Penegasan al Qur’an; Beriman Berarti Menerima Perbedaan

Penegasan al Qur’an; Beriman Berarti Menerima Perbedaan

- in Suara Kita
1164
0
Penegasan al Qur'an; Beriman Berarti Menerima Perbedaan

Bisa dikatakan begini, “orang beriman pasti akan menerima perbedaan”. Kenapa? Karena Tuhan memang menghendaki demikian. Keniscayaan ini abadi yang tak seorang, bahkan Nabi pun, mampu merubahnya. Karenanya, bagi manusia yang rendah pemahaman keagamaannya, hal ini menjadi batu uji dan palang rintang yang sulit dihilangkan.

Banyak manusia yang bersikeras mengharuskan umat manusia hidup satu iman dengan satu cara (manhaj) dan praktik ibadah yang sama pula. Ego demikian, dalam realitas kehidupan pada ranah relasi antar manusia menjadi problem serius kemanusiaan karena pasti menyebabkan hubungan yang tak harmonis dan berbagai kejahatan kemanusiaan.

Dalam konteks bernegara efeknya sampai pada pengikisan persaudaraan sebangsa yang merentankan terjadinya disharmoni dan disintegrasi. Padahal, seperti telah dikatakan di muka, perbedaan merupakan kehendak pasti ilahi. Dalam ajaran Islam, hal ini ditegaskan oleh al Qur’an bahwa satu ras, etnik, keyakinan dan agama tidak akan pernah terwujud, sebab sama seluruhnya di dunia ini tidak akan pernah ada. Kalamullah yang berbicara demikian.

“Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk” (al An’am: 35).

Kemudian Allah berfirman, “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (Yunus: 99).

Pada ayat yang lain Allah juga menegaskan, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. (Al Nahl: 93).

Jika demikian, tidak salah kalau dikatakan, “Orang beriman pasti menerima perbedaan”. Sebab banyak sekali penegasan dari Allah tentang keniscayaan adanya perbedaan. Tiga ayat di atas, hanya sebagian dari ayat-ayat al Qur’an yang berbicara dalam konteks yang sama.

Sebab itu, Dia kemudian menegur dan mengingatkan orang-orang beriman yang menghendaki manusia seluruhnya hidup dalam satu imam. “Maka apakah orang-orang yang beriman itu tidak mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya”. (al Ra’du: 31).

Naif dan riskan kalau kemudian ada sebagian kecil umat Islam melakukan monopoli kebenaran dan klaim paling suci dan pemegang kunci surga. Apalagi, kalau sampai melakukan aktivitas kedzaliman dengan cara persekusi, peminggiran dan bahkan pembunuhan atas nama agama.

Beriman berarti mengamalkan rukun iman, salah satunya imam kepada al Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah. Mengimani al Qur’an tidak cukup hanya percaya tapi juga wajib diamalkan dan baik yang tersurat maupun yang tersirat harus dibentuk menjadi bakti suci dalam kehidupan.

Begitulah ketetapan-Nya. Tujuannya apa? Tidak lain supaya dalam relasi antar manusia tercipta persaudaraan sehingga kehidupan berjalan harmoni, tanpa kekacauan, kekerasan dan pembunuhan. Sehingga, kita semua, bisa membuktikan bahwa manusia diciptakan tujuannya tidak lain sebagai khalifatullah di bumi, bukan tukang jagal seperti kritik malaikat kepada Allah, “Apakah akan menciptakan manusia yang hanya akan mengalirkan darah”.

Memahami semua ini, aspek yang paling dituju oleh beberapa ayat al Qur’an di atas tidak lain adalah terciptanya persaudaraan sesama manusia dengan identitasnya yang beragam. Jangan dangkalkan pikiran dengan hasrat akan menyatukan manusia di bawah panji agama dan keyakinan yang sama. Untuk menunjukkan keagungan agama Islam bukan seperti itu, melainkan dengan pengamalan ajarannya dengan pemahaman keilmuan yang dalam. Kesempurnaan ilmu akan mendewasakan keberagamaan.

Salah satu kedewasaan beragama adalah meyakini bahwa perbedaan akan selalu ada, dan persaudaraan sesama manusia adalah ajaran agama. Apalagi dalam konteks bernegara, maka semua masyarakat dari background agama, etnis dan suku apapun diikat oleh satu aturan untuk bahu membahu membangun negri dan merawat serta menjaganya bersama-sama. Karenanya, merajut ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa merupakan kewajiban, diwajibkan oleh agama dan hukum negara.

Facebook Comments