Pemuda Muslim dan Semangat Kepahlawanan ala Rasulullah

Pemuda Muslim dan Semangat Kepahlawanan ala Rasulullah

- in Suara Kita
1078
0
Pemuda Muslim dan Semangat Kepahlawanan ala Rasulullah

Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Ungkapan ini diucapkan di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu, mungkin dianggap berlebihan. Bagaimana bisa kemerdekaan yang diperjuangkan secara bersama-sama oleh rakyat Indonesia akan dirusak sendiri. Sesuatu yang mustahil saat itu karena semangat juang untuk merebut kemerdekaan masih sangat melekat di dada seluruh rakyat Indonesia.

Namun siapa sangka pesan Soekarno tersebut ternyata tertuju pada kita sekarang ini. Narasi-narasi perpecahan dan kekerasan benar-benar bersemi dari anak bangsa sendiri. Perbedaan yang dulu bukan persoalan sekarang dipersoalkan. Dulu, perbedaan menjadi basis kekuatan untuk membangun semangat patriotisme dan nasionalisme melawan penjajah. Tapi saat ini, hari ini, kita menyaksikan anak-anak bangsa mempersoalkan perbedaan agama, suku, ras, etnis dan antar golongan dan dijadikan alat ampuh memecah belah persatuan.

Padahal, bangsa ini merdeka karena semangat persatuan dalam perbedaan. Bukan semata karena kelompok tertentu. Kemerdekaan diraih karena semua rakyat Indonesia dari latar belakang agama, suku, ras dan antar golongan mengikat diri secara bersama-sama, berikrar bahwa Indonesia ini benar-benar milik bersama dan harus diperjuangkan bersama-sama pula.

Karena itu, patut untuk merenungkan kembali kepiluan dan penderitaan para pejuang bangsa untuk membebaskan Indonesia dari tirani kolonialisme. Merefleksikan semangat persatuan mereka demi cita-cita luhur meraih kemerdekaan. Supaya kita semua mengerti bahwa bangsa Indonesia yang ada sekarang ini berkat hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia dengan pengorbanan nyawa dan harta yang tak terhitung totalnya.

Kaum Muda dan Semangat Kepahlawanan

Semangat kepahlawanan dulu benar-benar masuk ke relung-relung sanubari pemuda Indonesia. Namun, kini, patriotisme dan nasionalisme itu mulai tercerabut dari sebagian kaum muda kita. Nasionalisme menjadi menu yang kurang diminati. Alhasil, mereka kehilangan sikap kepahlawanan seperti pemuda di era perang kemerdekaan.

Pahlawan, dalam konteks bernegara bukan hanya mereka yang ikut berperang mengusir penjajah. Ia tidak bermakna tunggal. Semua yang berpikir dan bertindak untuk kepentingan bangsa disebut pahlawan. Sebaliknya, usaha-usaha memperkeruh kedamaian yang berpotensi merusak keutuhan negara layak disebut regenerasi kolonialisme.

Adalah sebuah keniscayaan bagi pemuda saat ini untuk melanjutkan ruh perjuangan demi bangsa yang maju, aman dan damai. Kaum muda mesti hadir dalam segala sisi sesuai kemampuan yang dimiliki untuk memberikan sumbangan kepada negara. Dan, khusus bagi generasi muda muslim apa yang dicontohkan oleh Rasulullah semestinya menjadi spirit kepahlawanan untuk dirinya.

Rasulullah bersabda, “Manusia paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dan, amal paling disukai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada sesama muslim”. (HR. Thabrani).

Saat ini, Indonesia telah merdeka. Perang fisik telah usai. Tugas kita, khususnya generasi muda muslim, adalah menjaga NKRI supaya tetap satu dan damai. Pemuda muslim sejatinya memiliki semangat untuk mengamalkan hadis Nabi tersebut sehingga dalam dirinya mewujud sikap kepahlawanan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menjunjung tinggi perdamaian dan saling menghormati sesama anak bangsa.

Membenci, mencaci, menuduh sesat, tudingan kafir dan sebagainya sangat dicela dalam Islam. Apalagi menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci dan membunuh. Ini, sama sekali bukan karakter agama Islam. Perang hanya absah kalau untuk tujuan mempertahankan nyawa. Seperti dilakukan Nabi dan para sahabatnya ketika berperang untuk mempertahankan diri dan kehidupan kaum muslimin saat itu.

Allah mengizinkan kaum muslimin untuk mengangkat senjata hanya untuk mempertahankan diri dan menjaga keselamatan kaum muslimin (QS. al Hajj: 37). Namun, Allah juga memberikan syarat khusus yang tidak boleh dilanggar. Perang hanya demi Allah, tidak untuk tujuan harta, untuk mempertahankan diri dan wajib tidak berlebih-lebihan (semena-mena) (QS. al Baqarah: 190).

Dengan demikian, salah besar kalau kemudian pemuda Islam mengartikan menghabisi mereka yang berbeda sebagai jihad. Radikalisme dan terorisme merupakan sikap keberagamaan yang jauh menyimpang dari pilar-pilar yang telah ditegakkan oleh Nabi Muhammad sebagai pengemban risalah Islam. Untuk mewujudkan ‘izzul Islam wal muslimin (keagungan agama dan marwah umat Islam) bukan dengan cara-cara radikal dan kekerasan. Karena, hal itu sejatinya telah melakukan usaha-usaha untuk memperburuk citra Islam sendiri.

Facebook Comments