Penolakan Singapura terhadap UAS dalam perspektif Pertahanan Keamanan Nasional

Penolakan Singapura terhadap UAS dalam perspektif Pertahanan Keamanan Nasional

- in Suara Kita
289
0
Penolakan Singapura terhadap UAS dalam perspektif Pertahanan Keamanan Nasional

Kedatangan Abdul Somad beserta 6 orang lainnya dalam satu rombongan pada Senin 16 Mei 2022 lalu, dihalau oleh pihak Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Singapura dengan alasan tidak memenuhi syarat untuk berkunjung ke Singapura. Kebijakan penolakan memang sepenuhnya wewenang dari otoritas imigrasi Singapura. Pemerintah Indonesia tidak mempunyai hak intervensi terhadap kebijakan tersebut.   

Pihak Imigrasi Indonesia sudah menegaskan bahwa rombongan UAS tidak sama sekali ditemukan permasalahan dokumen keimigrasian. Namun, saat kejadian itu pihak Imigrasi Singapura tidak memberikan penjelasan sebab ditolaknya UAS dan rombongan. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, pihak Singapura angkat bicara melalui pernyataan resminya.

Pihak Singapura menyatakan bahwa UAS dikenal menyebarkan ajaran ekstrimis dan segregasi yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura. Seperti khotbah nya yang berisi bahwa bom bunuh diri adalah sah dan hukumnya mati syahid, saat pembahasan konflik Israel-Palestina. Selain itu juga UAS kerap memberikan komentar merendahkan anggota komunitas agama lain dengan menggambarkan Salib Kristen sebagai tempat jin kafir.

Melihat bagaimana respon pemerintahan Singapura, jelas bahwa hal ini secara umum menyangkut Kepentingan Nasional. Salah satu kepentingan sebuah Negara ialah bagaimana mempertahankan keutuhan negaranya. Negara menciptakan instrument-instrumen kebijakan luar negeri yang mana unsur kebijakan luar negeri yang saling berkaitan adalah unsur pertahanan, diplomasi, dan ekonomi. Unsur pertahanan menjadi urutan yang pertama karena terkait masalah keamanan.

Dalam perihal ini kita bisa melihat terlebih dahulu tentang demografi dan sejarah Negara Singapura yang terdiri dari berbagai etnis dan memiliki 2 etnis mayoritas yaitu Melayu dan Tionghoa. Hubungan Tarik-menarik etnis di Singapura sudah begitu kental semenjak sebelum Singapura melepaskan diri dari Malaysia, sehingga potensi terpecah belah masih terbilang cukup rentan. Karena masih terdapat sentiment antar etnis di Negara tersebut.

Selain itu juga dalam perspektif Keamanan Nasional, Singapura memiliki kelemahan strategis, yang dihadapkan pada ancaman non-tradisional. Ancaman non-tradisional yang dimaksud adalah ancaman yang berasal bukan dari actor Negara. Negara Singapura berada dalam rumpun Asia Tenggara dimana masalah terorisme masih menjadi momok bagi masyarakat Asia. Singapura diapit oleh Negara Malaysia dan Indonesia sehingga meskipun aksi terorisme belum terjadi di Singapura, namun Negara Singapura masih dibayangi ancaman terorisme yang tinggi. Singapura dikepung oleh kelompok-kelompok teroris yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Bahkan public Singapura pernah digemparkan dengan berita rencana terror menggunakan roket yang ditembakkan dari Batam (Ramakhrisna, 2017).

Sementara itu, Singapura yang memiliki luas wilayah yang terbilang cukup kecil jika dibandingkan negara tetangga nya, namun pergerakan dan kemajuan di bidang ekonomi nya sangat bergantung pada investasi pariwisata serta hubungan perdagangan dunia. Hal tersebut menjadikan Singapura sangat ketat dalam menjaga Keamanan Nasional nya karena serangan terror mampu mengganggu perekonomian Negara Singapura. Itu sebabnya, pemerintah Singapura juga berupaya menghadirkan militer yang disegani dan anggaran pertahanan yang cukup fantastis dibandingkan Negara-negara ASEAN.

Berkaca dari penjabaran di atas, menjadi alasan utama Singapura sangat ketat dalam menerima pengunjung Negara nya. Apalagi Negara Singapura menyatakan bahwa UAS dan rombongan memiliki agenda lain selain kunjungan wisata. Dan baik Negara Indonesia maupun Singapura juga pernah menolak pelaku perjalanan luar negeri yang ingin memasuki wilayah Negara nya. Masing-masing Negara memiliki otoritas kebijakan dan kriteria tertentu. Bagaikan ibarat pemilik rumah, memiliki hak untuk menerima maupun menolak siapa yang akan memasuki wilayah rumahnya. Itu adalah hak kedaulatan suatu Negara.

Sehingga kita sebagai masyarakat tetangga dari negeri Singapura, harus dapat memahami dan menghormati kedaulatan sebuah Negara.

Facebook Comments