Pahlawan Masa Kini; Menjaga NKRI, Melawan Radikalisasi

Pahlawan Masa Kini; Menjaga NKRI, Melawan Radikalisasi

- in Suara Kita
493
0
Pahlawan Masa Kini; Menjaga NKRI, Melawan Radikalisasi

Peringatan Hari Pahlawan 10 November akan menjadi selebrasi tanpa makna jika kita gagal menyerap esensi di baliknya. Sebaliknya, peringatan Hari Pahlawan akan memberikan signifikansi bagi bangsa jika kita berhasil meneladani sikap kepahlawanan para pejuang bangsa di masa lalu. Konteks spesifik lahirnya Hari Pahlawan ialah pertempuran Surabaya antara pejuang kemerdekaan melawan tentara NICA dan Sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Dalam konteks yang lebih luas, Hari Pahlawan dimaksudkan sebagai upaya merawat spirit kepahlawanan dalam diri bangsa Indonesia. Ada adagium klasik yang mengatakan bahwa “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Di alam kubur, para pahlawan tentu tidak hanya butuh disanjung, diglorofikasi, apalagi dikultuskan. Lebih dari itu, mereka mengharap apa yang mereka lakukan bisa menginspirasi generasi bangsa dalam merawat dan menjaga NKRI.

Kepahlawanan ialah sikap hidup yang tidak mengenal batas waktu. Bahkan, di era sekarang ketika negara dalam kondisi aman dan merdeka, inspirasi kepahlawanan tetap kita perlukan. Kita membutuhkan sosok pahlawan-pahlawan masa kini, yang mau berjuang dan berkorban demi keutuhan NKRI, utamanya dari serbuan narasi radikalisasi. Fenomena radikalisasi mengatasnamakan agama tidak diragukan merupakan problem dan bahaya laten di negeri ini.

Residu Radikalisasi

Radikalisasi berbalut isu agama menimbulkan residu persoalan. Antara lain, tergerusnya nasionalisme alias sikap cinta tanah air di kalangan sebagian warganegara. Radikalisasi agama menyebabkan munculnya sikap tidak percaya (distrust) terhadap pemerintahan yang sah dan kebencian pada otoritas negara. Radikalisasi ialah awal dari penghancuran relasi vertikal, yakni hubungan antara publik dan negara.

Di saat yang sama, radikalisasi agama juga mendorong umat beragama untuk bersikap eksklusif, intoleran dan arogan terhadap pemeluk agama lain. Radikalisasi agama mendorong umat beragama untuk berpikir bahwa kelompok (agama atau aliran) yang berbeda adalah orang asing, bahkan musuh yang harus dienyahkan. Cara pandang yang demikian ini jelas berbahaya bagi bangsa Indonesia yang dikenal majemuk, baik dalam hal keagamaan maupun kebudayaan.

Puncak radikalisasi agama ialah tumbuhnya benih-benih ideologi kekerasan dan teror yang diklaim sebagai tindakan suci memperjuangkan kejayaan agama. Radikalisme ialah akar dari terorisme yang memiliki efek destruktif luar biasa bagi kehidupan sosial, politik, dan agama. Di titik ini, radikalisme merupakan ancaman serius yang tidak boleh disepelekan apalagi diberikan ruang gerak yang leluasa.

Menjadi Pahlawan Masa Kini

Menjadi pahlawan masa kini, ialah menjadi sosok yang senantiasa relevan dengan perkembangan zaman, dan berkiprah secara langsung menyelesaikan problem kebangsaan. Menjadi pahlawan masa kini, berarti mengampu dua tugas sekaligus. Di satu sisi, ia harus mampu merawat dan menjaga NKRI. Menjaga kemajemukan agama dan budayanya, serta merawat spirit kebangsaan agar tetap menyala di hati masyarakatnya.

Menjadi pahlawan masa kini berarti menjadi contoh atau role model dalam mengamalkan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Kecintaan terhadap negara tidak boleh hanya menjadi slogan apalagi lip service, melainkan harus menjadi ghirah berbangsa dan bernegara yang mewujud ke dalam cara pandang, sikap dan perilaku sehari-hari.

Di sisi lain, menjadi pahlawan masa kini berarti pula harus mampu menangkis setiap propaganda dan kampanye radikalisasi utamanya yang berbalut isu agama. Menangkis radikalisasi dapat dilakukan dalam berbagai pendekatan. Mulai dari menumbuhkan budaya berpikir kritis dan rasional di tengah masyarakat. Hingga membumikan laku moderasi beragama, yakni cara pandang dan perilaku keagamaan yang toleran, inklusif dan pluralis.

Setiap individu yang hidup di zaman ini bisa menjadi pahlawan masa kini. Yakni pahlawan yang menjaga NKRI sekaligus menangkis narasi radikalisasi. Keteladanan para pahlawan terdahulu kiranya bisa menjadi inspirasi untuk melahirkan sosok-sosok pahlawan milenial kekinian yang adaptif pada tantangan zaman dan problem kebangsaan.

Facebook Comments