Negara Tidak Boleh Diam dengan Adanya Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah-Belah

Negara Tidak Boleh Diam dengan Adanya Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah-Belah

- in Suara Kita
188
0
Negara Tidak Boleh Diam dengan Adanya Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah-Belah

Perihal, kasus Ustadz Abdul Somad yang dideportasi dari Singapura, dengan alasan jejak ceramahnya yang bernuansa segregasi, intolerant dan pemecah-belah. Saya rasa ini mutlak, sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebab tindakan ini murni atas kewaspadaan nasional dari negara Singapura. Untuk tidak mudah memberikan ruang-masuk terhadap siapa-pun itu yang telah diamati sebagai “oknum” yang sangat berpotensi merusak keharmonisan dan persatuan di tengah perbedaan. 

Hal ini sebetulnya menjadi pelajaran kepada kita sebagai negara Indonesia. Bahwa, negara tidak boleh diam dan bahkan tidak boleh “kecolongan”. Dengan maraknya oknum-oknum para penyebar narasi ceramah atau narasi provokasi yang bernuansa segregasi, intoleransi dan pemecah-belah itu. Negara harus tegas, untuk tidak memberikan panggung bagi siapa-pun yang pernah dan akan berpotensi merusak stabilitas NKRI yang kita cintai ini.

Sebab, semenjak kasus ceramahnya Ustadz Abdul Somad viral, perihal pernyataannya tentang salib dianggap yang dianggap tempatnya Jin itu hanya berakhir-selesai dengan klarifikasi. Begitu juga tentang ceramahnya perihal bom bunuh diri yang dianggap syahid dan ceramah lainnya yang mengerucut pada praktik ekstremisme, kontra-keharmonisan dan intoleransi juga berakhir pada klarifikasi saja.

Artinya, kita masih begitu mudah meringankan diri dan bahkan berlapang dada hanya karena (meminta maaf dll) lalu abai dengan narasi-narasi yang sejatinya akan mengorbankan NKRI ini. Sebab, di setiap ada narasi yang berpotensi merobek keharmonisan, persatuan dan memecah-belah keragaman itu selalu berakhir pada klarifikasi dan itu selesai tanpa ada sanksi yang tegas perihal itu. Lalu, mereka yang pernah melakukan itu dapat panggung lagi dan lagi. Tanpa ada hukuman seperti dilarang berceramah lagi dan ada semacam sangsi sosial. Agar, bangsa ini benar-benar bersih dari narasi segregasi, intoleransi dan pemecah-belah.

Bahkan, saya cukup kagum dengan ketegasan negara Singapura yang kita anggap “negara kecil” tetapi begitu sensitif dan membangun semacam catatan black list terhadap siapa-pun yang boleh masuk dan tidak boleh masuk ke Singapura. Sebagaimana dalam konteks tidak dibolehkannya ustadz Abdul Somad masuk ke negara Singapura sebetulnya atas dasar dan pertimbangan yang jelas. Yaitu melihat jejak ceramahnya Beliau yang pernah menyampaikan sesuatu yang bisa memecah-belah dan penuh intoleransi.

Maka, sebagai negara yang multi-etnis-ras, Singapura memiliki kebijakan untuk tidak memberikan izin terhadap penceramah yang berasal dari WNI tersebut. Dengan alasan demi keamanan nasional atas narasi yang bisa memecah-belah dan merusak keharmonisan sosial di tengah perbedaan. Jadi, tidak ada alasan atau-pun perdebatan lagi perihal dideportasinya ustad Abdul Somad itu dengan alasan yang telah dikemukakan tadi. Tentunya, Indonesia tidak berkah untuk mengintervensi apalagi memperdebatkan persoalan deportasi itu.

Tetapi, sekali lagi ini menjadi satu pelajaran penting bagi kita sebagai negara Indonesia. Dengan harapan, negara tidak boleh diam dan bahkan tidak boleh kecolongan dengan adanya oknum-oknum penyebar narasi intoleransi, segregasi dan pemecah-belah itu. Perlu adanya semacam kebijakan atau sangksi sosial bagi oknum penceramah atau siapa-pun untuk tidak diberikan panggung lagi. Semata demi menjaga NKRI ini.            

Jangan sampai, kasus dideportasinya ustadz Abdul Somad justru menjadi phobia masyarakat Dunia dan bahkan menjadi semacam image buruk. Menganggap bahwa Indonesia selalu dicurigai sebagai tempat atau lumbung para penyebar narasi intoleransi, ekstrimisme-radikalisme dan pemecah-belah. Maka, untuk itu, negara tidak boleh tinggal diam dan tidak boleh kecolongan dengan mereka para penyebar narasi intoleransi, segregasi dan pemecah-belah yang masih berkeliaran mencari panggung, guna meracuni umat.

Facebook Comments