Pancasila Sumber Syariah Ukhuwah untuk Ber-NKRI

Pancasila Sumber Syariah Ukhuwah untuk Ber-NKRI

- in Suara Kita
208
1
Pancasila Sumber Syariah Ukhuwah untuk Ber-NKRI

NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) bersyariah hanya sekedar wacana sesorang yang pingin Indonesia menjadi Islami. Padahal, Indonesia bukan hanya menampung orang Islam saja. Di Indonesia adalah ruang bagi semua agama, suku, bangsa dan ras. Perbedaan-perbedaan yang ada telah disatukan dengan Pancasila. Sejatinya dasar isi Pancasila diadobsi dari nilai-nilai  Al-Qur’an dan Hadist untuk kemaslahatan NKRI.

k.h Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan,“Pancasila Adalah serangkaian prinsip yang bersifat lestari. Ia memuat ide yang baik tentang hidup bernegara dan mutlak diperjuangkan. Saya akan mempertahankan Pancasila yang murni dengan jiwa raga saya. Terlepas dari kenyataan bahwa ia tidak jarang dikebiri atau dimanipulasi, baik oleh segelintir tentara maupun sekelompok umat Islam. Tanpa Pancasila negara RI tidak akan pernah ada.”

Dari ungkapan Gus Dur, beliau menempatkan Pancasila dan Islam secara proporsional. Pancasila adalah landasan konstitusional bernegara. Sementara Islam adalah akidah kehidupan masyarakat. Sebagai landasan konstitusional, Pancasila tentu tidak akan mampu mengganti akidah sebab akidah berkaitan dengan dasar keyakinan hidup yang paling utama, sementara landasan kontitusi terkait dengan kebutuhan kehidupan kolektif bernegara.

Dengan adanya landasan konstitusional, Pancasila menjadi landasan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam) dan Whatoniyah, (persaudaraan umat beragama) dengan ukuran tidak ada peraturan negara yang yang bertentangan dengan akidah Islam. Hubungan yang saling mendukung antara Islam dan Pancasila. Tujuan ini untuk mencipcatakan persatuan dan kerukunan bangsa. Tetapi, Ukhuwah Islamiyah dan Whatoniyah akan kuat bila didukung dengan ukhuwah Insaniyah (persaudaraan antar umat manusia). Dan ketinganya ini tertungan dalam Pancasila. Ada perilaku yang harus  dijalankan demi terciptanya suasana Ukhuwah Islamiyah, Insaniyah dan Wathaniyah, yaitu:

Ukhuwah Islamiyah yaitu, merasa dan mengakui bahwa sesama muslim diseluruh belahan dunia adalah saudara yang patut kita lindungi,  kita perjuangkan hak mereka atas islam jika berada pada negara yang sedang berperang serta mendoakan mereka untuk kebaikan.

Ukhuwah Islamiyah yaitu, merasa dan mengakui bahwa sesama muslim diseluruh belahan dunia adalah saudara yang patut kita lindungi,  kita perjuangkan hak mereka atas islam jika berada pada negara yang sedang berperang serta mendoakan mereka untuk kebaikan.

Baca Juga : Pancasila Sebagai Syariah Tertinggi NKRI

Ukhuwah Wathaniyah yaitu, saling menjaga kerukunan antar umat beragama dan membudidayakan rasa saling membutuhkan, saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada didalam negara kesatuan republik indonesia serta bersama sama menjunjung tinggi martabat bangsa dimata bangsa lain.

Tetapi saat ini keberadaan ukhuwah didalam kehidupan nasionalime bangsa Indonesia masih jauh dari harapan. Merasa dirinya yang paling benar selalu ada pada setiap individu dan tidak memperdulikan rasa kebersamaan ironisnya mereka sudah tahu tentang ukhuwah dan Dasar Hukum Islam yaitu kaidah islam yang mewajibkan untuk memupuk rasa kasih sayang, cinta sesama umat, dan saling peduli dengan orang lain. Mulai dari sinilah kita mengoreksi diri masing-masing.

