Pancasila Sebagai Sumber Syariah Negara Pemersatu Bangsa

Pancasila Sebagai Sumber Syariah Negara Pemersatu Bangsa

- in Suara Kita
385
1
Pancasila Sebagai Sumber Syariah Negara Pemersatu Bangsa

K. Gandhi pernah meramalkan akan ada munculnya ancaman yang berasal dari tujuh dosa sosial yaitu politik tanpa prinsip; kekayaan tanpa kerja keras; perniagaan tanpa moralitas; kesenangan tanpa nurani; pendidikan tanpa karakter; sains tanpa humanitas; dan peribadatan tanpa pengorbanan. Ketujuh dosa tersebut menjadi ancaman nyata yang terpampang jelas di depan mata baik dalam realitas maupun berbagai berita di media massa. Kehidupan di kota yang semestinya menjadi basis peradaban (madani) malah justru menjadi yang dalam bahasa Machiavelli terjerumus ke dalam kota korup (citta corrottisima) atau oleh Al-Farabi disebut kota jahiliyah (almudun al-jahiliyyah).

Berubahnya arah paradigma dan gaya hidup (life style) seolah semakin membenarkan ramalah Gandhi. Di mana-mana degradasi moral tampak nyata. Jika kita cek berita baik media cetak maupun elektronik isinya tidak pernah luput dari kasus korupsi, tindak keterasan dan intoleransi, berbagai tindakan anti-Pancasila. Bahkan, pendidikan yang digadang-gadang sebagai penyelamat dari kehancuran kehilangan orientasi dan karakter dirinya.

Akutnya krisis moral dan tercederainya ideologi di tengah-tengah lautan informasi menjadi tanda bahwa negeri ini memerlukan Pancasila bukan sebagai mitos, akan tetapi etos sumber syariah negara yang diaktualisasikan secara nyata. Untuk mewujudkan urgensitas tersebut, Pancasila harus diinternalisasikan dan diaktualisasikan secara praksis terutama nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kelima silanya.  Nilai-nilai (value) yang dimiliki oleh Pancasila harus mengakar kuat dan menjadi nafas serta dijiwai sebagai sumber syariah negara pemersatu bangsa.

Dalam konteks ke-Indonesian, dosa-dosa sosial yang diramalkan Gandhi banyak muncul ke permukaan. Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), konflik antar umat beragama; tindak kekerasan, dan dekadensi moral generasi muda seolah-olah menjadi pemberitaan rutin di negeri ini. Semua itu bermuara pada penyelewengan terhadap Pancasila sebagai sumber syariah NKRI. Akibat dari pelalaian dan penodaan nilai-nilai Pancasila ini, banyak timbul perilaku buruk serta muncul generasi yang berperilaku anti-Pancasila.

Baca Juga : Pancasila Sumber Syariah Ukhuwah untuk Ber-NKRI

Manifestasi Pancasila sebagai sumber syariah negara diantaranya dengan perwujudan Pancasila. Drijakara menyebutkan bahwa ada tiga kategori perwujudan Pancasila yang didasarkan pada hubungan dan fungsi Pancasila bagi kehidupan manusia yaitu tematis, imperatif, dan operatif. Kategori tematis, Pancasila merupakan objek yang memiliki rumusan konsep dan ide-ide yang dapat dipikirkan dan dipahami. Adapun kategori imperatif Pancasila dapat dijaikan sebagai dasar norma dalam kehidupan termasuk norma hukum. Sementara kategori operatif, terwujud di dalam prinsip atau norma asasi yang menjadi asas bagi tindakan manusia (Wahana, 1993: 99).

Berdasarkan perwujudan itu, Pancasila direalisasikan dalam kehidupan praksis yang dapat diamalkan dan diusahakan oleh semua warga negara yang meyakininya. Meminjam bahasa Notonagoro bahwa sifat ini dikenal dengan  subjektifikasi objektif, dimana Pancasila sangat mungkin dilaksanakan dalam kehidupan bersama. Tentunya, dengan pemahaman yang matang akan hakikat Pancasila sebagai inti ajarannya, sehingga meminimalisir penyimpangan dan penyalahgunaan ajaran luhur pancasila.

Oleh karenanya, Pancasila harus dijadikan sumber syariah negara diamalkan secara real dalam kehidupan. Untuk mampu mengamalkan Pancasila, negara sebagai pemegang otoritas tertinggi wajib menyediakan wadah dan melindungi masyarakat agar terliundungi serta terjamin keamananya ketika mengejawantahkan Pancasila. Pancasila sebagai sumber syariah negara jangan dijadikan mitos belaka, namun benar-benar diaktualisasikan secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai alat pemersatu bangsa.

Facebook Comments