Mungkinkah Dakwah tanpa Menyakiti Keyakinan yang Berbeda ? Belajarlah pada Sunan Kudus

Mungkinkah Dakwah tanpa Menyakiti Keyakinan yang Berbeda ? Belajarlah pada Sunan Kudus

- in Suara Kita
219
0

Ja’far Shadiq atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus lahir dari keluarga bangsawan Kerajaan Demak. Sebenarnya Sunan Kudus memiliki jalur keturunan dengan Nabi Muhammad melalui jalur keturunan Husain bin Ali RA. Ayah Beliau merupakan senopati atau panglima Kerajaan Demak. Usai ayahnya meninggal, Ja’far Shadiq menggantikan jabatan ayahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Demak.

Melalui posisi senopati itulah, Ja’far Shadiq menyebarkan Islam di wilayah Demak. Bersamaan dengan jabatannya menjadi senopati, Ja’far Shadiq juga dipercaya sebagai imam besar masjid agung Demak. Namun memang dahulu masyarakat Nusantara masih banyak yang memeluk agama selain Islam, termasuk salah satunya adalah agama Hindu. Seperti cerita sunan yang lainnya, metode dakwah Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal terhadap adat dan kebiasaan masyarakat yang masih lekat.

Menariknya, dakwah Sunan Kudus mampu menghormati keyakinan lama masyarakat Kudus. Dalam menyebarkan Islam, Sunan Kudus mampu menghormati agama yang banyak dianut oleh masyarakat asal. Beberapa cara Sunan Kudus menghormati tradisi salah satunya dengan cara tidak menyembelih sapi yang di puja oleh umat hindu. Bukankah tidak masalah dengan menyembelih bukan sapi? Apakah kurban harus dengan sapi? Jika memang tidak harus memilih menghormati perbedaan dan merawat kerukunan agar Islam juga bisa diterima dengan cepat adalah pilihan yang rasional dan arif.

Dalam banyak perayaan Sunan Kudus tidak pernah menyembelih sapi karena Beliau takut akan melukai hati pemeluk Hindu saat itu, dan sebagai ganti sapi, Sunan Kudus memilih untuk menyembelih kerbau sebagai gantinya. Mengorbankan keragaman dan kerukunan dengan ajaran yang sebenarnya tidak kaku harus dipertimbangkan.

Terdapat sebuah kisah inspiratif lainnya yang mengisahkan ketika Sunan Kudus melakukan perjalanan, beliau merasakan dahaga. Namun sayangnya air yang dibawanya telah habis di perjalanan. Lantas seorang pendeta Hindu melihat beliau kehausan kemudian iapun memberikan air susu sapi yang baru saja di perasnya kepada Sunan Kudus.

Sebagai rasa terima kasih Sunan Kudus, masyarakat di Kudus dilarang menyembelih binatang sapi. Jadi bisa dianggap bahwa pelarangan ini merupakan bentuk peghormatan toleransi dalam beragama. Sikap saling menghormati inilah yang membuat Islam dan Hindu mampu hidup di tempat yang sama tanpa ada perpecahan di dalamnya.

Sunan Kudus terkenal dengan ulama yang kokoh dalam memegang teguh prinsip yang di pegangnya. Beliau juga merupakan panglima perang dan ahli dalam berpolitik. Meski begitu beliau juga merupakan ulama dengan tingkat toleransi tinggi dengan tidak menyembelih sapi untuk menghormati Kiai Telingsing yang merupakan guru Sunan Kudus dari etnis China bernama asli The Ling Sing.

Islam merupakan agama rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi semesta alam). Islam seharusnya mampu membawa nilai dan pesan yang bisa masuk kemanapun ia berada. Islam seharusnya merawat bukan malah merusak. Dan Islam harusnya menyatukan masyarakat bukan memecah belah masyarakat. Itulah metode dakwah yang arif yang ditampilkan oleh penyebar dan da’i di masa lalu yang semestinya tetap menjadi paradigma berdakwah di nusantara yang plural saat ini. Hingga sekarang, ajaran dan metode dakwah Sunan Kudus masih dianut oleh sebagian masyarakat Kudus. Sunan Kudus ingin setiap pemeluk agama bergandengan tangan membangun kesucian dengan keyakinan dengan cara masing-masing. Agama justru menguatkan kerukunan bukan merusak kerukunan.

Facebook Comments