Narasi Cinta Tanah Air dalam Teks Pesantren

Narasi Cinta Tanah Air dalam Teks Pesantren

- in Suara Kita
129
1
Narasi Cinta Tanah Air dalam Teks Pesantren

Jauh sebelum semangat cinta tanah air seringkali didengungkan dan mendorong kemunculan kitab maupun buku tentang bela tanah air dari tengah-tengah pesantren, pesantren sudah terlebih dahulu memasukkan kitab yang mengulas perihal cinta tanah air dalam kurikulum mereka. Hal ini menjadi menarik sebab tak banyak kitab yang dijadikan kurikulum pesantren yang mengulas tentang cinta tanah air seperti kitab ini. Kitab yang penulis maksud adalah kitab Tahliyah wat Targhib fi Tarbiyah wat Tahdzib, yang menjadi kurikulum pelajaran akhlak di pesantren besar salah satunya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Kitab Tahliyah wat Targhib disusun oleh Sayyid Afandi Muhammad. Salah seorang ulama’ berasal dari Mesir yang hidup di masa akhir kekuasaan kekhalifahan utsmaniyah Turki di Mesir, sebelum kemudian diduduki Inggris. Kitab yang berdasar cetakan Kubra al-Amiriyah 1314 H berjumlah 37 halaman ini, merupakan kitab pelajaran akhlak yang bisa disebut “lebih modern” dari kitab akhlak lainnya seperti Washaya, Taisirul Kholak terlebih Ta’limul Mutaallim. Sebab kitab ini sudah memasukkan perihal soal perlunya olah raga dan tata letak yang baik untuk tempat tinggal.

Salah satu hal yang diulas dalam kitab ini adalah perihal cinta tanah air. Keberadaan bab ini tentunya sedikit banyak memberi wawsan kepada santri tentang cinta tanah air. Dan membentuk mereka sebagai pribadi yang tak hanya berfikir bagaimana menegakkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat, tapi juga memelihara tanah air sebagai wasilah lancarnya mengamalkan Agama Islam. Sehingga menjadi sosok yang terbuka lebar terhadap rekonsiliasi penerapan Syariah Islam di sebuah negara yang berisi berbagai agama dan keyakinan.

Kitab Tahliyah mengulas isu tersebut dalam empat judul bab yang bila disimpulkan berisi: 1) Pengertian tentang tanah air; 2) Bentuk cinta tanah air; 3) Prilaku-prilaku utama sebagai bentuk cinta tanah air; dan 4) Menerangkan orang yang cinta tanah air bukannya orang yang sama sekali tidak keluar dari tanah airnya. Dalam tulisan ini akan disampaikan secara ringkas isi masing-masing bab.

Pertama, Sayyid Afandi mendefinisikan tanah air sebagai tempat lahir, tumbuh dan dalam satu waktu menikmati kekayaan alamnya, seperti hewan, tumbuhan, udara dan sumber airnya.

Baca juga : Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

Kedua, bentuk cinta tanah air dibedakan antara orang belum dewasa dan sudah dewasa. Bagi yang belum dewasa, bentuk cinta tanah air adalah dengan mentaati perintah orang tua serta guru. Sedang bagi yang sudah dewasa, bentuk cinta tanah airnya adalah mengabdikan jiwa, raga, harta dan segala hal bermanfaat yang mampu dilakukannya dengan pilihan serta keinginannya sendiri, untuk kemaslahatan tanah kelahirannya. Dan mendahulukannya daripada kebutuhan pribadi.

Ketiga, wujud cinta tanah air yang paling penting berbentuk kesungguhan dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan yang memungkinkan diri dalam mengabdi pada tanah air. Dan berbagi ilmu serta pengetahuan melalui mengarang buku-buku, melalui tindakan mencetak serta menerbitkan. Dan cinta mengajar, memperbanyak madrasah-madrasah, perpustakaan serta menolong orang-orang faqir yang hendak belajar. Dan selainnnya yang bersifat menolong kesemuanya dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang bermanfaat pada negeri. Seperti memajukan pertanian, pertukangan dan perdagangan.

Keempat, beliau menepiskan pandangan bahwa orang yang cinta dengan tanah airnya bukanlah orang yang tak pernah keluar dari tanah airnya. Dengan judul “Orang yang cinta tanah air bukanlah orang yang tidak keluar dari tanah air” beliau menyatakan:

“Orang yang sungguh-sungguh mencintai tanah air adalah orang yang keluar dari tanah airnya demi memperoleh berbagai manfaat dan hal berguna yang bermanfaat bagi tanah airnya. Ia keluar dengan cara bepergian ke kota lain dan tempat jauh demi memperoleh ilmu, perdagangan dan pekerjaan. Atau ia  membawa keluar barang-barang yang melebihi kebutuhan dan kecukupan dari kotanya, membawanya bepergian ke tempat-tempat lain, (menjual) lalu membawa keuntungannya kembali ke tanah air.”

Facebook Comments