NII dan Metamorfosis “Bughat” dalam Islam

NII dan Metamorfosis “Bughat” dalam Islam

- in Suara Kita
651
0
NII dan Metamorfosis “Bughat” dalam Islam

Organisasi NII (Negara Islam Indonesia) ibarat mitos yang melegenda. Keberadaannya secara nyata sukar dibuktikan. Namun, sepakterjangnya mengkhawatirkan. Seperti ramai diperbincangkan akhir-akhir ini ketika 59 warga Garut yang kebanyakan remaja berbaiat pada NII. Kejadian serupa bukan pertama kali terjadi. Di era pasca-Reformasi ketika keran kebebasan terbuka lebar, cerita ihwal anggota masyarakat berbaiat pada NII bukan lagi mengejutkan.

Belum ada data pasti berapa jumlah anggota NII di Indonesia saat ini. Ada yang menyebut 160 ribu. Ada yang menyebut 2 juta. Bahkan ada yang menyebut 60 juta orang telah menjadi simpatisan NII. Barangkali tidak penting statistik atawa jumlah pengikut NII di Indonesia. Lebih penting dari itu semua ialah menutup ruang gerak organisasi NII dengan ideologi makar-nya yang diklaim atas nama agama.

Jika dilihat seksama, sejak awal berdirinya NII ini ialah gerakan pemberontakan bermotif politik kekuasaan. NII lahir dilatari oleh kekecewaan RM. Kartosoewirjo atas perjanjian Renville antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Dilatari kekecewaan itulah Kartosoewirjo mendeklarasikan Negara Islam Indonesia dan berperang memisahkan diri dari NKRI. Di dalam Islam, fenomena ini disebut sebagai bughat, yakni tindakan melawan pemerintahan yang sah. Hukum Islam atas bughat sendiri jelas; haram. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan aliran mainstream dalam Islam, bughat merupakan tindakan pemberontakan dengan kekerasan atas kekuasaan yang sah dan hukumnya haram.

Sepanjang sejarah, kelompok bughat ini selalu ada. Di masa khulafaurrasyidun muncul kelompok bughat yang lantas populer disebut sebagai Khawarij. Kelompok ini muncul di tengah konflik politik antara Ali bin Abi Thalib dan Usman bin Affan. Kelompok Khawarij dikenal dengan doktrinnya la hukma illa lillah, yakni tidak ada hukum (kebenaran) kecuali dari Allah. Penafsiran literalistik atas ayat tersebut telah melahirkan perilaku toleran dan kekerasan dalam Islam.

Kelompok Khawarij memang telah musnah, namun ideologi “bughat” senantiasa bermetamorfosis dalam beragam bentuk di dunia Islam. Dalam konteks Indonesia kontemporer, salah satu perwujudan gerakan bughat itu ialah NII. Hal ini dapat disimpulkan dari setidaknya tiga hal. Pertama, NII mengajarkan kebencian, permusuhan dan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah melalui cara-cara kekerasan. NII mengajarkan bahwa semua kelompok yang berbeda dengan mereka ialah kafir yang wajib diperangi. Ketiga, NII mengajarkan bahwa bentuk ideal negara dalam Islam ialah darul Islam (negara Islam). Maka segala bentuk negara selain darul Islam ialah thaghut.

Dua Pendekatan Melawan “Bughat”

Di dalam Islam, kelompok bughat harus dilawan dengan mengedepankan dua pendekatan, yakni represif dan persuasif. Pendekatan represif dipakai ketika kelompok bughat itu sudah mengangkat senjata dan melakukan tindakan kekerasan dalam melawan pemerintahan yang sah. Jika sudah demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali diperangi dengan memaksimalkan kekuatan militer.

Sebaliknya, pendekatan persuasif dipakai jika kelompok bughat itu belum mengangkat senjata dalam memberontak, namun baru sebatas melontarkan wacana pemberontakan atau makar. Jika masih pada tahap wacana, maka kelompok bughat idealnya diatasi dengan cara persuasif dengan mengedepankan cara-cara non-militer atau non-kekerasan.

Dalam konteks NII harus diakui bahwa organisasi itu berada di tengah-tengah (in between) dalam hal makar atau memberontak. Di satu sisi harus diakui bahwa keberadaan NII ikut andil menyumbang maraknya pelaku bom bunuh diri mengatasnamakan agama yang terjadi di Indonesia utamanya pasca-Reformasi. Banyak fakta menunjukkan bahwa para bomber bunuh diri memiliki afiliasi atau setidaknya pernah tergabung di dalam NII. Namun, harus diakui pula bahwa tidak semua anggota atau simpatisan NII memiliki kecenderungan berbuat kekerasan dan teror. Banyak anggota NII yang hanya ikut-ikutan atau terjebak masuk ke dalam organisasi tersebut.

Maka, diperlukan langkah yang bijak dalam hal ini. Kepada mereka anggota NII yang memang sudah merencanakan apalagi melakukan aksi pemberontakan, maka pendekatan hukum dan keamanan ialah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Sebaliknya, bagi anggota NII yang terjebak atau hanya ikut-ikutan tanpa bermaksud meradikalisasi diri, maka dibutuhkan pendekatan kultural dan sosial untuk mengembalikan mereka ke pangkuan NKRI. Dalam hal ini, metode deradikalisasi ialah pilihan paling tepat dan efektif. Deradikalisasi para anggota dan simpatisan NII wajib dilakukan pemerintah bekerjasama dengan elemen masyarakat sipil.

Facebook Comments