Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Rekonsiliasi Media Sosial!

Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Rekonsiliasi Media Sosial!

- in Suara Kita
327
2
Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Rekonsiliasi Media Sosial!

Selama Pemilu (Pemilihan Umum) 2019 banyak yang menggunakan Media Sosial (Medsos) dalam kampanye secara positif, tapi tidak dipungkiri medsos menjadi media kampanye hitam. Efek dari kampanye hitam dapat memecah belah masyarakat. Hal inilah yang mendorong masyarakat Indonesia dengan jumlah 150 juta pengguna medsos untuk segera melakukan rekonsiliasi medsos. Medsos merupakan media daring, dengan para penggunanya mudah berpartisipasi, berbagi, berkomunikasi, berjejaring sosial dan negatifnya saling kritik yang membuat kegaduhan sosial.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan medsos sebagai, “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membanggun di atas dasar ideologi dan teknologi web 2.0 dan memungkinkan penciptaan serta pertukaran user-generated content (konten yang dibuat pengguna)”. Pengertian ini menunjukkan bahwa medsos diciptakan dengan dasar ide kuat, teknologi canggih, selalu berkembang mengikuti zaman dan kontak para pengguna setiap saat ketika dikehendaki.

Indonesia sebagai penikmat dan pengguna medsos harus sadar fungsi serta dampak negatif medsos. Selama ini pemerintah cukup tegas dalam beberapa tahun terakhir ini menanggani kasus penyalahgunaan medsos. Banyak contoh orang yang dipenjara karena liar menggunakan medsos. Mulai dari musisi terkenal Ahmad Dhani divonis hukuman penjara 1 tahun 6 bulan pada 28 Januari 2019 lalu, setalah terdakwa melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atas twitnya pada 2017 yang dinilai menyebarkan kebencian dan permusuhan.

Kasus lain UU ITE dari kelompok Saracen yang eksis di facebook dan website pada pertengahan 2017. Kelompok Saracen mengunggah konten berisi ujaran kebencian dan hoaks yang ditujukan kepada kelompok tertentu. Bahkan, beberapa postingan menyinggung sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Media yang digunakan untuk menyebarkan konten negatif antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com dan berbagai grup lain yang menarik warganet untuk bergabung.

Baca juga : Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme, dan Nasib Bangsa Indonesia

Jonru Ginting dibui karena kasus penyebaran ujaran kebencian melalui konten yang dia unggah di sosmed. Unggahan Jonru di sosmed yang dipermasalahkan adalah soal Prof. Quraish Shihab yang akan menjadi imam shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta. Menurut Jonru, Prof. Quraish tidak pantas menjadi imam lantaran peryataannya yang menyebut wanita Muslim tidak perlu menggunakan jilbab. Kemudian Jonru mengajak umat Islam tidak shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal jika imamnya adalah Prof. Quraish.

Aksi teror di Selandia Baru juga sangat mengerikan, karena pelaku sempat menyiarkan langsung serangan tersebut di facebook selama 17 menit. Vidio brutal ini lantas menyebar dengan cepat di platform medsos. Perusahaan-perusahaan teknologi pun dibikin kalang kabut. Facebook, ambil contoh, langsung menghapus sekitar 1,5 juta salinan vidio yang beredar dikanal milik mereka, 24 jam usai aksi teror berlangsung. Langkah serupa juga diambil perusahaan lainnya, dari YouTube, Twitter, hingga Reddit.

Kasus diatas membuat bangsa ini harus membenahi cara bermedsos yang bijak. Setelah terjadi memanasnya medsos di Indonesia dengan puncak Pemilu April 2019. Kini Pemilu sudah selesai, pihak-pihak yang berseteru secara langsung maupun melalui medsos selayaknya saling memaafkan dan membangun komunikasi yang lebih baik demi persatuan.

Rekonsiliasi medsos perlu dilakukan. Ada statement menarik dari pidato Wakil Presiden (Wapres) terpilih 2019-2024 yaitu Prof. KH. Ma’ruf Amin setelah beliau ditetapkan KPU pada Minggu, 30 Juni 2019, menyatakan “Antartetangga, antar teman, antar keluarga, hanya karena berbeda pilihan politik, jangan ada lagi saling blokir-memblokir di media (sosial). Dan harus kita akhiri.”

Kiai Ma’ruf Amin sebagai calon orang nomor 2 di Indonesia setelah dilantiknya pada bulan Oktober mendatang, tentunya sangat memperhatikan pentingnya persatuan bangsa ini. Pandangan Kiai Ma’ruf Amin bahwasanya menuju kesejahteraan Indonesia dibutuhkan persatuan. Menginggat persatuan saat ini mulai terkikis karena penggunaan medsos yang saling menghujat dan penyebaran ujaran kebencian. Harapannya para kontestan Pemilu 2019 dengan terbuka melakukan rekonsiliasi untuk mendinginkan suasana para pendukung dan simpatisan.

Rekonsiliasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula atau bisa diartikan sebagai perbuatan menyelesaikan perbedaan. Rekonsiliasi medsos Pasca Pemilu menjadi penting untuk memulihkan kembali persahabatan yang harmonis sebelum terkontiminasi medsos yang memecah.

Semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah memiliki tugas yang sama dalam mewujudkan rekonsiliasi sebagai upaya penyelesaiaan perbedaan pilihan politik. Contoh rekonsiliasi yang cukup signifakan yaitu pertemuan Presiden Jokowi dan Wapres 2019-2024 Kiai Ma’ruf Amin dengan rivalnya di Pilpres 2019 yaitu Bapak H. Prabowo Subianto dan Bapak H. Sandiaga Uno. Jika pertemuan kedua kontestan ini bertemu maka gejolak perpecahan dibawah akan terobati. Mulai saat ini para netizen harus mensemarakkan kampanye yang mengandung konten rekonsiliasi guna keutuhan Indonesia.

Facebook Comments