Modernitas, Kearifan Lokal, dan Benteng Radikalisme

Modernitas, Kearifan Lokal, dan Benteng Radikalisme

- in Suara Kita
321
0
Modernitas, Kearifan Lokal, dan Benteng Radikalisme

“Pelajaran dari kesuksesan negara-negara tersebut mencapai kemajuannya sangat jelas. Masing-masing negara itu mencapai kemajuannya dengan mengindahkan nasihat asing dan mengembangkan strategi mereka sendiri” (Asad Zaman)

Kutipan di atas adalah ulasan dari Asad Zaman, Profesor Ekonomi International Islamic University (IIU) Islamabad, yang ditulis tahun 2008. Asad sejatinya mengulas tentang kegagalan modernisasi yang dipaksakan di berbagai negara, terutama negara-negara non-eropa. Modernisasi yang dipandang membawa era pencerahan, pada akhirnya justru melahirkan eksploitasi, penjajahan, bahkan kejahatan kemanusiaan.

Lebih jauh Asad menyimpulkan, bahwa negara-negara yang mampu meraih kemajuan, justru lahir dari “kesadaran diri, percaya diri, kerja sama, dan metode yang diadaptasi dari kondisi lokal dan budaya”. Dari sini poinnya jelas, bahwa kondisi lokal dan budaya setempat atau local wisdom, adalah prasyarat bagi kemajuan bangsa.

Jika diulas lebih jauh, modernitas bukan hanya gagal membawa kemajuan di beberapa negara, modernitas juga gagal membendung arus radikalisme. Semestinya, jika prinsip modernitas berlaku pasti alias niscaya, maka radikalisme bisa dihilangkan dari muka bumi. Prinsip modernitas menurut Cyril Edwin Black (1991) adalah sikap mental yang maju, berpikir rasional, dan berorientasi ke masa depan. Prinsip ini tentu bertentangan dengan radikalisme, sebab kaum radikal tidak berpikir rasional, tetapi doktriner. Tidak pula berpikir kemajuan, tetapi membawa misi kembali ke masa lalu.

Karena modernitas gagal menghadang radikalisme, maka kearifan lokal (local wisdom) bisa menjadi jawaban. Sebagaimana kearifan lokal berhasil mengantarkan negara mencapai kemajuan, maka bukan tidak mungkin kearifan lokal juga bisa menjadi senjata ampuh untuk membendung radikalisme.

Nilai-Nilai Kearifan Lokal

Setidaknya ada dua alasan yang menguatkan bahwa kearifan lokal bisa menjadi benteng kokoh untuk membendung radikalisme. Pertama, kearifan lokal adalah produk dari masyarakat setempat. Mereka tentu akan memegang teguh terhadap produk tersebut. Hal ini mampu menjadikan filter yang kokoh terhadap kebudayaan yang datang dari luar.

Baca juga : Belajar dari “Desa Damai”: Membangun Ketahanan Sosial dari Kearifan Lokal

Sebagai contoh di Indonesia, banyak kearifan lokal yang merupakan produk dari masyarakat, baik dalam wujud attitude, kesenian, tata nilai bermasyarakat, dan lainnya. Seperti budaya gotong royong, tepo seliro (sopan santun), tepung sanak – sedulur (menjaga silaturahim anak dan saudara), guyub rukun, migunani tumraping liyan (bermanfaat bagi orang lain), dan sebagainya. Semua produk tersebut merupakan attitude yang memang lahir dari masyarakat Indonesia.

Dengan adanya produk budaya tersebut, masyarakat menjadi protek terhadap hal-hal yang datang dari luar dan tidak sesuai dengan budaya lokal. Sehingga, ketika datang nilai yang tidak sesuai, seperti radikalisme yang menawarkan teror, kekerasan, dan aksi anarkis lainnya, masyarakat mudah menolak karena bertentangan dengan tradisi yang ada di Indonesia. Disinilah pentingnya kearifan lokal sehingga perlu untuk terus dilestasikan. Mereka yang terlepas dari budayanya, biasanya akan kehilangan jati diri sehingga mudah terbawa arus dari luar, termasuk arus radikalisme.

Kedua, kearifan lokal ibarat lem perekat yang mempersatukan masyarakat dari beragam latar belakang. Hal ini karena kearifan lokal telah menjadi identitas bersama. Karenanya, sebagaimana pendapat Suminto A. Sayuti, bahwa upaya penggalian kearifan lokal pada dasarnya untuk mencari, dan akhirnya untuk menetapkan identitas bangsa.

Dengan kearifan lokal ini, masyarakat mudah untuk menyatu dan membangun kerjasama, tanpa memandang back ground dari tiap-tiap person. Semua telah menyublim dalam satu identitas, yakni masyarakat Indonesia. Hal ini tentu penting agar bangunan kebangsaan yang sudah kokoh, tetap utuh terpelihara.

Selain menyatu, masyarakat juga mudah mendeteksi sistem nilai yang datang dari luar dan berbeda dengan identitas yang ada, karena satu sama lain saling memahami. Seperti nilai-nilai radikalisme, tentu akan mudah dideteksi oleh masyarakat karena jauh berbeda dengan identitas bangsa. Radikalisme menawarkan permusuhan, sementara masyarakat sudah nyaman dengan perdamaian.

Dua alasan itulah yang mendasari pentingnya melestarikan kearifan lokal untuk membendung arus radikalisme. Kita tidak bisa berharap banyak dari gegap – gempita modernisasi, karena terbukti belum mampu menjadi senjata jitu untuk menghentikan radikalisme. Justru dengan keerifan lokal ini, kita memiliki harapan bahwa radikalisme bisa dipupuskan dan tidak bersemai di Indonesia.

Facebook Comments