Pendidikan Karakter sebagai Vaksin Ideologisasi Radikalisme Sejak Usia Dini

Pendidikan Karakter sebagai Vaksin Ideologisasi Radikalisme Sejak Usia Dini

- in Suara Kita
251
0
Pendidikan Karakter sebagai Vaksin Ideologisasi Radikalisme Sejak Usia Dini

Di antara bunyi teks pembukaan Undang-undang Dasar 1945 pendidikan merupakan hak segala bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan. Pendidikan baik itu formal, informal maupun non formal merupakan aset bangsa. Tumbuh dan layunya peradaban bangsa lebih dominan ditentukan sejauh mana pendidikan menemukan elan vitalnya.

Tujuan utama pendidikan adalah untuk mencetak manusia menjadi manusia seutuhnya, menghasilkan kepribadian yang matang secara spiritual, intelektual dan emosional. Untuk mencapai hal itu, lingkungan keluarga memiliki peran penting mencetak karakter anak. Rumah sebagai tempat pendidikan pertama menentukan perjalanan pendidikan anak berikutnya.

Anak merupakan embrio generasi baru yang ada ditatanan sosial-sosial kultural masyarakat. Membentuk anak menjadi seorang yang memiliki akhlakul karimah, toleran dan menghargai perbedaan akan menentukan karakter dan moralitas bangsa ke depan.

Kalau di sini orang tua gagal membentuk karakter anak sebagai individu yang matang secara spiritual, intelektual dan emosional, harapan memiliki nikmat besar “anak shaleh/shalehah” hanya mimpi belaka. Demikian pula bangsa akan mengalami kerugian yang sangat besar karena harapan “pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan” hanya mimpi pula.

Fenomena anak menjadi teroris menjadi indikasi kuat kegagalan orang tua dalam membentuk karakter anak yang sesuai dengan cita-cita agama dan harapan negara.

Urgensitas Pendidikan Karakter Usia Dini sebagai Vaksin Radikalisme

Undang-undang nomor 20 pasal 1 butir 14 tahun 2003 tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah regulasi dalam rangka pembinaan khusus untuk anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Fase pendidikan di usia ini untuk memberikan stimulus atau rangsangan untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohani supaya disaat menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi anak telah matang dan siap.

PAUD menjadi titik awal membentuk kepribadian anak secara utuh; pembentukan karakter, budi pekerti luhur, cerdas, ceria, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Embrio keimanan, ketakwaan, cinta kasih, toleransi dan pengejawantahan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin mulai ditanamkan dalam diri anak. Sehingga kelak setelah beranjak dewasa mereka akan aman dari infeksi virus radikalisme.

Karakter pribadi anak (character building) yang telah terbina secara baik dan efektif sejak di lingkungan keluarga dan PAUD sangat menentukan kemampuan anak dalam rangka mengembangkan potensinya, mencetak kepribadiannya, moralitas dan praktek beragamnya. Peran orang tua dan guru menjadi pendukung utama pembinaan moral-spiritual anak. Pengalaman yang didapatkan dari keluarga dan di rumah menjadi taruhan; kelak anak tersebut akan seperti apa.

Karenanya, pendidikan karakter sejak usia dini sangat penting terutama dalam konteks membentengi anak dari gerakan radikalisme-terorisme yang saat ini bergerak secara massif membidik para pemuda. Dengan kata lain, anak-anak kita dan generasi muda bangsa ini menjadi target bidik menanamkan benih-benih paham radikalisme.

Pada tataran praktis, pendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral. Pendidikan karakter tidak sebatas mengajarkan mana yang benar mana yang salah. Lebih dari itu, ia menanamkan pembiasaan segala hal yang baik terhadap anak, sehingga dengan sendirinya anak bisa membedakan antara yang baik dan buruk, merespon dan meresapi nilai-nilai dari ajaran agama yang baik serta mau dan mampu melakukannya.

Seperti telah dimaklum, terorisme adalah musuh utama kemanusiaan. Ia lahir dari watak yang retak yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Bentuk kampanye terorisme adalah membentuk karakter seseorang anti perbedaan. Paham terorisme selalu bicara tentang bagaimana membunuh orang lain yang berbeda. Terorisme lahir dari akal yang tidak sehat, hati yang keras dan jiwa yang sombong.

Sangat berbahaya kalau watak yang retak itu telah tertanam sejak dini dalam diri anak. Entah itu dicontohkan oleh orang tuanya sendiri, lingkungan sekitar, alam pendidikan, guru dan semua pihak yang sering berinteraksi disekitar anak-anaknya dan kemudian terekam dalam memori mereka. Sebagai misal, di lingkungan pendidikan anak tidak dikenalkan dengan wawasan kebangsaan dan sikap patriotisme. Anak tidak pernah dikenalkan dengan lagu kebangsaan dan lagu-lagu wajib nasional.

Kenapa harus pendidikan karakter yang diutamakan untuk membentengi anak dari virus radikalisme dan terorisme? Sebab, pendidikan karakter sebagaimana telah dijelaskan, adalah menanamkan nilai-nilai untuk merasakan dan mengetahui mana yang baik dan buruk serta mau dan berusaha mempraktekkannya.

Apabila nilai-nilai kebaikan tersebut telah tertanam dalam jiwa dan kalbu akan menjadi vaksin anti terorisme yang ampuh. Anak yang memiliki hati sehat dan terus melekat sampai dewasa akan sulit tergoda untuk melakukan aktifitas seperti terorisme. Mereka dengan sendirinya mampu untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana ajaran agama dan mana doktrin yang mengatasnamakan agama.

Pendidikan karakter pada dasarnya bersumber dari hadits Nabi “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Dan, jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh akan baik pula”.

Salah seorang sahabat bertanya, “apakah segumpal daging itu wahai Nabi”? Beliau menjawab, “Segumpal daging itu adalah qalb (hati)”.

Hati yang yang baik, penuh keimanan dan ketakwaan, memiliki wawasan kebangsaan serta menghormati nilai-nilai kemanusiaan adalah makna dari perintah Rasulullah yang mewajibkan belajar kepada semua umat Islam. Baik ilmu agama maupun ilmu yang sifatnya di luar agama.

Karena itu, meskipun tidak termaktub dalam kurikulum secara langsung paling tidak pendidikan karakter mewarnai pendidikan anak usia dini dengan mendidik mereka untuk saling menyayangi, saling menghargai, toleransi dan memahamkan kepada mereka tentang pentingnya menghormati perbedaan. Menyanyikan lagu Indonesia Raya setelah berdoa untuk memulai pelajaran dan sebagainya.

Facebook Comments