Komitmen Kemanusiaan

Sang proklamator bangsa ini memiliki visi, nasionalisme Indonesia “bukan kebangsaan yang menyendiri,” yang meninggikan diri di atas bangsa lain. Indonesia hanya salah satu anggota keluarga bangsa-bangsa. Tujuan pendeklarasian bangsa Indonesia merdeka adalah persatuan dan persaudaraan dunia. Dan, yang menyatukan seluruh bangsa-bangsa di dunia adalah kemanusiaan yang sama martabatnya. Maka Bung Karno mengutip ucapan Mahatma Gandhi, “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity”.

Dalam pidato Bung Karno 1 juni 1945 di depan sidang BPUPKI, sila kemanusian tidak eksplisit disebutkan. Tekanan pidato kala itu pada bentuk dan dasar negara bangsa (nationale staat). Disebutkan lima prinsip sebagai dasar negara yakni, kabangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan.

Prinsip perikemanusiaan diletakkan dalam rangka internasionalisme dan diurutkan setelah nasionalisme. Memang internasionalisme dan perikemanusiaan adalah dua (entitas) berbeda, namun dalam konteks pidato itu keduanya bertalian erat dihubungkan dengan prinsip kebangsaan (Yonki Karman: 2003). Nilai rasa cinta terhadap bangsa disinilah menjadi penting untuk membentengi upaya radikalisme oleh kalangan masyarakat.

Contoh konkrit HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang telah dibubarkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Pembubaran HTI karena banyak kegiatannya tidak sesuai dengan Pancasila, mengancam ketertiban dan keutuhan negara, serta menyimpang dari konsep Bhinneka Tunggal Ika. HTI selalu memaksakan kekhilafahan di Indonesia dengan banyak menarik masa dari kalangan mahasiswa. Memang HTI telah dibubarkan tetapi bangsa kita harus tetap mem-waspadai Organisasi Masyarakat (Ormas) yang infiltrasi terhadap ideologi Pancasila.

Memaknai Keagamaan

Sila pertama Pancasila dari UUD 1945 tidak membenarkan Indonesia sebagai sebuah negara berdasarkan suatu agama sekalipun mayoritas. Tetapi, berlawanan dengan kencenderungan negara sekuler, sila pertama menegaskan posisi penting agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan beberapa problem pembangunan yang harus diselesaikan. Berdasarkan keberagaman yang ada, komunitas-komunitas agama di Indonesia terpanggil untuk secara kreatif dan kritis memberikan kontribusi positif dalam bidang keadilan sosial, pengentasan kemiskinan, demokrasi dan pencegahan radikalisme.

Seperti kasus ormas Hiztbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibubarkan karena anti terhadap Pancasila. Mereka golongan HTI ini memahami Pancasila secara sempit.  Dimana akhirnya mereka memiliki pandangan yang tidak baik terhadap Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Oleh karena kasus HTI ini menjadi pelajaran bagi bangsa ini untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila pada masyarakat. Penanaman nilai pancasila ini menjadi pilot project terhadap pelajar dan mahasiswa yang retan terhadap pengaruh paham-paham radikal.

Benteng tindakan radikal bisa dilakukan dengan cara menanamkan rasa kemanusian. Setelah rasa kemanusian tertanam dalam hati kita maka akan berbuah rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama dan negara. Harapannya Hak Asasi Manusia (HAM) dan kewajiban bernegara dapat diterapkan dengan baik di negeri ini. Ketika ada sekelompok atau perorangan berencana melakukan tindakan radikal, mereka ingat akan hak manusia lain dan kewajibannya menjaga keutuhan bangsa.

Secara konsepsional Pancasila, Indonesia telah memiliki prinsip dan visi kebangsaan yang kuat, yang bukan saja dapat mempertemukan kemajemukan masyarakat dalam kebaruan komunitas politik bersama, tetapi juga mampu memberi kemungkinan bagi keragaman komunitas untuk tidak tercabut dari akar tradisi dan kesejarahannya masing-masing.

Facebook Comments