Patroli Wa Dan Kampanye Perdamaian Dunia Maya

Patroli Wa Dan Kampanye Perdamaian Dunia Maya

- in Suara Kita
209
2
Patroli Wa Dan Kampanye Perdamaian Dunia Maya

Wacana kontroversial baru saja digulirkan Kepolisian Republik Indonesa (Polri). Yaitu rencana akan adanya kebijakan patroli polisi ke WhatsApp (WA) grup. Kebijakan ini sontak menimbulkan polemik pubik. Amnesty Internasional nilai patrol ini akan menebar politik ketakutan. Komnas HAM juga menyatakan patroli siber akan mengurangi kemerdekaan individu, khususnya dalam berekspresi di dunia maya. Sedangkan Polri dan pihak pro memastikan bahwa patrol tetap sesuai koridor hukum dna targetnya adalah meminimalisasi dan menindak penyebaran konten hoaks dan negatif lainnya.

Lepas dari pro dan kontra, banalitas hoaks mesti dilawan secara cerdas dan bijak melalui literasi dan implementasi.  Selain itu tentunya perlu ada upaya kontra-hoaks dengan menggencarkan kampanye perdamaian di dunia maya. Patroli selain menindak perlu juga berpikir positivisme dengan turut mengkampanyekan konten positif. Salah satunya kampanye perdamaian. Kampanye ini juga menjadi upaya melawan hoaks secara soft.

Gambaran Kebijakan

Polri bersikukuh melanjutkan kebijakan. Polisi menegaskan bahwa patroli siber yang mereka lakukan tidak berarti langsung masuk ke dalam grup dalam aplikasi pesan singkat WhatsApp. Patroli siber di dunia maya dilakukan secara periodik bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Baca juga : Pentingnya Memviralkan Pesan Persatuan di Era Post-Truth

Pada tahap awal, pihaknya menunggu pengaduan masyarakat terkait narasi hoaks yang beredar di grup-grup WhatsApp sang pengadu. Kemudian, mereka akan memeriksa pengadu secara mendalam, menyita barang bukti (smartphone) pengadu, serta menelisik alur komunikasi hoaks yang beredar di smartphone pengadu. Barang bukti ini sendiri akan diteliti lebih lanjut di laboratorium forensik kepolisian. Jika pihak kepolisian mendeteksi penyebaran hoaks secara masif melalui bukti-bukti yang kuat, barulah perwakilannya masuk ke dalam grup WhatsApp untuk memantau.

Penegakan hukum akan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan polisi, jika memang terbukti ada pelaku penyebar hoaks atau tindak kriminal lainnya di grup WhatsApp tersebut. Sebuah akun yang menyebarkan berita bohong atau hoaks di grup akan diberi peringatan terlebih dahulu. Jika penyebaran dilakukan secara masif, polisi baru akan melakukan penegakan hukum. Tangkapan layar percakapan dalam grup WhatsApp menjadi alat bukti dari narasi hoaks yang dibangun. Selain itu, telepon genggam yang menjadi bukti akan diteliti di laboratorium forensik.

Optimalisasi Kampanye

Sembari menarget penindakan konten hoaks, patrol WA dapat dioptimalkan untuk kampanye perdamaian. Jika iklim damai sudah terpahami dan teraktualisasi, maka penyebaran konten hoaks dengan sendirinya juga akan berkurang hingga hilang.

Polisi yang nantinya sudah masuk ke sebuah grup WA dengan demikian memiliki dua misi atau tugas. Pertama, menangani konten hoaks di grup tersebut. Kedua, menyadarkan dan menyampaikan konten perdamaian.

Komunikasi dua arah sebaiknya dilakukan dalam pelaksanaan kedua misi di atas. Target utama bukan semata penegakan hukum tapi lebih ke penyadaran. Tahap-tahap penegakan mulai dari peringatan berkala hingga penindakan penting dilakukan secara professional.

Karakter grup WA juga mesti teridentifikasi sebelum keputusan polisi masuk. Grup tersebut apakah tergolong homogen ataukan heterogen. Hal ini sebagai dasar penunjukan personil polisi sekaligus strategi yang akan dijalankan.

Background personil kepolisian penting disesuaikan dengan karakter grup WA. Misalnya grup jamaah masjid atau pengajian, maka kepolisian yang diutus tentu yang memiliki latarbelakang dan pemahaman keagamaan yang kuat. Polisi tersebut harus siap beradu argumen dengan dasar-dasar kuat, tidak sekadar hukum positif semata.

Pihak kepolisian juga mesti siap menerima saran dan kritik dari anggota grup WA. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi pembelaan dari sesama anggota. Pada tahap awal, akan lebih baik jika banyak mendengarkan dan menyimak jika ada anggota-anggota grup yang menyampaikan pendapat. Kepolisian tidak seharusnya terpancing dengan respostif hingga emosional. Topik dan dinamika di dalam dapat disampaikan dan didiskusikan dahulu di internal kepolisian guna memberikan tanggapan yang bijak dan tepat sasaran.

Sebelum keluar grup setelah kondusifitas grup dianggap baik, maka perlu ditegaskan agar anggota grup dapat menjadi agen penyeru perdamaian dan perlawanan terhadap hoaks. Komunikasi dapat berkelanjutan meskipun sudah tidak di grup lagi. Konfirmasi atas sebuah berita itu benar atau hoaks nantinya dapat dilakukan untuk seterusnya. Atau kepolisian dapat membentuk tim khusus nantinya.

Patroli WA tidak boleh menebar ketakutan dan mencederai HAM. Untuk itu publik dapat memberikan tanggapan atau pelaporan jika personil yang ditugasi melanggar hal tersebut. Kepolisian mesti mengumumkan kepada siapa masukan atau pelaporan tersebut dapat dilayangkan. Selain WA, dapat pula diperluas ke Facebook. Monitoring dan evaluasi  pelaksanaan patrol WA mesti berkala, partisipatif, dan professional.

Facebook Comments