Panduan Al-Qur’an dalam Menyikapi Konflik

Panduan Al-Qur’an dalam Menyikapi Konflik

- in Narasi
432
0
Panduan Al-Qur’an dalam Menyikapi Konflik

Kita harus memahami sekaligus belajar. Bahwa, konflik domestik yang terjadi di negara Timur Tengah itu tidak akan separah itu. Jika, “tidak kecolongan” dimanfaatkan oleh kelompok radikal. Sebab, kelompok radikal begitu sangat senang dengan adanya konflik. Karena, konflik adalah ladang yang sangat subur bagi kelompok radikal untuk (menanam ranjau) yang bisa menghancurkan tatanan sosial, penuh pertumpahan darah dan permusuhan.

Maka, dari sinilah kita harus belajar dari fakta di atas. Untuk bisa menyikapi segala persoalan di negeri ini agar lebih bijak. Sebagaimana, ada beberapa anjuran dalam ayat Al-Qur’an. Agar, kita bisa menyikapi konflik dengan baik. Agar, tidak dimanfaatkan oleh kelompok radikal demi menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran akibat konflik dimanfaatkan kelompok radikal.

Misalnya, di dalam potongan ayat (Qs. Al-Baqarah:256). Allah SWT sangat mengingatkan kita. Bahwasanya “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama Islam. Sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dan jalan yang sesat”. Ayat ini sejatinya menjadi pengingat. Agar, kita tidak melakukan tindakan pemaksaan kehendak dalam beragama.

Karena konflik agama yang semacam ini sangat mudah dimanfaatkan oleh kelompok radikal. Dengan membawa narasi provokatif. Bahwa, mereka yang berbeda dianggap kafir dan wajib diperangi jika tidak masuk agama Islam. Sehingga, hal yang semacam inilah Al-Qur’an memberikan arahan untuk menghindari hal-hal yang sifatnya pemaksaan itu sendiri.

Selain ayat di atas. Ada juga potongan ayat dalam (Qs. Ali-‘Imran:134). Bahwasanya “(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang (menahan amarahnya) dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. Dari ayat ini, Allah SWT memang memberikan nasihat. Bahwa, kita harus selalu (menahan amarah) agar tidak mudah emosi atau mudah berkelahi hanya karena persoalan-persoalan yang sebetulnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Ayat di atas sebetulnya meniscayakan pemahaman. Bahwa (manusia tidak terlepas dari kesalahan) dan ini menjadi titik terang. Bahwa, konflik sering-kali lahir dari kekeliruan dan kesalahan yang tidak bisa kita terlepas dari itu. Maka, dari situlah Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik dalam segala hal dan bisa menjaga amarahnya agar tetap sabar dan orang yang sabar jelas sangat disayang oleh Allah SWT.

Bahkan, tidak hanya ayat tentang perintah agar bersabar dan bisa menahan amarah. Karena, ada potongan ayat di dalam (Qs. An-Nisa’:35). Bahwasanya “Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai) itu bermaksud mengadakan perbaikan”.

Secara subtansial, ayat ini memberi satu jalan untuk menyikapi konflik. Bahwa, ketika ada sebuah persoalan, begitu sangat penting (juru damai) yang bisa menyelesaikan persoalan itu. Ini tentunya sebagai satu clue yang menjadi sikap yang harus dibangun dan dipertahankan oleh kita. Agar, segala persoalan yang kita hadapi dapat kita selesaikan dengan jalan perdamaian sesuai perintah Al-Qur’an yang Saya sebutkan di atas.

Selain itu, ada juga potongan ayat di dalam (Qs. Al-Hujurat:6). Bahwasanya “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Ayat di atas menjelaskan kepada kita sebagai (orang beriman) itu harus selalu berhati-hati ketika ada narasi-narasi yang sifatnya provokatif dan memecah-belah. Artinya, kita dianjurkan oleh Allah SWT untuk selalu berhati-hati dan benar-benar meneliti suatu berita atau narasi tersebut. Agar, kita tidak mudah terprovokatif dengan narasi-narasi yang sengaja dibuat agar kita bermusuhan, saling berpecah-belah dan berbuat kezhaliman terhadap orang lain.

Facebook Comments