Pancasila Sebagai Syariah Tertinggi NKRI

Pancasila Sebagai Syariah Tertinggi NKRI

- in Suara Kita
361
3
Pancasila Sebagai Syariah Tertinggi NKRI

Syariah secara bahasa adalah jalan menuju sumber air atau sumber air itu sendiri. Laiknya sumber air, ia memberikan penghidupan kepada manusia di sekitarnya. Sumber air menjadi titik tuju dan titi kumpul bagi setiap orang. Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila adalah sumber air (syariah) bagi warga-negaranya. Pancasila dijadikan sebagai titik pijak dan titik tuju bersama.

 Semua peraturan perundungan-undangan, kebijakan publik, tata-kelola negara harus merujuk kepada sumber air ini, yakni Pancasila. Dengan alasan ini, maka bisa dikatakan: Pancasila adalah syariah paling tinggi bagi rakyat Indonesia. ia memayungi setiap aspek dan lini yang berkaitan dengan negara dan bangsa.

Mengapa tertinggi? Sebab Pancasila adalah nilai-nilai inti terdalam yang bisa diterima oleh semua pihak. Pancasila adalah titik temu dari berbagai agama, budaya, ras, tradisi dan kebudayaan yang beragama. Pancasila itu ibarat maqasid syariah. Maqasid adalah inti terdalam dari syariah, berupa tujuan, rahasia, hikmah, ending, dan nilai-nilai subtantif-universal yang terdapat dalam syariah itu sendiri.

Syah waliyullah al-Dahlawi (1703-1762) menyebut maqasid sebagai sesuatu yang paling agung (a’zham) dan paling tinggi (a’la) dari bagian-bagian syariah itu sendiri. Alasan Dahlawi, sebab maqasid berisi sesuatu yang inti dan subtansi. Sesuatu yang inti itu lebih tinggi dan lebih agung dibanding dengan sesuatu yang tidak inti. Pancasila adalah inti terdalam baik dilihat dari rasionalitas, historisitas, dan aktualitas bangsa ini. Oleh sebab itu, maka ia layak disebut sebagai paling tinggi dan paling agung.

Titik Temu, Titik Pijak, dan Titik Tuju

Argumen paling kuat memposisikan Pancasila sebagai syariah paling tinggi adalah posisi strategis yang ditempati Pancasila itu sendiri, yakni sebagi titik temu, titik tuju, dan titik pijak bagi bangsa Indonesia. Yudi Latif (2017) menyatakan: “Pancasila adalah titik temu yang memungkinkan segala warna bersatu, titik pijak yang menjadi landasan hukum, serta titi tuju kemana bangsa ini diarahkan.” Intinya  dari, pada dan kepada Pancasila itulah bangsa ini berproses.

Baca Juga : Pancasila Senafas dengan Syariah

Sebagai titik temu, Pancasila bisa menyatukan –dengan nilai-nilai inti yang dimilikinya –akan keragaman budaya, agama, tradisi, sejarah, preferensi politi dari berbegai golongan. Pancasila tidak sekadar menyatukan, tetapi ia juga bisa diterima oleh semua pihak. Sila-sila Pancasila berisi nilai yang tidak bertentangan dengan tradisi apapun. Meski bermacam-macam dan berbeda-beda, Indonesia disatukan oleh Pancasila. Dalam konteks inilah, Pancasila menjadi lem perekat di antara anak bangsa.

Sebagai titik pijak, Pancasila menjadi landasan dalam menjalankan negara dan roda pemerintahan. Semua hukum, kebijakan publik. pembangunan manusia, ekonomi, pendidikan, dan segala macamnya, harus tetap berpijak pada Pancasila. Setiap peraturan hukum yang tidak menjiwai Pancasila; setiap kebijakan yang keluar dari nilai-nilai Pancasila; setiap pembangunan yang melenceng dari semangat Pancasila; bahkan semua gagasan yang ingin merubah Pancasila –semuanya harus dilawan.

Sebagai titi tuju, rancangan pembangunan, visi, arah bangsa, program kerja setiap pemerintah harus menuju Pansila. Pancasila harus dijadikan sebagai gayah  (tujuan akhir) dari segala yang berkaitan dengan bengsa dan negara. Penggunaan kata benda dalam setiap awal kata pada sila Pancasila menunjukkan, bahwa ia adalah visi bangsa yang final, tidak kenal ruang dan waktu.

Adanya gagasan yang ingin mensyariahkan NKRI termasuk di dalamnya dasarnya, yakni Pancasila –adalah pekerjaan sia-sia. Sebab kedudukan Pancasila sebagai syariah tertinggi sudah menaungi usulan-usulan dari para penggagas NKRI Bersyariah ini. Dengan kata lain, syariah Islam dalam pengertian yang subtansi berupa ketauhidan, ketuhanan, persatuan, keadilan, akhalak, dan persaudaraan sudah termaktub dalan sila-sila Pancasila.

Facebook Comments