Muhammad, Santri, dan Keterlibatan

Muhammad, Santri, dan Keterlibatan

- in Suara Kita
1275
0
Muhammad, Santri, dan Keterlibatan

Keterlibatan intelektual pernah menjadi perdebat di kalangan akademik seiring dengan tuntutan tanggung-jawab sosial pada sains. Dari sikap ini dapat diketahui bahwa meskipun sains itu, dengan tumbuhnya positivisme, mesti obyektif atau bebas nilai, perkembangannya ternyata tak dapat dilepaskan pula dari kepentingan politik.

Taruhlah teori falsifikasi Karl Raymond Popper yang tercipta karena kondisi totalitarian sebuah sistem politik. Beranjak dari ketertutupan masyarakat komunis, Popper menawarkan sebuah pemecahan dimana ketika sains atau teori-teori di dalamnya sudah menjadi ideologi, maka untuk mendapatkan status ilmiah ia mestilah dapat disalahkan. Tentu, sikap Popper ini bertolak dari sifat ideologi yang seolah tak mengenal ruang dan waktu yang akhirnya ia seolah titah Tuhan yang tak dapat dibantah.

Masyarakat komunis, atau masyarakat-masyarakat totalitarian lainnya seperti khilafah, sudah pasti tak lagi berorientasi pada kebenaran, tapi pada kekuasaan dan ini pun lazimnya hanya bagi segelintir orang. Dengan kata lain, ketika sains sudah menjadi ideologi, maka ia hanya berstatus sebagai anjing pelayan kekuasaan dan bukannya kebenaran.

Tak jauh berbeda dengan sains, agama pun pada dasarnya dapat pula mengalami ideologisasi yang akhirnya akan menciptakan totalitarianisme dan penyelewengan kebenaran dimana fungsinya hanya akan menjadikannya anjing kekuasaan semata. Kisah radikalisme dan terorisme yang berbungkus agama adalah salah satu bukti atas terjadinya ideologisasi agama. Maka, reinterpretasi ataupun ijtihad-ijtihad dalam bidang keagamaan memiliki fungsi laiknya falsifikasi Popperian.

Keterlibatan, dengan demikian, saya kira adalah sebuah kemestian ketika sains dan agama memang berkomitmen pada kebenaran. Pada dasarnya meski sains dan agama sekalipun berupaya melakukan klaim bahwa mereka adalah bebas nilai atau menarik diri dari realitas yang melingkupinya, mereka tetap saja bernoda.

Pada bidang hermeneutika telah lama diyakini bahwa ketika orang berhadapan dengan sesuatu ia tak serta-merta bebas dari asumsi atau frame-frame tertentu. Karena itulah kenapa terhadap satu obyek yang sama misalnya, ada berbagai pendapat atau interpretasi atasnya. Taruhlah Hasan al-Bana dan Ibn ‘Athaillah yang sama-sama membahas konsep cinta dan ridha Tuhan. Ternyata keduanya memiliki kesimpulan dan implikasi yang cukup berbeda. Cinta dan ridha Tuhan ala al-Bana ternyata memicu terbentuknya radikalisme agama, sementara pada ‘Athaillah justru melahirkan konsep dan praktik toleransi atas perbedaan. Dengan kata lain, ketakberpihakan atau sikap menarik diri dari realitas yang melingkupi hanyalah isapan jempol belaka.

Hari Santri yang diperingati di setiap tanggal 22 Oktober adalah bukti keterlibatan agama dan santri pada realitas yang mengitarinya. Agama dan santri ternyata tak selamanya duduk manis di menara gading, bermasturbasi ria dengan surga. Komitmen pada demokrasi, ancaman otoritarianisme, dan tekanan politik identitas serta radikalisme-terorisme saat itu menjadikan para santri serupa dengan Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Dipanegara, pemberontakan kaum tarekat di masa kolonial seperti dalam tilikan Sartono Kartodirjo, dan peristiwa 10 November di Surabaya. Di sinilah, dalam rumusan Popper, para santri tengah melakukan upaya deideologisasi atas agama. Ketika agama pada padasarnya tak pernah bebas nilai, dengan bukti adanya radikalisme-terorisme agama, maka keterlibatan menjadi sebuah kemestian. Bukankah Nabi Muhammad sendiri, seusai pewahyuan dan isra’ mikraj, tak pernah menjadikan agama terpacak anggun di menara gading, luhur dan suci, sejauh keluhuran dan kesucian itu adalah menghindari realitas yang mengitarinya? Maka, masihkah angan kosong agama atas kesucian dan keluhuran akhirat yang ahistoris menjadi pilihan kita?           

Facebook Comments