Obituari Azyumardi Azra: Sang Maestro Modernisme Islam Non-Sektarian

Obituari Azyumardi Azra: Sang Maestro Modernisme Islam Non-Sektarian

- in Tokoh
280
0
Obituari Azyumardi Azra: Sang Maestro Modernisme Islam Non-Sektarian

Belum lama Bangsa ini kehilangan Buya Syafii Maarif. Kini kita kembali kehilangan sosok cendikiawan muslim yang sangat berpengaruh Yaitu Prof Azyumardi Azra. Beliau dikabarkan meninggal dunia akibat serangan jantung. Tepatnya pada tanggal 18 September 2022 sekitar pukul 12:30 di RS Serdang Selangor Malaysia.

Tentunya, kepergian beliau adalah duka yang sangat mendalam bagi bangsa ini. Bahkan, di kalangan akademisi international, Beliau adalah sosok pemikir Islam dengan karya-karyanya yang sangat berpengaruh. Baik di kalangan akademisi kita atau-pun akademisi international. Hal ini tidak terlepas dari produktivitasnya di dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah yang berbahasa Inggris.

Kontribusi besarnya terhadap bangsa ini, mampu melahirkan paradigma keislaman modern. Mengupayakan satu pola di dalam mengembangkan pendidikan keislaman yang anti politik sektarian dan non-ekstrimisme. Hal ini sering-kali dijadikan satu acuan secara akademis. Bagaimana membangun pendidikan Islam yang lebih modernis, akomodatif, inklusif, demokratis, rasionalis, progresif dan responsibility terhadap tantangan zaman.

Sebagaimana, pendidikan keislaman bagi Beliau haruslah memiliki peran dan fungsi strategis di dalam menjawab setiap tantangan dan keadaan zaman. Misalnya, Beliau mengalokasikan pendidikan Islam dengan output yang tidak hanya satu konteks parsial saja. Seperti, upaya pengaruh pendidikan Islam bagi sistem nilai sosial, politik etis kebangsaan, secara kultural dan secara ekonomis.

Upaya yang demikian, sejatinya menjadi satu upaya penting. Bagaimana menyelamatkan generasi bangsa dalam ranah pendidikan Islam. Agar, mereka tidak terjebak ke dalam wilayah-wilayah pemahaman keislaman yang eksklusif, condong sektarian dan selalu menolak “modernisme” dengan berpacu ke dalam romantisme masa lalu. Layaknya gerakan kembali ke khilafah atau negara Islam.

Sehingga, pemikiran Beliau (Prof Azyumardi Azra) tentang modernisme Islam non-sektarian ini memiliki peran yang sifatnya responsibility. Upaya-upaya edukatif terhadap anak bangsa. Agar, bisa mendapatkan asupan keislaman yang memiliki output baik secara sosial, kemaslahatan tatanan, kemajuan sebuah bangsa dan bagaimana di dalam menjawab setiap tantangan global.

Bahkan, Saya sangat tertarik dengan karyanya Beliau dalam “The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesia and Middle Eastern “Ulama” in The Seventeenth and Eighteenth Centuries”. Karya beliau ini akan semakin membangun satu paradigma keislaman lebih “melokal”. Mengungkap satu basis keislaman reformis yang rekontruktif bagi landasan moral-sosial masyarakat serta bagaimana membangun satu perkembangan intelektual keislaman yang modern.

Kekaguman Saya terhadap Beliau tidak terlepas dari karya-karyanya yang mampu mencerahkan jalan terjal pemikiran Islam di Negeri ini. Di tengah maraknya klaim-klaim pengetahuan Islam yang condong politis kapitalis-sektarian. Membawa pemahaman keislaman yang membenarkan praktik kezhaliman, merusak tatanan dan memecah-belah. Serta condong memilih mundur ke belakang (romantisme masa lalu).

Beliau adalah Sang maestro keislaman yang membebaskan diri dari jeratan politik sektarian. Mengupayakan paradigma keislaman yang bisa menjawab tantangan zaman, membawa output bagi kemaslahatan bangsa, bagi tata-etika politik, secara ekonomi dan dalam hidup berbangsa. Semua pemikiran Beliau (Prof Azyumardi Azra) layak untuk kita kenang, kita abadikan dan kita jadikan pijakan di dalam membangun paradigma keislaman di Indonesia yang bersih dari sengkarut politik sektarian.

Sebagaimana di dalam konteks kebangsaan, ada satu ungkapan yang sangat berharga dan wajib untuk kita ingat dari Beliau. Sebagaimana “NKRI dengan Pancasila sebagai dasar sudah berurat berakar sebagai entitas politik yang sesuai dengan bangsa Indonesia yang Majemuk”. Ungkapan ini menjadi satu clue-etis. Bahwa, NKRI dengan Pancasila adalah (konsep utuh) guna merangkul kemajemukan bangsa agar tetap harmonis dan bisa saling menghargai satu-sama lain.

Akhir kata: “Selamat jalan Prof, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan warisan (pemikirannya) bisa menjadi hadiah bagi bangsa ini. Hingga, terus melahirkan azra-azra baru sesuai tantangan zamannya” amin ya rabal alamin.

Facebook Comments