Pancasila Menghadang Ancaman Politik Identitas

Pancasila Menghadang Ancaman Politik Identitas

- in Suara Kita
1073
0

Di era digital sekarang ini banyak sekali serbuan ideologi yang masuk tanpa filter dan dikonsumsi oleh masyarakat. Tanpa disadari berbagai ideologi itu mempunyai dampak yang merusak dan mengancam nilai-nilai persatuan, kesatuan dan kedaulatan Indonesia. Salah satu yang paling penting diwaspadai adalah mengentalnya politik aliran dan identitas yang kerapkali memecah persatuan masyarakat.

Fenomena menghina dan menistakan agama secara terang-terangan adalah salah satu kasus bagaimana klaim kebenaran dan saling serang antar kepercayaan mulai ditabuh. Tidak lagi penting untuk penghormatan perbedaan yang terpenting adalah bagaimana cara menyalahkan keyakinan dan doktrin agama lain. Fenomena ini cukup mengkhawatirkan dan melelahkan energi kita sebagai suatu bangsa.

Sentimen politik identitas tidak hanya muncul dalam kontestasi politik besar. Bahkan terkadang sentiment politik karena perbedaan sudah bermain di level yang paling bawah sekalipun. Tentu masih ingat dalam ingatan kita bagaimana pemilihan ketua OSIS pun diwarnai dengan politik identitas yang sejatinya sangat tidak produktif ditanamkan sejak di lingkungan sekolah. Namun, itulah sebenarnya potret keberagamaan dan keberagaman kita akhir-akhir ini.

Fenomena menguatnya sentiment perbedaan dan politik identitas di tengah masyarakat sejatinya ancaman serius bangsa ini. Bukan tidak mungkin tumbuhnya benih-benih intoleransi akibat politik perbedaan ini akan mengarahkan pada pemikiran radikalisme dan melahirkan aksi terorisme. Maraknya gerakan yang menentang kebhinekaan dan lebih mementingkan kebenaran identitas kelompok merupakan duri dalam sekam yang mengancam persatuan. Apalagi dalam konteks tertentu mulai tumbuh gerakan yang secara berani menyerang dasar negara dengan dasar identitas tertentu.

Maraknya praktek radikalisme yang ada di Indonesia ini sejatinya bermula dari benih-benih pemikiran dari segelintir orang yang memiliki sikap intoleran. Sikap intoleran mudah sekali memainkan narasi politik identitas yang membahayakan. Masyarakat dalam kubangan politik identitas akan mudah diarahkan pada sentiment perbedaan. Dan ketika kristalisasi perbedaan memuncak, narasi radikalisme mudah sekali menyusup dan mempengaruhi tindakan kekerasan.

Pancasila Sakti yang Mempersatukan

Harus disadari bahwa Pancasila merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Kandungan itu merupakan hasil pemikiran dari pendiri bangsa yang berjuang membangun sebuah bangsa yang indah walaupun penuh keragaman. Pancasila adalah hasil tenun dari berbagai pandangan, pemikiran, kearifan dan paham yang ada di nusantara.

Dalam sejarah perjalanan bangsa ini bukan sepi dari ancaman. Sejarah menunjukkan, ada upaya untuk mengganti Pncasila dengan ideolog lain. gerakan kudeta dan pembangkangan PKI (Partai Komunis Indonesia) misalnya, merupakan gerakan yang mencoba mengganti Pancasila. Peristiwa itu cukup memberikan pelajaran penting bahwa mengakomodir dan terlalu permisif terhadap gerakan yang potensial mengancam negara akan berdampak fatal.

Belajar dari beberapa potensi ancaman tersebut, kehadiran beberapa Ormas yang Anti Pancasila dan gerakan yang secara nyata dan sembunyi-sembunyi bermimpi merubah dasar negara. Impian itu masih ada dan terus ada di sebagian kecil masyarakat dengan doktrin dan ideologi yang dimiliki.

Karena itulah, penting kita menyadari bahwa Pancasila adalah bagian dari perjanjian luhur yang telah mengikat dan menyatukan keragaman bangsa ini. Kekuatan Pancasila masih mujarab dalam mengatasi sekian keragaman. Bayangkan jika Indonesia yang sangat beragam ini tidak mempunyai pedoman dan nilai bersama seperti Pancasila saat ini?

Banyak negara gagal karena politik identitas yang mengental dan saling tikam antar saudara. Keragaman menjadi musuh yang bisa menghantarkan perang saudara di dalam satu negara. Miris menyaksikan negara yang tidak pernah selesai dengan konflik dan perebutan kekuasaan yang hanya didorong oleh eksploitasi sentimen perbedaan.

Pancasila adalah falsafah negara, tetapi juga adalah cermin dari sikap dan pangangan masyarakat. Ketika masyarakat mulai abai terhadap nilai Pancasila ketika itulah sebenarnya kesaktian Pancasila mulai luntur. Namun, sejatinya, Pancasila bukan barang impor. Pancasila adalah bagian dari gaya hidup bangsa yang akan selalu hidup di tengah masyarakat. Cara merawat kesaktian Pancasila adalah mewariskan nilai, pandangan dan sikap kepada generasi saat ini.

Facebook Comments