NII, Terorisme dan Penyebab Islamofobia

NII, Terorisme dan Penyebab Islamofobia

- in Suara Kita
935
0
NII, Terorisme dan Penyebab Islamofobia

Baru-baru ini publik kembali dikejutkan dengan informasi pembaiatan 59 orang di Garut oleh organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Kelompok ini memang kerap melakukan gerakan bawah tanah untuk merekrut dan mendoktrin masyarakat terutama anak-anak muda dengan mimpi negara Islam. Kejadian ini membuktikan bahwa ideologi dan justifikasi Islam kerapkali digunakan untuk mimpi kepentingan politik yang tidak pernah pudar.

Pelajaran penting dari gerakan NII adalah langgengnya ideologi. Meskipun organisasi telah bubar, tetapi ideologi tetap kokoh dan terus melakukan gerakan. Rekrutmen, indoktrinasi hingga pembaiatan adalah hal lazim dalam organisasi yang kerapkali mengatasnamakan agama. Bukan tidak mungkin, beberapa organisasi yang telah dibubarkan negara karena bertentangan dengan falsafah Pancasila sejatinya masih hidup secara ideologis dan gerakannya di tengah masyarakat.

Agama memang kerap dijadikan justifikasi, bahkan dalam kadar tertentu dimanipulasi sebagai ideologi dan tujuan politik. Istilah keagamaan yang kerap dieksploitasi dan dimanipulasi oleh kelompok tertentu kerap menimbulkan stigma dan citra buruk terhadap agama itu sendiri. Hal paling nyata seperti dalam kasus terorisme. Agama kerap dijadikan alat propaganda dan doktrin untuk melakukan rekrutmen dan aksi kekerasan. Akhirnya, terorisme menjadi fitnah terhadap agama.

Karena terorisme salah satunya menggunakan agama sebagai topeng sehingga ketika ada kejadian penanggulangan teror seolah menstigmatisasi agama. Muncullah narasi memusuhi agama dan bahkan dalam kasus Islam muncul istilah islamofobia. Padahal sejatinya, penanggulangan terorisme bukan anti agama, tetapi menyelematkan agama dari manipulasi kejahatan oleh oknum yang mengatasnamakan agama.

Atas dasar inilah, kita mendengar twit dari seorang politisi yang cukup terkenal dengan pernyataan kontroversialnya, Fadli Zon. Tokoh ini memang kerap melontarkan kritik yang cukup dikagumi oleh pengikutnya. Kali ini dia menyoroti istilah islamofobia dalam penanggulangan terorisme. Intinya ia menyarankan lembaga anti teror seperti Densus 88 dibubarkan karena menyebarkan narasi islamofobia. Tentu Fadli Zon dalam kapasitasnya mengkritik, walaupun dalam kadar tertentu yang sudah menebar asumsi dan bahkan provokasi.

Sejatinya Fadli Zon lupa yang menyebabkan islamofobia subur adalah kelompok yang kerap menggunakan term agama untuk kepentingan politik dan kekerasan. Pagelaran teror ataupun doktrin ideologis seperti NII adalah kelompok yang menyebabkan Islam menjadi buruk. Tetapi kenapa orang tidak mengkritik pelaku teror sebagai penyebab islamofobia atau mengkritik kelompok yang kerap menjadikan agama sebagai topeng kejahatan?

Islamofobia adalah respon balik dari dampak perilaku oknum yang kerap mengatasnamakan Islam dengan tindakan yang tidak islami. Pemahaman yang dangkal terhadap Islam dan eksploitasi ajaran Islam demi kepentingan politik kerap menjadi fitnah bagi Islam itu sendiri. Baik sikap islamofobia dan oknum yang mengatasnamakan Islam demi kepentingan politiknya adalah musuh besar agama. Keduanya adalah penebar fitnah bagi Islam.

Karena itulah, dalam konteks penanggulangan terorisme dan gerakan mengatasnamakan Islam untuk kepentingan politi merupakan upaya yang harus dimaknai tidak hanya menjaga keamanan masyarakat, tetapi membela Islam agar tetap memancarkan ruh rahmatan lil alamin. Narasi islamofobia terhadap penanggulangan terorisme adalah narasi yang sejatinya ingin membela kelompok yang seringkali mengeksploitasi agama. Apalagi tuntutan membubarkan lembaga anti teror sejatinya bagian dari proxy kelompok teror itu sendiri.

Tidak ada sedikitpun kesan islamofobia yang ada di Indonesia kecuali ia ditafsirkan dan framing sebagai Fadli Zon menggunakannya untuk membuat pernyataan yang didukung oleh para pendukungnya. Tetapi apapun sumbangsih Fadli Zon telah mengingatkan agar masyarakat secara luas agar tidak terkecoh dengan narasi islamofobia.

Islam telah menjadi fondasi kuat di negara ini melalui berbagai ormas keagamaan yang istiqamah menjaga marwah Islam dan bangsa. Kekuatan Islam terjaga dengan perilaku terpuji umatnya yang terus menggelorakan kesantunan, keramahan, dan kebangsaan.

Facebook Comments