Pahlawan Itu Adalah Kita

Pahlawan Itu Adalah Kita

- in Suara Kita
869
0
Pahlawan Itu Adalah Kita

Pahlawan bagai suar di tengah badai, ia memberikan arah ke mana warga bangsa yang tertindas musti mengarahkan kemudinya. Tanpa Soedirman, Panglima Tentara dan Jenderal Republik Indonesia pertama, tak akan mampu warga bangsa menang dalam perjuangan mengusir penjajahan Jepang, Belanda dan sekutu. Berkat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara pendidikan tidak lagi milik elit Belanda saja melainkan menjadi milik seluruh warga bangsa. Demikian juga perjuangan RA Kartini yang melahirkan kesetaraan hak kaum perempuan. Berkat para pahlawan kita semua keluar dari badai penjajahan dan menyongsong Indonesia yang cerah.

Lebih dari 70 tahun silam, satu-satunya perjuangan warga bangsa Indonesia adalah meraih kemerdekaan dan menjadi manusia bebas yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Seluruh warga bangsa memiliki satu tekad bulat melawan penjajahan dengan berbagai cara perjuangan lintas bidang. Pada masa itu pula pertaruhan para warga bangsa bukan hanya keringat dan darah tetapi juga nyawa.

Pertaruhan para pahlawan itu tergambar dari Sang Dwiwarna Merah – Putih. Merah berarti keberanian, sedangkan putih berarti kesucian. Merah juga merupkan lambang tubuh manusia dan Putih lambang jiwa manusia. Seseorang dikatakan manusia hidup jika memiliki tubuh dan jiwa. Tubuh yan hidup tanpa “jiwa” hanya hidup untuk kepentingannya sendiri. Jiwa tanpa “tubuh” hanyalah manusia angan-angan yang tak berbuat apa-apa selain bermimpi.

Pahlawan adalah gambaran manusia hidup yang memiliki raga untuk mengupayakan angan-angannya – kemerdekaan. Makanya, mereka seperti suar bagi generasi muda yang masih sibuk terombang-ambing badai kecil kehidupan dan merasa paling kacau sendiri. Suar bagai generasi muda untuk bertubuh dan berjiwa untuk membangun bangsa.

Siti Rahmiati Hatta, istri wakil presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta, bercerita bahwa sekitar 1970-an, Gubernur DKI Ali Sadikin ingin membantu membayar listrik rumahnya namun ditolak oleh Bung Hatta yang kemudian Ali Sadikin mesti menjadikan Bung Hatta sebagai “warga teladan” agar bebas biaya listrik. Bung Hatta juga tidak mengizinkan mobil dinasnya digunakan untuk keperluan keluarganya.

Hoegeng Iman Santoso, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tahun 1968 – 1971. Seorang polisi yang berintegritas sampai-sampai disebut oleh Gus Dur sebagai salah satu dari tiga polisi yang tak bisa disuap, polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.

Masih banyak lagi kisah perjuangan para pahlawan yang berjuang dengan jiwa, raga dan pemikiran. Kita sebagai anak bangsa setidaknya tidak perlu mengorbankan jiwa dan raga. Satu-satunya perjuangan sebagai anak bangsa milenial adalah dengan membangun Indonesia yang dimerdekakan dengan darah dan nyawa peleh para pahlawan. Dari Bung Hatta kita belajar arti integritas, tahu diri meski berada pada posisi yang “basah” dan memiliki peluang korupsi. Dari tayangan televisi, kita melihat integritas adalah hal yang “langka” kini, maka sebagai generasi memilik Indonesia, cukuplah meneladan satu keutamaan Bung Hatta dalam hidup kita – integritas.

Dari Hoegeng kita belajar arti jujur, hal yang mudah diucap namun tidak mudah dijalankan pada era serba instan. Dari lini masa kita melihat politisi, pengusaha, aktivis, ormas, pemuka agama berbuat dan berkata tidak jujur demi kepentingan kelompok dan pribadinya. Perayaan Hari Pahlawan tidaklah perlu dengan gempita, jangan pula dengan biasa-biasa saja, perayaan Hari Pahlawan cukup dengan kembali meneladan, mengarah pada suar, menjadi pribadi yang beritegristas dan jujur. Berintegritas dalam kerja-kerja nyata membangun bangsa dan sesama, serta jujur dalam ucapan dan tindakan baik di pergaulan di angkringan atau di lini masa.

Jika kita kehilangan sosok pahlawan kini, bercerminlah, sosok dalam cermin itu adalah pahlawan dalam hidupmu yang ditunggu karya-karyanya oleh sesama dan bangsa.

Facebook Comments