Pakempalan Selapanan

Pakempalan Selapanan

- in Suara Kita
171
2
Pakempalan Selapanan

Dalam kalender jawa, ada siklus pekan yang terdiri atas lima hari dan disebut dengan pasar. Hari-hari tersebut adalah legi, pahing, pon, wage, dan kliwon. Saat siklus 5 hari tersebut dipadukan dengan siklus 7 hari kalender matahari, maka akan didapatkan angka 35. Inilah yang disebut dengan selapan dan sering dijadikan patokan masyarakat jawa dalam aktivitas kesehariannya.

Di kampung kami, setiap malam Selasa Pahing, rutin diadakan pakempalan (kumpul warga). Semua kepala rumah tangga diharapkan hadir dalam pertemuan tersebut. Jika kepala rumah tangganya tidak bisa hadir, diwakilkan kepada anggota keluarganya yang lain. Tidak hanya warga asli saja. Para pendatang pun (termasuk yang mengontrak rumah) diminta kesadarannya turun datang.

Pakempalan selapanan ini memiliki beberapa agenda utama. Pertama, menyampaikan informasi pelaksanaan pembangunan di kampung. Selain itu, juga merencanakan aktivitas yang akan dilaksanakan. Kedua, melaporkan hasil pengumpulan jimpitan (sumbangan yang diberikan warga setiap malam dan diambil oleh petugas ronda) dan sumber pendapatan lainnya. Pengeluaran untuk berbagai kegiatan kampung pun turut dilaporkan. Sehingga seluruh masyarakat mengetahui transparansi dalam penggunaan dana masyarakat. Ketiga, mendengarkan nasihat dari Pak Kaum yang merupakan pemuka agama di kampung. Keempat, diskusi dan pembahasan tentang berbagai hal. Baik menyangkut isu kampung, maupun isu daerah hingga nasional. Seperti jika akan ada agenda pemilihan (baik lurah, bupati, hingga presiden) maka akan diadakan sosialisasi terkait hal tersebut.

Salah satu contoh isu yang dibahas adalah kerukunan dan ketentraman warga. Bapak RW, sebagai pemimpin yang ditunjuk warga secara demokratis, biasanya menekankan masyarakat akan mematuhi tertib administrasi. Seperti memiliki KTP jika telah memenuhi persyaratan, mengurus surat pindah bagi pendatang, melaporkan jika ada tamu/kerabat/orang yang menginap lebih dari sehari, dsb.

Baca juga : Belajar dari Argumen KH. Achmad Siddiq

Hal lain yang ditekankan adalah mengikuti aturan dan norma-norma yang berlaku. Misalnya rutin mengikuti ronda bagi kepala rumah tangga yang ditunjuk, tidak melakukan kegiatan maksiat dan tercela (berjudi, minum minuman keras), menghormati tetangga sekitar, dsb. Selain dari ketua RW, berbagai wejangan pun disampaikan oleh kepala dukuh dan para sesepuh yang hadir.

Acara rutin pakempalan selapanan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tradisi lokal yang sangat relevan untuk mengatasi berbagai problem kekinian. Banyak sekali kampung-kampung yang masih mempertahankan tradisi warisan pendahulu-pendahulu mereka. Dan tradisi-tradisi lokal unik ini tidak hanya satu, tapi banyak sekali. Jika hal ini bisa dipertahankan, dimodifikasi, dan diperkuat, akan semakin menguatkan ketahanan warga dalam menangkal hal-hal negatif dari luar.

Perkumpulan warga model ini berkontribusi bagi kontrol sosial orang-orang di lingkungan terdekat. Sebab masyarakat akan mengetahui kehidupan tetangga kanan dan kirinya sehingga tidak melanggengkan kehidupan yang bersifat individualistik dan saling cuek antar sesama. Tentu saja, hal ini bukan berarti ingin mencampuri urusan orang lain. Tetapi demi keamanan dan ketertiban bersama, masyarakat harus menekan egonya untuk kemaslahatan.

Pakempalan selapanan juga efektif untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai gerakan-gerakan radikal yang terus merasuk tanpa lelah (termasuk melindungi keluarga dan masyarakat). Contohnya saja aturan tentang kewajiban memiliki KTP dan KK bagi warga pendatang. Hal ini tanpa henti-hentinya dikemukakan oleh pemimpin warga. J

ika ada pendatang yang tidak memiliki KTP dan KK tanpa alasan yang jelas, warga wajar menaruh curiga. Sebab pasti ada hal yang disembunyikan oleh orang tersebut. Tetapi jika warga luar bisa menunjukkan identitas diri, akan memudahkan dalam melakukan kontrol dan pengawasan. Begitu pun jika ada orang yang menutup diri dari warga sekitar. Seperti menghindar jika bertemu orang lain, tidak pernah ikut berbaur (seperti menghadiri kumpulan, gotong royong, njagong, sripah), dan kegiatan lainnya,  pasti menimbulkan tanda tanya mengapa orang tersebut melakukannya. Disinilah kita melihat efektivitas tradisi lokal ini untuk melakukan deteksi terhadap “penyimpangan-penyimpangan” di lingkungan sekitar.

Berbagai kearifan lokal ini merupakan modal berharga yang perlu dilestarikan. Kesampingkan pandangan bahwa tradisi masyarakat adalah hal kuno yang perlu ditinggalkan. Bagi kita, kuno tidak masalah. Selama dia mampu menjawab tantangan dunia modern.

Facebook Comments