Pendidikan Multikultural bagi Generasi Millenial di Era Digital

Pendidikan Multikultural bagi Generasi Millenial di Era Digital

- in Suara Kita
327
3
Pendidikan Multikultural bagi Generasi Millenial di Era Digital

Keragaman sebagai karakter bangsa Indonesia ibarat dua sisi koin mata uang. Itu artinya, bahwa ia bisa kesatuan harmoni yang indah penuh warna, akan tetapi bisa juga menjadi sumber malapetaka. Apalagi, mengingat dewasa ini masih saja ada residu persoalan yang disebabkan karena masyarakat Indonesia tidak menerima secara positif eksistensi keberagaman ini. Bahkan ada beberapa individu dan golongan tampak ingin mendominasi. Alhasil, alih-alih modal sosial yang berpotensi membangun bangsa yang berkarater, kuat, dan toleran, malah justru menuai kontra-produktif bagi tatanan sosial dan internal bagi bangsa Indonesia sendiri.

Banyaknya kasus kekerasan dan radikalisme lantaran perbedaan telah mencoreng wajah Indonesia. Bahkan, kasus kekerasan telah menyasar sampai ke dunia pendidikan, baik pelajar sebagai korban maupun pelaku. Kalau kita kuliti di awal 2019 ini, berbagai kasus kekerasan dalam pendidikan marak terjadi. Di level pendidikan tinggi yakni tewasnya Aldama Putra (19), mahasiswa ATKP Makasar (5/2) karena dianiaya seniornya. Kemudian, kasus perlakuan murid yang kurang ajar terhadap gurunya di ruang kelas. Si siswa dengan pongahnya menantang sang guru bahkan berani mendorong, memegang kepala, dan mencengkeram kerah sang guru.

Serangkaian kasus kekerasan tersebut merupakan tamparan keras terhadap dunia pendidikan kita. Dari sini penanaman kesadaran multikulturalisme pada generasi millenial sangat penting. Pendidikan multikultural merupakan sarana yang tepat untuk membangun kesadaran tersebut. Karenanya, pendidikan multikultural harus ditanamkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di setiap jenjang pendidikan. Meminjam ungkapan Paulo Freire, tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia dan membebaskan dari segala bentuk diskriminasi. Selain itu, pendidikan harus senantiasa berjalan di atas prinsip-prinsip Pancasila (Yamin, 2009: 161).

Multikulturalisme ialah konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui, menerima keberagaman baik ras, suku, etnis, dan agama yang berpegang pada prinsip egaliter (Sudrajat, 2014: 84). Pun demikian konsep ini sudah saatnya diinternalisasikan dalam dunia pendidikan. Guru, murid, orang tua, dan entitas pendidikan lainnya dituntut saling akomodatif dan kooperatif dalam memainkan perannya sebagai makhluk sosial demi tercapainya kehidupan pendidikan yang damai dan humanis.

Dalam pendidikan multikultural mengutamakan keadilan sosial bagi semua golongan tanpa memandang  identitas dan latar belakang individu yang beragam agar tercapai tujuan pendidikan yang optimal. Sekolah sebagai miniatur masyarakat, di dalamnya terdapat individu yang berbeda latar belakang sosial-budaya dan kemampuannya. Oleh karenanya, ini perlu penanaman kesadaran multikulturalisme baik di kalangan baik peserta didik maupun guru. Kesadaran tersebut menuntut sikap tenggang rasa, kasih sayang, tanggung jawab, dan toleran dalam proses pendidikan. Guru sebagai model agen perubahan yang bertanggung jawab dalam melayani peserta didik dan dituntut bersabar dalam melayaninya.

Baca juga : Kaum Moderat Harus Berani Bersuara

Pendidikan multikultural pada generasi millenial dapat dilakukan juga dengan pendidikan agama yang humanis, inklusif, dan pruralis. Ajaran agama yang mendorong mereka untuk selalu menebar cinta kasih, peduli pada sesama untuk manusia tanpa perlu melihat latar belakang suku dan agama serta menjauhkan diri dari tindakan kekerasan. Upaya ini bisa dilakukan mulai dari pendidikan dalam keluarga, lingkungan sekitar, lembaga pendidikan, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas tentunya. Bahkan, sudah saatnya menyasar di ruang-ruang digital.

Disamping itu, generasi millenial juga dapat ditumbuhkembangkan kecintaan terhadap NKRI dan karakter kebangsaan dengan memahami dan mengamalkan secara serius nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 sebagai konstitusi utama kita. Upaya ini juga dapat dilakukan dengan berbagai metode baik melalui lembaga pendidikan formal, non-formal, dan informal dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Serta tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya melalui konten-konten positif pendidikan di internet dan medsos. Harapannya dengan adanya pendidikan multikultural bagi generasi millenial, segala bentuk kekerasan akan dapat terkikis habis serta terwujudnya pendidikan yang humanis dan damai, semoga.

Facebook Comments