Pancasila: Basis Kemaslahatan Berbangsa dan Bernegara

Pancasila: Basis Kemaslahatan Berbangsa dan Bernegara

- in Suara Kita
180
2
Politisasi Syariah, Populisme Islam dan Masa Depan Demokrasi Kita

Indonesia itu unik, meskipun memiliki ragam budaya, ribuan bahasa, beraneka bentuk tradisi dan ada-istiadat, bermacam-macam agama dan keyakinan, tetapi bisa bersatu sebagai satu bangsa (nation) kemudian satu negara (state). Apa rahasianya? Jawabannya adalah Pancasila. Pancasila adalah koentji yang bisa menyatukan pluralitas bangsa ini dan mengakomodir kompleksitas anak bangsa.

Dengan Pancasila, kita melebur dan menghilangkan sekat-sekat perbedaan; dengan Pancasila, kita bisa bersatu sambil tetap eksis dalam agama, budaya, dan tradisi masing-masing; dengan Pancasila pula, kita terikat dengan moral publik bersama di satu sisi, tetapi di saat yang sama, kita bisa bebas dengan simbol dan identitas latar belakang kita masing-masing.

Keunikan itu bertambah, ketika kita melihat geneologi Indonesia. Indonesia sebagai bangsa (nation) lebih dahulu ada sebelum sebagai negara (state). Sebagai bangsa, Indonesia sudah ada sejak peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dengan ikrar: satu tanah, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Dua keunikan itu merupakan titik kekuatan Indonesia. Jika Sumpah Pemuda adalah basis sebagai bangsa, maka Pancasila adalah basis sebagai negara.

Baca juga : Politisasi Syariah, Populisme Islam dan Masa Depan Demokrasi Kita

Negara dan bangsa kemudian menyatu dalam satu tarikan nafas melahirkan Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukanlah negara khusus untuk agama, budaya, dan etnis tertentu, melainkan ia milik satu bangsa, yakni bangsa Indonesia yang mempunyai pengalaman sejarah yang sama, terbentang dari Sabang sampai Marauke.

Kemaslahatan Bersama

Wujud Pancasila sebagai bentuk kemaslahatan bagi semua adalah terletak pada sila-sila Pancasila yang bisa menemukan titik temu (nuktah liqa’). Titik temu itu terdiri dari tiga serangkai yang bersifat teoritis, yaitu ketuhanan, kemanusian, dan keindonesiaan. Nilai teoritis ini membumi kepada nilai tiga serangkai bersifat praktis, yaitu politik, sosial, dan ekonomi.Tiga nilai teoritis dan tiga nilai praktis inilah yang menyatukan Indonesia.

Kemaslahatan pertama, ketuhanan. Sebagai bangsa yang sudah berabad-abad lamanya, Indonesia memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ini tercermin dari agama dan keyakinan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. kompleksitas hubungan dengan Zat Yang Maha itu diakomodir sebagai basis dalam berbangsa dan bernegara. Sifat pengakomodiran itu dengan kata ketuhanan bukan dengan kata Tuhan. Tak berhenti di sini, ketuhanan itu diikat dengan kata Esa. Esa berasal bahasa Sansekerta yang maknanya dalam, tidak sekadar satu. Esa lebih dekat pada menunggal dan meninggi. Dengan kata Esa, bisa mengakomodir kompleksitas sesembahan manusia Indonesia. sebab, kata itu bisa mencakup monoteisme, politeisme, bahkan agnostik dan ateisme sekalipun.

Kemaslahan kedua, kemanusian. Prinsip kemanusian adalah menghargai harkat dan martabat yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Hak asasi yang dibawa manusia sejak lahir dari sono-nya. Menghargai itu dengan cara adil –tidak berat sebelah dan tidak ekstrim kanan-kiri; juga beradab –memperlakukan manusia layaknya manusia. Adil dan beradab adalah kata kunci anak bangsa dalam bergaul dalam konteks hubungan horizontal; dan  pemerintah dalam membuat kebijakan publik dalam konteks hubungan vertikal.

Kemaslahatan ketiga, keindonesia. Indonesia adalah bumi kita berdiri. Tanah, air, dan udaranya merupakan satu kesatuan. Apapun yang ada di dalam kandungan Indonesia merupakan harta kekayaan bangsa ini yang harus dijaga dan diperuntukkan untuk semua. Merawat, menjaga, kemudian menikmati hasil dari kandungan bumi Indonesia hanya bisa dilakukan jika ada syarat subtantif, yakni persatuan. Kekayaan budaya, adat-istiadat dan sumber daya Indonesia ini tidak akan membawa kemaslahatan jika tidak ada persatuan.

Kemaslahatan keempat, politik. Politik sebagai instrumen tata kelola negara harus dijalankan dalam bingkai ketuhanan, kemanusian, dan keindonesiaan. Ketiga nilai itu melahirkan politik yang adi luhung, menghargai sesama demi kemajuan bersama. Kemajuan bersama dalam politik bisa terwujud jika dilaksanakan dengan nilai kebijaksanaan dan musyawarah.

Kemaslahatan kelima, sosial-ekonomi. Muara semua sila Pancasila adalah menciptakan keadilan sosial dalam tataran ekonomi. Semua warganegara harus bisa mempunyak akses terhadap akses ekonominya. Baik secara kultural terlebih-lebih struktural, keadilan ini harus ditekankan. Jangan sampai hanya segelitir orang yang mencicipi kekayaan negara ini. Semua setara dan sama-sama mempunyai hak masing-masing.

Kelima bentuk kemaslahatan di atas merupakan kekayaan yang harus tetap dirawat. Indonesia dengan Pancasila adalah negara yang banyak dipuji, sebab bisa mengabstrasikan nilai-nilai kemaslahatan yang bisa diterima dan mengakomodir semua, tanpa membeda-bedakan ras, suku, agama, budaya, dan tradisi masing-masing. Kita patut bersyukur, keragaman Indonesia justru membawa nikmah (baca; kemaslahatan) bukan niqamah (baca; kemudaratan).

 

Facebook Comments