Muslim Intoleran karena Gagal Memahami Al Qur’an

Muslim Intoleran karena Gagal Memahami Al Qur’an

- in Suara Kita
1099
0
Muslim Intoleran karena Gagal Memahami Al Qur'an

Al Qur’an merupakan sumber dalil pertama dalam agama Islam. Referensi paling kuat dan utama. Kitab terakhir yang diturunkan ke bumi ini sangat universal dan syamil. Mencakup segala hal. Memuat pesan, tuntutan dan jalan terbaik dari Allah. Berisi aturan-aturan tentang aqidah, ibadah, sosial, kisah-kisah teladan, hukum, ilmu pengetahuan dan segala aspek kehidupan cantum di dalamnya.

Namun untuk memahami pesan-pesan yang terkandung di dalam al Qur’an harus melalui proses telaah mendalam terhadap ayat-ayatnya dengan perangkat yang memadai. Al Qur’an  bisa berfungsi sebagai pedoman kalau sukses memaknainya secara benar dan mendalam. Kalau tidak, ia tak ubahnya kitab yang hanya bisa dibaca tanpa mengetahui apa maksudnya.

Salah satu yang sering gagal dipahami oleh seorang mukmin adalah pesan-pesan moral tentang kemanusiaan. Tentang persaudaraan, bagaimana menyikapi perbedaan, dan Ihsan (berbuat baik) kepada semua ciptaan Allah. Kegagalan seperti ini yang mendorong seseorang meskipun mengaku sebagai mukmin kemudian melakukan tindakan yang sebenarnya dilarang. Seperti tindakan intoleransi.

Tentang kemanusiaan, al Qur’an (Al Mumtahanah: 8-9) telah membeberkan secara lugas dan jelas. Dua ayat ini, tegas mengatakan bahwa Islam sangat menganjurkan sikap toleransi, tolong menolong, dan hidup bersama secara harmonis dan damai dengan semua manusia tanpa melihat agama, ras, bahasa dan golongan. Kebalikannya, dua ayat ini melarang seorang muslim untuk bertindak sebagai Tuhan, muslim yang menuhan: memonopoli kebenaran dan mengkafirkan selainnya.

Imam Syaukani menjelaskan, Allah tidak melarang muslim untuk berbuat baik kepada kafir dzimmi, yaitu non muslim yang mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Islam dan tidak membantu non muslim yang lain untuk memerangi umat Islam. Juga tidak melarang bersikap adil dalam bermuamalah dengan mereka. Penjelasan senada disampaikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Ayat lain yang berisi perintah supaya mukmin harus toleran secara eksplisit ada apad surat Yunus: 99. Bahwa perbedaan keimanan (keyakinan) merupakan sunnatullah, sesuatu yang dibiarkan oleh Allah. Padahal kalau Dia berkehendak, mudah saja menyatukan manusia dalam satu imam. Bahkan, ayat ini ditutup dengan kalimat sindiran kepada umat Islam, “Hendak kau paksa mereka supaya beriman”?.

“Tidak ada paksaan dalam agama” (al Baqarah: 256) adalah ayat berikutnya yang melarang tindakan intoleransi. Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat qital (perang). Namun dengan tegas ditolak oleh Imam al Thabari dalam tafsirnya. Menurut Al Thabari ayat ini turun dengan musabab khusus namun berlaku umum.

Begitulah, al Qur’an menganjurkan toleransi tapi gagal dipahami oleh sebagian umat Islam saat ini. Bahwa intoleransi timbul dari kekerdilan iman dan pikiran tidak pernah disadari. Mereka lupa kalau al Qur’an (surat al An’am: 108) menekankan signifikansi penghormatan kepada iman orang lain. Bahkan, andaipun dengan nyata mengetahui sekelompok atau agama tertentu itu sesat, tetap harus menghormati dan hidup harmoni.

Telah cukup jelas, toleransi merupakan gagasan al Qur’an dan intoleransi adalah larangannya. Kenistaan terhadap keimanan dan keyakinan orang lain hanya mengundang orang lain untuk melakukan kenistaan yang sama. Bila demikian, kita gagal untuk menjadi pribadi sebagai muslim yang mengemban misi rahmat bagi semesta yang dengannya orang akan tertarik pada agama Islam.

Al Qur’an cukup jelas memberikan solusi bagaimana cara mengikis intoleransi sebagai penyakit kemanusiaan yang menjadi penghalang untuk hidup harmoni. Maka dapat disimpulkan, bahwa muslim yang intoleran karena tidak memahami secara sempurna al Qur’an sebagai kitab pedoman utama dan referensi paling kuat dalam agama Islam.

Facebook Comments