Pemaksaan Jilbab dan Bahaya Komodifikasi Agama

Pemaksaan Jilbab dan Bahaya Komodifikasi Agama

- in Narasi
287
1
Pemaksaan Jilbab dan Bahaya Komodifikasi Agama

Akhir-akhir ini viral di media sosial pemaksaan pemakaian Jilbab yang dibuat oleh akun Youtube Zavilda TV. Ia melakukan objektifikasi kepada perempuan berpakaian agak terbuka yang sedang nongkrong di sekitaran area wisata Malioboro Jogja.

Akun Youtube Zavilda TV dengan kreatornya yang bercadar akhirnya mendapat banyak kecaman publik. Baik di Twitter maupun di Instagram, tidak sedikit akun yang menggugat konten tersebut karena diduga melakukan pemaksaan berjilbab dan telah melangggar prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Dengan peristiwa ini, akhirnya Jogja kembali ramai dengan perbincangan pemaksaan jilbab setelah sebelumnya juga ramai kasus pemaksaan jilbab yang dilakukan oleh seorang guru Bimbingan Konseling kepada muridnya di salah satu Sekolah Negeri di Bantul.

Dengan dalih agama Zavilda memaksakan para perempuan yang sedang berwisata di sekitaran Malioboro untuk berjilbab hingga membuat mereka terusik. Bahkan tak sedikit perempuan yang awalnya menolak, akhirnya kemudian menerima ‘paksaan’ perempuan bercadar tersebut.

Kreator youtube Zavilda TV ini mendaku diri sebagai influencer dakwah yang tidak biasa di medsos. Artinya, ia berdakwah dengan konten untuk menyasar orang-orang yang menurutnya melakukan kesalahan berbasis agama, yakni tidak menutup aurat. Baginya, apa yang dilakukan itu sudah menjadi bagian dari kewajiban agama untuk menegur dan memberikan solusi dengan menutup tubuh perempuan dengan jilbab.

Padahal kita tahu, ada ragam pendapat mengenai pemakaian jilbab bagi seorang perempuan. Secara historis, jilbab atau penutup aurat itu merupakan bagian dari produk budaya, hasil dari kreasi manusia. Jilbab bukan merupakan produk agama (Islam), bahkan jilbab disinyalir berasal dari kebudayaan Sumeria pada 5000 tahun silam.  

Bahaya Komodifikasi Agama 

Menurut sebagian netizen, apa yang dilakukan oleh Akun youtube Zavilda TV telah mengganggu kenyamanan sesama perempuan, mengganggu ruang privasi orang lain, serta juga merekam tanpa izin.  

Jika ingin berdakwah, semestinya kreator tersebut bertanya baik-baik kepada yang bersangkutan. Jika dia tidak mau, maka seharusnya perempuan bercadar itu wajib berlalu. Karena sejatinya Kreator bercadar tersebut tidak berhak memaksakan apa yang tidak diinginkan oleh orang lain dengan dalih agama. Apalagi sampai bertanya tentang urusan pribadinya. Maka sejatinya berdakwah itu dengan santun dengan ikhlas dan sukarela.

Di sisi yang lain, kreator bercadar tersebut membuat konten youtube dengan tujuan komersil dan tanpa terlebih dahulu mengkonfirmasi untuk mengupload kontennya ke medsos. Inilah yang kemudian disebut dengan komodifikasi agama.

Diketahui akun Youtube Zavilda TV hingga kini memiliki subscriber sebanyak 211 ribu dengan viewer mencapai ratusan ribu. Viewer inilah yang kemudian menjadi sumber cuan dari konten yang Zavilda tampilkan. Jika ditilik kembali, ini bukan hanya persoalan dakwah belaka, namun lebih dari itu ini jelas merupakan sebuah praktik komodifikasi agama. 

Secara yuridis, apa yang dilakukan kanal youtube Zavilda TV telah melanggar Pasal 335 KUHP ayat 1 butir 1. Karena telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain dan melakukan kekerasan verbal kepada korban. Dan bisa diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak menjadi 4 juta lima ratus rupiah.

Konten yang dibuat youtube Zavilda TV tentu telah melakukan upaya komodifikasi agama. Ia menjual agama untuk memuluskan tujuan terselubungnya, yakni komersil. Mengingat saat ini konten sexis perempuan cantik sangat laku di medsos. Maka tak heran kreator bercadar tersebut memanfaatkan betul momentum untuk mendulang cuan.

Maka dari itu, komodifikasi agama sejatinya menjadi bahaya laten di ruang publik. Karena hal ini justru merugikan marwah agama itu sendiri. Kita patut mewaspadai terhadap pendakwah yang dengan dalih agama, justru merusak agama itu sendiri. Oleh karenanya praktik komodifikasi agama harus direduksi karena perlahan ia akan menjadi benalu di kehidupan masyarakat.

Facebook Comments