MUI dan Peran Ulama dalam Melawan Terorisme

MUI dan Peran Ulama dalam Melawan Terorisme

- in Suara Kita
692
0
MUI dan Peran Ulama dalam Melawan Terorisme

Keberadaan kaum radikal di negeri ini sepertinya belum akan berakhir. Wajah Indonesia yang damai dan ramah justru dimanfaatkan sebagai pasar besar persemaian radikalisme. Keragaman agama, suku, etnis dan budaya dimanfaatkan untuk memuluskan hajat kaum radikal, sebagai celah melemahkan integritas bangsa.

Anehnya, dalam rentang yang cukup panjang bercokolnya paham radikalisme di Indonesia yang berusaha mengoyak persatuan, tetap saja ada sebagian masyarakat Indonesia yang masih terpengaruh dan tidak sadar akan bahayanya. Bahwa radikalisme hanya akan mencabik integritas bangsa atau persatuan yang kokoh dan kuat.

Bak hembusan angin semilir, radikalisme bergerak menyusup ke segala ruang. Termasuk dalam struktur pemerintahan dan kemasyarakatan. Satu yang paling diincar adalah organisasi sosial keagamaan dan keulamaan. Tak pelak, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga masyarakat non pemerintah yang menghimpun ulama, zu’ama dan cendikiawan muslim menjadi bidikan prioritas kaum radikal. Ditangkapnya Zain an Najah, salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, semakin menjelaskan hal ini.

Memang, tidak semua pengurus MUI memiliki otoritas untuk disebut ulama. Sebab, gelar ulama hanya pantas disematkan pada orang yang benar-benar memiliki kapasitas ilmu keagamaan yang mapan. Ulama adalah orang yang menguasai secara sempurna paket ilmu agama, seperti tafsir, ilmu hadis, ushul fikih, fikih, mantiq, dan yang paling inti adalah nahwu dan sharaf.

Tidak semua pantas disebut ulama. Tapi, sebagian besar anggota MUI layak disebut ulama. Terutama kader-kader pesantren yang memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan secara baik. MUI, dalam kapasitasnya sebagai lembaga perwakilan umat eksistensinya tetap diharapkan. Fatwa-fatwa MUI, walaupun sifatnya tidak mengikat, namun pengaruhnya sedemikian signifikan bagi masyarakat. Terlebih fatwa dan arahan mereka tentang sikap keagamaan yang condong pada moderasi beragama. Diakaui, selama ini MUI memainkan peran sentral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadi penyumbang besar terhadap integritas bangsa.

Maka, jelas, semisal Zain an Najah adalah orang yang sengaja diboncengkan kepada MUI. Penyusup yang diharapkan dapat memperlancar usaha-usaha persemaian radikalisme dan terorisme di Indonesi karena MUI memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini keagamaan muslim Indonesia. MUI dijadikan tunggangan untuk membenarkan tindakan kelompok intoleran yang membatasi kebebasan beragama dan keyakinan kelompok lain untuk disulut menjadi percikan api permusuhan. Karena itu, tidak boleh melakukan generalisasi bahwa MUI sarang terorisme. Namun, ada teroris yang mencoba menumpang MUI. Maka, langkah yang tepat bukan membubarkan MUI, tetapi mensterilkannya dari orang-orang yang disusupkan oleh kelompok radikal.

Peran Ulama Menghalau Terorisme

Untuk menghalau pertumbuhan terorisme, tidak boleh dengan cara-cara kasar. Karena bila demikian sama saja kita dengan mereka. Namun begitu, hukum negara tetap harus ditegakkan. Pelaku terorisme harus tetap di proses berdasarkan hukum supaya menimbulkan efek jera bagi pelaku dan calon pelaku.

Karena itu, sebenarnya peran ulama sangat dibutuhkan dalam upaya membendung arus radikalisme dan terorisme. Bagaimanapun, hanya orang yang paham agama dengan baik (ulama) yang bisa memilah mana doktrin agama yang benar dan yang salah. Suara mereka lebih didengar oleh masyarakat. Mereka bisa menjelaskan mana doktrin agama yang diselewengkan oleh kaum teroris.

MUI yang memiliki jaringan kuat sampai ke daerah, memiliki peran yang sangat strategis untuk menghalau persemaian radikalisme dan terorisme. Terutama ulama yang berada di akar rumput yang aktivitas keseharian mereka bersinggungan langsung dengan masyarakat. Para ulama di akar rumput menjadi ujung tombak mengahalau para penyebar doktrin kekerasan atau penyelewengan ajaran-ajaran agama dari yang semestinya. Penyebar doktrin kekerasan dan kebencian yang geraknya sangat massif di masyarakat tidak akan berdaya manakala ulama terus aktif dan secara massif pula menjelaskan paham keagamaan yang sesuai dengan misi kenabian yang dirisalahkan kepada Baginda Nabi.

Bagi umat Islam Indonesia secara umum, harus cerdas mencerna dan memfilter doktrin-doktrin keagamaan supaya tidak menjadi korban gerakan radikalisme agama yang berujung terorisme. Harus menyadari bahwa gerakan yang membonceng agama ini dilakukan secara terstruktur, halus dan rapi. Mereka bergerak ibarat api dalam sekam. Memanfaatkan berbagai kesempatan dan media, terutama di media sosial. Mereka juga berkamuflase seperti mendirikan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan. Bila tidak hati-hati pasti akan menjadi korban.

Optimalisasi peran ulama ini tentu harus bersinergi dengan keinginan masyarakat yang bercita-cita memahami ilmu agama secara benar. Peran ulama menjadi efektif apabila dilakukan secara bersama-sama, terintegrasi dan terkoneksi dengan semua elemen masyarakat. Kaum awam yang dalam hal ini sangat membutuhkan pengetahuan agama secara benar, harus belajar kepada ulama dan tidak menunggu fatwa mereka. Datang atau mendengarkan penjelasan dari para ulama yang memang memiliki kapasitas sebagai orang-orang yang pantas disebut ulama. Baik dari sisi keilmuan maupun sanadnya.

Ini penting karena agama adalah riwayat bukan hikayat. Ajaran agama adalah riwayat yang turun temurun ditransformasikan sejak dari Rasulullah melalui ulama-ulama hingga hari ini. Ajaran agama bukan dugaan-dugaan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan, apalagi penafsiran seenak perut orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Seperti kaum radikal yang menafsirkan ajaran agama secara parsial dan tidak utuh. Sebuah distorsi terhadap ajaran agama yang berimplikasi terhadap terjadinya penafsiran sepihak. Akibatnya, intoleransi, merasa benar sendiri, takfiri dan seterusnya. Finalisasi pemahaman seperti ini ujungnya pasti terorisme. Dan, segala upaya akan dilakukan, termasuk menumpang di MUI.

Facebook Comments