Pemaksaan Jilbab dan Kesalahpahaman Membaca Tafsir Ayat Jilbab

Pemaksaan Jilbab dan Kesalahpahaman Membaca Tafsir Ayat Jilbab

- in Suara Kita
184
0
Pemaksaan Jilbab dan Kesalahpahaman Membaca Tafsir Ayat Jilbab

Pemaksaan berhijab menjadi kasus intoleransi yang berulang. Kali ini jagat nitizen Indonesia heboh oleh kasus siswi di SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul yang dipaksa mengenakan hijab sampai mengalami depresi.

Sangat ironis, cara mendidik tanpa adab untuk memaksakan kesucian ajaran agama, padahal Tuhan sendiri mengenalkan Islam secara berangsur (tadrij) sebagaimana proses turunnya al Qur’an kepada Nabi Muhammad.

Kiranya patut membaca kembali bagaimana sebenarnya al Qur’an membicarakan jilbab? Benarkah kitab suci paripurna itu mengatakan jilbab menjadi aturan yang berkonsekuensi masuk surga atau neraka? Atau, ia hanya penanda identitas muslimah untuk membedakan dengan identitas yang lain?

Dalil al Qur’an yang sering dipakai untuk menjustifikasi pemakaian jilbab adalah surah al Ahzab ayat 59. Ayat ini dipakai sebagai dasar hukum baik oleh kelompok yang mewajibkan jilbab tanpa ampun dan mereka yang berpendapat agak longgar.

Karenanya, pembacaan yang syamil mutlak dibutuhkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih terang dari sebelumnya. Membaca mulai dari sebab penuzulannya sampai pada pendapat ulama-ulama tafsir dalam kitab-kitab tafsir otoritatif mereka.

Titah Tuhan kepada Nabi, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Ahzab: 59)

Ibnu ‘Asyur dalam Al Tahrir wa al Tanwir menulis, jilbab adalah istilah untuk busana muslimah yang lebih kecil dari jubah tetapi lebih besar dari kerudung atau penutup wajah. Ia, diletakkan di atas kepala, kedua sisinya terulur melalui kedua pipi hingga menutupi seluruh bahu sampai belakangnya.

Apa tujuan memakai hijab yang diceritakan tersebut? Ahli tafsir Indonesia, Quraisy Shihab mengatakan, ada dua kalimat yang harus dipahami untuk mengetahui tujuan perintah jilbab.

Pertama, “adna al yu’rafna”, terjemahnya, lebih mudah dikenali. Jilbab menjadi pembeda identitas muslimah dengan identitas kaum hawa penganut agama lain.

Kedua, “fala yu’dzain”. Maknanya, supaya tidak disakiti. Kalimat ini menegaskan tujuan pemakaian jilbab supaya muslimah tidak menjadi objek kejahatan.

Supaya lebih jelas kita harus memahami korelasi ayat dengan situasi zaman saat ayat ini turun. Ulama tafsir menyebut “sabab al Nuzul” atau sebab-sebab turunnya ayat.

Imam Suyuthi dalam al Durr al Mantsur menulis riwayat Ibnu Sa’ad yang mengatakan penuzulan ayat tersebut sebagai respon atas kejahatan yang menimpa kaum perempuan di Madinah di masa ayat ini turun.

Pada masa itu perempuan yang keluar di malam hari untuk buang hajat seringkali menjadi korban pelecehan seksual laki-laki hidung belang. Memang, yang menjadi incaran para lelaki hidung belang tersebut adalah budak-budak perempuan. Namun karena busana perempuan merdeka dan perempuan budak tidak berbeda, mereka sering menyasar perempuan-perempuan merdeka. Kemudian turunlah ayat ini.

Yang harus kita pahami, konteks masyarakat disaat itu tentu jauh berbeda dengan saat ini. Saat itu, belum ada toilet tertutup. Tempat buang hajat saat itu adalah di padang pasir. Mereka harus ke luar rumah dan berjalan menuju tempat buang hajat di Padang pasir tersebut.

Pada saat seperti itu, pelecehan seksual terhadap perempuan rentan terjadi dialami para perempuan yang hendak buang hajat. Suatu ketika pelecehan terjadi pada salah satu istri Nabi sehingga turunlah ayat ini.

Lebih lanjut Imam Suyuthi menjelaskan, pemakaian jilbab bertujuan menjaga muslimah dari kejahatan-kejahatan yang sewaktu-waktu bisa menimpa mereka. Hal ini efektif melindungi mereka karena para lelaki hidung belang pada dasarnya hanya mengincar perempuan budak, yang mereka tidak diwajibkan untuk berjilbab.

Ibnu ‘Asyur menulis, jilbab sebenarnya telah menjadi penanda identitas muslimah merdeka masa itu. Akan tetapi, mereka hanya memakainya di siang hari dan melepasnya di malam hari sekalipun mereka bepergian. Jadi, pada malam hari tidak ada penanda identitas pembeda antara perempuan muslimah merdeka dengan para perempuan budak. Keadaan seperti itu memungkinkan kejahatan menimpa perempuan kelas budak dan bukan budak karena tidak ada pembeda identitas.

Penjelasan-penjelasan sebab penuzulan di atas memberikan penegasan berhijab pada awalnya hanya sebagai penanda identitas muslimah merdeka untuk membedakan dengan identitas lain supaya terhindar dari pelecehan.

Kemudian, ulama-ulama fikih memformulasikan hijab sebagai identitas formal perempuan muslim. Tentu saja dengan argumentasi yang kuat; dari hadits dan nalar kaidah ushul.

Walaupun demikian, menurut saya, okelah berhijab itu wajib, kalau kita tidak berani mengatakan ia hanya sebagai pembeda identitas yang hukumnya bisa berubah karena faktor situasi dan kondisi tertentu. Namun, hukum wajib sekalipun tidak boleh dipaksakan sampai membuat seseorang mengalami dipresi.

Kenapa tidak boleh dipaksakan? Kalau pertanyaan ini yang mengemuka, pertanyaan baliknya, kenapa hukum untuk sesuatu yang paling mendasar sekalipun seperti haramnya minum khamar diturunkan secara berangsur.

Artinya, pengamalan ajaran berdasarkan kesadaran hati memiliki tingkat kualitas yang lebih sempurna dari pada praktik ibadah yang dilakukan secara terpaksa, ingin dipuji, ingin dilihat, dan bukan murni karena kesadaran akan perintah agama.

Lebih baik memberi kesadaran tentang hijab secara pelan bertahap atau memaksakan hijab? Tentu lebih baik yang pertama.

Lagi pula, andaikan seseorang yang tak berhijab memberikan argumen hijab hanya penanda identitas supaya berbeda dengan identitas yang lain, tentu absah karena setting ayat hijab berbunyi demikian.

Terlepas dari itu semua, mendidik adalah mentransformasikan nilai yang tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi memaksa. Guru yang baik adalah mereka yang mampu mentransformasikan nilai-nilai luhur dengan cara bijaksana. Bukankah dalam hal beragama saja Tuhan tidak memaksa?

Facebook Comments