan yg tendensius itu dikarenakan makna teks disuruh tunduk kepada subjektifitas yang dipaksakan dengan mengabaikan maksud tekstual dan realitas. Bahkan lebih dari itu ada yang bertindak mengonstruksi teks itu sendiri. Jika demikian, bisa dipastikan otonomi teks itu dinafikan malah yang ada hanya keinginan penafsir.

Dengan demikian, dalam kasus-kasus otoritarianisme teks suci akan membawa dampak yang sangat besar, yang dianggap oleh kaum beriman sebagai otoritas ilahi. Padahal sama sekali itu adalah otoritas sang penafsir, pembacaan seperti ini pada akhirnya melahirkan “otoritarianisme moral” yang selalu menganggap lebih baik dari orang lain.

Maka sehubungan dengan itu, toleransi di era digital ini perlu diperkuat. Terlebih-lebih bagi kaum agamawan dengan membuka diri dan mencairkan penafsiran agama agar tidak kaku dan tidak terpisah dengan realitas kekinian. Mendaku paling benar yang lain salah hanya akan menabur benih permusuhan dengan kelompok lain. Para kaum agamawan juga semestinya harus menyadari masayarakat Indonesia itu plural dan homogen. Hidup dengan Islam yang mencair dengan kebudayaan masing-masing disetiap daerah. Itulah salah satu sebab perbedaan penafsiran menjadi keniscayaan dalam implementasi ajaran agama di setiap daerah.

Selain itu, kaum agamawan sudah sepantasnya turut andil menyirami semangat kebangsaan dan kebhinekaan dalam setiap kajiannya. Menebarkan nilai-nilai agama dengan semangat cinta damai. Tidak boleh ada pembenaran apapun, terutama dari sisi doktrin dan teologi agama, terhadap setiap tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama.

Facebook Comments