Pengakuan Abu Bakar Ba’asyir: Akankah Gerakan Anti Pancasila Berakhir?

Pengakuan Abu Bakar Ba’asyir: Akankah Gerakan Anti Pancasila Berakhir?

- in Narasi
260
0
Pengakuan Abu Bakar Ba’asyir: Akankah Gerakan Anti Pancasila Berakhir?

Belakangan ini nama pentolan dan tokoh inspirasi gerakan radikalisme-terorisme di Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir seketika menjadi buah bibir khalayak. Seluruh media massa di Indonesia memberitakannya. Hal ini ditengarai oleh sebuah pernyataan yang dilontarkan Ba’asyir ketika sedang memberikan ceramah kemudian beredar atau viral di media sosial. Lantas pernyataan apakah yang membuat nama Ba’asyir kembali mencuat ke permukaan?

Ternyata, usut punya usut, Ba’asyir telah mengakui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia bahkan, tidak bertentangan sama sekali dengan agama. Menurutnya, seperti dikutip dari pelbagai media, “Mengapa Indonesia berdasar Pancasila sebagai ideologi negara disetujui oleh para ulama? Karena dasarnya tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila.”

Bagi Ba’asyir, pemahaman demikian merupakan hal yang baru dalam dirinya. Sebab, dulu ia menganggap bahwa Pancasila sebagai sesuatu yang syirik. Karenanya, mesti ditolak dan diganti dengan ideologi yang berasaskan Islam, atau mendirikan negara Islam. Lebih jauh, menurutnya, para ulama pada dasarnya memiliki niat ikhlas. Termasuk dalam memikirkan dasar negara Pancasila. Sekira Pancasila itu syirik atau bertentangan dengan agama, tidak mungkin para ulama mendiamkan hal ihwal tetap eksis hingga kiwari.

Pengakuan Ba’asyir tentang Pancasila ini, tentu saja, menjadi angin segar bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Mengapa bisa demikian? Seperti diketahui bersama, bahwa Ba’asyir dulu merupakan tokoh paling sentral dibalik gerakan kelompok radikal-terorisme di Indonesia. Tak hanya itu, Ba’asyir juga termasuk pendiri Pesantren Al Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jamaah Islamiyah dan sekaligus mantan CEO Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Ansharut Tauhid.

Keterlibatannya dalam pelbagai aksi radikal-terorisme sukar untuk ditampik, semisal Bom di Bali pada tahun 2001, Bom JW Marriot tahun 2003, dan lain-lain walaupun ada yang bersifat invisible. Adalah wajar, jika dirinya menjadi incaran utama pemerintah. Bukan hanya di kancah nasional, melainkan internasional. Tidak mengherankan, pada tahun 1983 Ba’asyir ditangkap bersama dengan Abdullah Sungkar, karena dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila. Bahkan, ia melarang santrinya untuk hormat bendera sebab, menurutnya perbuatan syirik.

Kemudian, pada tahun 2010 Ba’asyir kembali lagi ditangkap dan divonis 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta. Hal ini ditengarai bahwa ia terbukti merencanakan dan menggalang dana untuk pembiayaan pelatihan militer teroris di Aceh. Dan Ba’asyir baru dinyatakan bebas murni pada awal Januari 2021 lalu usai menjalani masa tahanan 9 tahun 6 bulan. Namun, siapa sangka Ba’asyir kini telah mengakui Pancasila sebagai asas tunggal negara Indonesia.

Lantas pertanyaan yang muncul kemudian pasca pengakuan terakhir Abu Bakar Ba’asyir, akankah gerakan anti Pancasila dengan mempertentangkannya terhadap agama berakhir? Atau, gerakan tersebut semakin bercokol di negeri ini?

Pertama-tama, menurut saya, hal yang perlu diketahui bahwa gerakan kelompok anti Pancasila, bahkan ingin menggantinya dengan syariat Islam bukan masalah anyar di negeri ini. Dan Abu Bakar Ba’asyir, termasuk salah satu dari sekian banyak penentang itu. Kita bisa menakik bagaimana ketegasan sepak terjang M. Natsir dalam menentang Pancasila sebagai asas tunggal berbangsa dan bernegara.

Keinginan Natsir ini disampaikan secara langsung ketika ia berpidato di depan Majelis Konstituante. Alasan paling kuat Natsir menolak Pancasila ialah karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Sehingga, apabila bangsa Indonesia ingin menentukan dasar negara, maka hanya ada dua pilihan: sekularisme (Pancasila) atau paham agama (negara berasaskan syariat Islam).

Namun, tuntutan atau keinginan yang digelorakan Natsir dan para pendukung negara Islam lainnya kandas di tengah jalan lantaran mendapat resistensi dari kelompok nasionalis. Alih-alih patah, justru kekalahan diplomatis tersebut semakin mengobarkan semangat mereka untuk terus memperjuangkan Islam sebagai dasar negara dengan memformalisasikan syariat Islam hingga kiwari.

Menarik, upaya mereka dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam sebagai dasar negara pun cukup beragam. Ada yang melalui jalur parlemen di satu sisi. Ada pula di luar parlemen di sisi lain sebagaimana marak terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir oleh kelompok radikal-terorisme, semisal Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Khilafatul Muslimin, Darus Islam (DI), dan sebagainya.

Oleh karena itu, menurut saya, jawaban yang layak dilontarkan terhadap pertanyaan di atas, bisa “iya” bisa juga “tidak”. Iya, sebab Ba’asyir merupakan tokoh inspirasi kelompok radikal. Sehingga, dapat dengan mudah memengaruhi kelompok atau pengikutnya untuk berikrar terhadap Pancasila, dengan mengakuinya sebagai asas tunggal berbangsa dan bernegara. Tidak, karena tokoh-tokoh penggerak kelompok radikal-terorisme bukan hanya satu orang, Abu Bakar Ba’asyir melainkan banyak tokoh atau panutan mereka. Terasa sulit untuk menyatukan pemahaman mereka.

Yang pasti, kita tetap berharap kepada Abu Bakar Ba’asyir mampu memengaruhi kelompok radikal-terorisme di Indonesia agar mereka tak lagi berkonfrontasi dengan pemerintah. Sehingga, gerakan yang kerap meresahkan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia melalui aksi heroiknya; pemboman, teror, dan lain-lain berakhir. Negara pun menjadi aman dan masyarakat bisa hidup nyaman dan damai. Wallahu A’lam

Facebook Comments