Mungkinkah Idul Fitri Menjadi Momentum Rekonsiliasi Nasional?

Mungkinkah Idul Fitri Menjadi Momentum Rekonsiliasi Nasional?

- in Suara Kita
192
0
Mungkinkah Idul Fitri Menjadi Momentum Rekonsiliasi Nasional?

Wacana rekonsiliasi nasional akhir-akhir ini menyeruak. Banyak media massa mengangkatnya. Di media sosial, misalnya, masyarakat Indonesia juga banyak membicarakan rekonsiliasi. Ini sebagai upaya positif dan pra-kondisi sebelum MK nanti mengumumkan hasil sengketa Pilpres 2019.

Hasil penelusuran untuk periode 21-27 Mei 2019 di media sosial, utamanya Facebook, Instagram, Twitter dan Youtube, pembicaraan tentang rekonsiliasi didominasi sentimen positif sebesar 53,2 persen. Sementara itu, pembicaraan tentang rekonsiliasi untuk sentimen negatif sebesar 15,6 persen dan 31,2 persen netral.

Ini artinya, rekonsiliasi nasional mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat di media sosial. Mereka sudah bosan dengan perpecahan dan keributan mengenai Pilpres 2019. Konflik akibat perbedaan pandangan dan pilihan politik harus diakhiri.

Menurut mereka, rekonsiliasi kedua pasangan Capres dan Cawapres sangat penting untuk menciptakan persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun demikian, rekonsiliasi dapat dilakukan setelah MK mengumumkan hasil sengketa Pilpres 2019. Setuju, apapun hasil sidang sengketa Pilpres 2019 di MK harus dihormati dan diikuti. Semua pihak juga harus legawa.

Bagi mereka, ibu kandung rekonsiliasi adalah keadilan dan jangan harap rekonsiliasi lahir jika tak ada ibu kandungnya. Tak heran, mereka menanyakan mengenai para pendukung paslon 02 yang satu per-satu menjadi tersangka seperti Mustofa Nahra dan lain-lain. Perlakuan itu mereka bandingkan dengan para pendukung paslon 01 seperti Permadi Arya dan lain-lain.

Mereka berharap rekonsiliasi nasional juga dilakukan di tingkat grass root seperti para pendukung dan buzzer-nya. Media sosial pada Pilpres 2019 lebih riuh dibanding Pilpres 2014 lalu. Perang opini di media sosial juga lebih ramai, meski hoaks semakin meningkat.

Selama April 2019, misalnya, Kementerian Kominfo menemukan 486 hoaks. Sebanyak 209 hoaks termasuk kategori politik. Hoaks politik yang dimaksud seperti kabar bohong yang menyerang parpol peserta pemilu, KPU, Bawaslu serta pasangan Capres dan Cawapres. Hoaks itu menyebar lewat WhatsApp, Facebook, Instagram, dan lainnya.

Hari raya Idul Fitri 1440 H menjadi momentum baik untuk kembali merekatkan ukhuwah sesama bangsa Indonesia. Terlebih, sebelumnya Bangsa Indonesia telah menggelar Pilpres 2019. Suasananya serupa dengan medan ‘perang’ bagi para pendukung kubu 01 dan 02. Meski yang dimaksud bukan perang fisik, tapi suhunya sangat panas.

Rasulullah Saw. (sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim) bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa? Yaitu engkau damaikan orang-orang yang bertengkar; dan barangsiapa yang ingin panjang usia dan banyak rezeki, sambungkanlah silaturahmi”. Hadist ini menggambarkan betapa pentingnya silaturahmi dan menghubungkan kasih sayang.

Rekonsiliasi nasional merupakan ajang mendamaikan orang-orang yang ‘bertengkar’ dan menyambung silaturahmi. Sebutan cebong dan kampret untuk pendukung Capres dan Cawapres tertentu saatnya disudahi. Jika pendukung Prabowo-Sandi, maka tak boleh menyebut pendukung Jokowi-Amin dengan sebutan cebong. Jika pendukung Jokowi-Amin, maka tak boleh menyebut pendukung Prabowo-Amin dengan istilah kampret.

Saatnya juga kita saling meminta maaf dan memaafkan terhadap segala kesalahan. Kita bisa menemui atau menghubungi langsung orang-orang yang pernah berseteru dengan kita karena perbedaan pilihan politik pada Pilpres 2019. Beda pandangan dan pilihan politik hal wajar, tapi silaturahmi yang terputus tidaklah wajar.

Hal yang sama juga perlu dilakukan oleh para Capres dan Cawapres, Tim Kampanye Nasional serta Badan Pemenangan Nasional. Mereka bisa menemui atau kontak langsung untuk saling meminta maaf dan memaafkan selama Pilpres 2019 terjadi. Lagipula, politik itu dinamis, mungkin tahun ini berseteru, tahun depan bersekutu, sehingga tak perlu bermusuhan secara berlebihan.

Jika hari raya Idul Fitri tiba, maka hendaklah kita bertasbih. Kalimat takbir, menurut Quraish Shihab, adalah satu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah fundamental keimanan dan aktivitas manusia. Kesatuan-kesatuan itu, pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk meski berbeda-beda tapi semua diciptakan dan dibawah kendali Allah Swt. Kedua, kesatuan kemanusiaan. Semua sama kemanusiaannya, sama-sama harus dihormati kemanusiaannya.

Kemudian, ketiga, di pusat tauhid beredar juga kesatuan bangsa. Kata Quraish Shihab, meski mereka berbeda agama, dan suku, berbeda kepercayaan atau pandangan politik, mereka semua bersaudara, dan berkedudukan sama dari kebangsaan. Karena itu, Nabi Muhammad Saw memperkenalkan istilah “Lahum Ma Lanaa Wa ‘Alaihim Maa ‘Alaina”.

Jelas, Idul Fitri momentum merekatkan kesatuan bangsa. Lebaran setelah Pilpres 2019 jadi ajang untuk rekonsiliasi nasional dalam bentuk saling meminta maaf dan memaafkan. Tak ada lagi cebong dan kampret, yang ada adalah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Selamat melakukan rekonsiliasi nasional.

 

Facebook Comments