Mudik, Lebaran dan Momentum Merajut Rekonsiliasi Nasional

Mudik, Lebaran dan Momentum Merajut Rekonsiliasi Nasional

- in Suara Kita
216
2
Mudik, Lebaran dan Momentum Merajut Rekonsiliasi Nasional

Budaya mudik lebaran tidak bisa dipisahkan dari Indonesia. Mudik atau dikenal pulang kampung bagi perantau suatu keniscayaan. Kerinduan-kerinduan terhadap kampung halaman, keluarga, tetangga, guru dan teman menjadi semangat untuk pulang. Apapun pekerjaan dan kesibukannya jika tidak dalam kondisi darurat ketika lebaran afdolnya itu mudik bagi perantau.

Orang merantau pada umumnya memiliki beban batin. Pada hakikatnya semua orang pinginnya hidup satu lingkungan dengan keluarga. Hidup ideal yang diharapkan yaitu; rumah satu kampung dengan keluarga dan pekerjaan pun tidak jauh dari rumah. Tetapi ada beberapa keadaan yang membuat seseorang harus merantau, ada faktor ekonomi untuk bekerja dan ada faktor melanjutkan pendidikan di luar kota.

Bagi orang yang bisa mudik lebaran itu suatu keistimewaan. Tetapi bagi orang yang belum diberi kesempatan jangan bersedih. Sadar, sesadar-sesadarnya ketika ditantunkannya takbir sebagai tanda jatuh tanggal 1 Syawal orang yang diperatauan rasa hatinya tersayat-sayat. Seorang perantau ketika mendengar gema takbir, tahlil, tasbih dan tahmid akan terurai air matanya. Gimana tidak tersayat, hendaknya dihari yang fitri mereka ada ditengah-tengah keluarga dengan bertabur kebahagiaan, tetapi nasib berkata lain. Mudiklah ketika diberi kesempatan dan kemampuan oleh Allah SWT.

Ketika ada yang orang bertanya mudik apakah ada dalilnya? Tentu jawabannya ada. Mudik lebaran bisa dimaknai berkunjung kepada sanak famili, khususnya jika orang tua masih hidup, berjumpa kembali dengan teman di masa kecil, bertemu dengan tetangga di kampung. Mana dalilnya? Dalilnya kalau dalam bahasa Indonesia begini, “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di daerah lain. Kemudian Allah mengutus malaikat searah dengan jalan orang tersebut. Malaikat bertanya: “Mau Kemana?” Ia Menjawab: “Saya akan berkunjung ke saudara saya di daerah sini”. Malaikat bertanya: “Apa kamu punya hutang budi?”. Ia menjawab: “Tidak ada. Aku berkunjung kepadanya karena cinta kepada Allah”. Malaikat itu berkata: “Aku adalah utusan Allah untukmu, sungguh Allah mencintaimu seperti engkau mencintainya karena Allah,” (HR. Muslim dan Ibnu Hibban).

Ada hadist lain yang juga menganjurkan budaya mudik atau berkunjung ke tempat saudara, sahabat atau lainnya, terlebih pada momentum Idul fitri. Hadist ini yang artinya berbunyi, “Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah kukabarkan pada kalian tentang penghuni surga?”. Sahabat menjawa: “Ya, wahai Rasullullah”. Beliau bersabda: “Nabi ada di surga. Shiddiq ada di surga. Syahid ada di surga. Anak kecil yang meninggal ada di surga. Dan seorang yang mengunjunggi saudaranya di ujung kota, ia berkunjung kecuali karena Allah, juga ada di surga,” (HR. Tabrani).

Walaupun ada penilaian dhaif terhadap hadist ini, namun teramat banyak dalil yang menganjurkan berkunjung atau mudik. Maka janganlah ragu dengan statement seseorang yang tidak sepakat dengan budaya mudik. Budaya baik ini harus dijaga dan dilestarikan di Indonesia yang terkenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.

Budaya Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah lebaran. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya manusia akan bisa lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hatinya akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa, makanya wajar kalau mau lebaran rumah-rumah banyak yang di labur hal ini mengandung arti pembersihan dhohir disamping pembersihan batin yang telah di lakukan.

Idul Fitri bisa dimaknai hari raya dimana Ummat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah salah satu sunah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadist Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Dari penjelasan hadist ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya Ummat Muslim kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Maka yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi Ummat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di Bulan Ramadan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya. Sebagaimana Sabda Nabi SAW yang Artinya, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.”

Adapun terkait budaya hidangan khas waktu lebaran yaitu ketupat, dalam bahasa Jawa ketupat diartikan dengan ngaku lepat (mengakui kesalahan), bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat “papat lima pancer” yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya yaitu Allah SWT.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi Halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah,” (HR. Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Lebaran tahun 2019 ini sedikit berbeda, perbedaannya menginggat ada perselisihan efek Pemilu. Pergesekan ummat karena efek saling mengkotak-kotak 01 atau 02 karena pilihan perlu langkah kongkrit rekonsiliasi. Rekonsiliasi pada momentum lebaran tentu waktu yang tepat. Adanya kesadaran saling kunjung-mengunjungi keluarga atau tetangga untuk bermaaf-maafan, harapannya tidak ada lagi istilah 01 atau 02 yang ada hanya 03 yaitu Persatuan Indonesia. Budaya silaturahmi yang mengakar rumput tentunya akan memperkokoh persaudaraan nasional.

Facebook Comments