Momen Idul Fitri: Menjadi Religius Secara Interreligius

Momen Idul Fitri: Menjadi Religius Secara Interreligius

- in Suara Kita
266
2
Momen Idul Fitri: Menjadi Religius Secara Interreligius

Hiruk pikuk acara Idul Fitri telah usai. Namun suasananya masih terasa hingga hari-hari ini. Kekhasan Idul Fitri adalah budaya saling berkunjung dan memaafkan. Uniknya, di banyak tempat di Indonesia, saling berkunjung dan memaafkan bukan hanya eksklusif dilakukan oleh umat Islam. Non-Muslim pun turut saling memaafkan, terlebih memohon maaf kepada orang-orang tua dan kerabat. Pertemuan keluarga besar pun banyak terjadi selama masa Idul Fitri dimana keluarga dari beragam latar belakang agama juga saling bertemu. Maka tak heran, suasana kebahagiaan Idul Fitri dirasakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Konteks semacam itulah yang membuat seorang teolog Amerika berdarah Vietnam, Peter C. Phan secara khusus mengembangkan teologi interreligius dengan konteks Asia yang ia rumuskan dengan sebutan Being Religious Interreligiously (2004).

Dalam pengamatannya, hidup di Asia, termasuk Timur Tengah, akan selalu mengalami perjumpaan dengan agama yang berbeda. Dilihat dari sejarahnya, kerinduan kepada yang Transenden bertumbuh subur di Asia sehingga memunculkan beragam religiusitas, seperti Hinduisme, Budhisme, Kekristenan, Islam, Yudaisme, Sintoisme, Confusianisme, dll. Apalagi jaman ini, adanya migrasi membuat perjumpaan dengan penganut agama lain menjadi semakin intens. Orang mau tak mau berjumpa, bertetangga, berkawan, dan bekerja sama dengan penganut agama lain.

Menjadi Religius secara Interreligius

Perjumpaan interreligius yang tak dapat dihindari ini menurut Peter C. Phan secara imperatif mengajak orang untuk berdialog. Dialog interreligius bukan sekadar hal yang seharusnya dan sebaiknya terjadi, namun secara inheren terjadi dalam hidup bersama. Dan secara teologis adalah suatu imperatif, hal yang sudah dan selalu ada sebagai keniscayaan untuk dilakukan.

Baca juga : Idul Fitri, Halal bi Halal dan Rekonsiliasi Nasional

Dalam suatu sesi seminar di Rumi Forum, suatu forum dialog interreligius yang mengambil semangat Jalaludin Rumi (1207-1273), Phan menjelaskan bahwa perjumpaan interreligius dapat menempuh tiga jalan: sebagai seorang migran, tuan rumah dan tamu, dan peziarah (2011).

Sebagai migran seorang pendatang akan beradaptasi dengan budaya setempat. Dalam hal ini, dialog interreligius mengajak orang dari iman yang berbeda menyesuaikan diri dengan kebiasaan agama setempat. Sebagaimana relasi tuan rumah dan tamu, yakni orang beriman tertentu akan datang untuk mengenal agama lain. Namun, sebagai tamu ia menyediakan diri menerima apapun yang disediakan (diceritakan) tuan rumah.

Yang terpenting adalah kesamaan sebagai peziarah. Ketika berjumpa dengan tradisi agama lain, seorang penganut agama akan mengenali spiritualitas agama lain. Sebagai seorang peziarah, ia akan belajar spiritualitas tradisi agama lain dan hal itu akan memperkaya spiritualitas agamanya. Hal ini tidak berarti melemahkan keyakinan agamanya, melainkan memberikan tambahan refleksi dari perspektif yang berbeda. Dengan demikian, semakin orang berjumpa dengan agama lain, ia akan menjadi semakin religius.

Konkritnya, sebagai peziarah Katolik, ketika saya turut berpartisipasi dalam Idul Fitri dan ikut saling memaafkan, pandangan teologis Kekristenan yang saya yakini diperteguh. Misalnya ajaran Kekristenan tentang saling memaafkan, makna pengampunan, atau kemaharahiman Allah. Pada poin perjumpaan yang memperkaya inilah, teolog perbandingan agama, Francis X. Clooney dkk menyebutnya sebagai pendekatan baru dalam perbandingan agama (Clooney, The New Comparative Theology, 2010).

Maka, umat beragama di Indonesia dapat saling belajar dan memperteguh imannya masing-masing melalui perjumpaan interrreligius yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

Saling Memaafkan dan Allah Maharahim

Sebagai seorang Katolik, bila diringkas, dua hal yang menyentuh saya dalam Idul Fitri adalah peristiwa saling memaafkan dan kesadaran akan Allah yang Maharahim.

Tradisi saling memaafkan, dalam Kekatolikan merupakan unsur fundamental dalam pertobatan dan pengampunan. Dua hukum utama Kekristenan (Lukas 10:25-28), yakni mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa, dan mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri, dalam bentuknya yang khas terjadi dalam Idul Fitri. Ketika memaafkan, orang mau menerima pertobatan sesamanya dengan lapang dada dan memberi kesempatan kepada saudaranya menjadi lebih baik. Memaafkan juga membebaskan orang yang memaafkan lepas dari kebencian, dendam, dan kesulitan untuk mengasihi sesamanya. Maka, memaafkan menjadi pintu bagi buah-buah kasih yang lain.

Sifat Allah Maharahim yang kentara dalam Idul Fitri mengingatkan akan sifat Allah dan peran umat beragama di dunia nyata. Dalam tradisi Islam, al-Rahman merupakan sebutan hanya untuk Allah. Sebagai al-Rahman, Allah mencintai semua manusia. Dalam keadaan apapun manusia, ia menerima cinta yang sama dari Allah. Cinta itu merupakan rahmat cuma-cuma dari Allah (M. Quraishi Shihab, Asma’ al-Husna vol. 1, 1998:24).

Dalam Gereja Katolik, ketika Paus Fransiskus menetapkan tahun 2016-2017 sebagai tahun Kerahiman Tuhan, yakni tahun yang dikhususkan untuk bertobat dan menerima pengampunan dari Allah, kerahiman Allah disadari merupakan “tanda kemahakuasaan-Nya”. Dengan menerima pengampunan, maka manusia sungguh mengalami bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Selanjutnya, umat Kristiani yang mengalami kasih pengampunan berlimpah itu dipanggil untuk menyebarkan kasih dan pengampunan itu kepada sesamanya (Fransiskus, Misercordia Vultus, 2015).

Maka, terlebih bagi umat Kristiani dan non-Muslim lain, keikutsertaan merayakan Idul Fitri juga menjadi jalan melakukan dialog interreligius untuk menjadi semakin religius. Di sana juga ditemukan undangan dari Puas Fransiskus dan Sheikh Ahmed al-Thayib untuk “berakar dalam nilai-nilai perdamaian, mempertahankan nilai-nilai saling pengertian dan hidup berdampingan secara harmonis; untuk membangun kembali kebijaksanaan, keadilan, dan cinta (Human Fraternity for World Peace and Living Together, Abu Dhabi, 4 Februari 2019).

Facebook Comments