Pentingnya 4 Design Kebijakan Kampus Merdeka dari Virus Radikalisme-Terorisme

Pentingnya 4 Design Kebijakan Kampus Merdeka dari Virus Radikalisme-Terorisme

- in Suara Kita
214
0
Pentingnya 4 Design Kebijakan Kampus Merdeka dari Virus Radikalisme-Terorisme

Penangkapan seorang Mahasiswa di Jawa Timur terkait kasus tindak pidana terorisme sejatinya melahirkan satu kesadaran penting bagi kita. Bahwa, penularan virus radikalisme-terorisme itu, seyogianya tidak mengenal status dan tingkat pendidikan. Jadi, tidak bisa kita jadikan jaminan, meskipun orang itu sudah kuliah di perguruan tinggi, baik negeri mau-pun swasta. Lalu terbebas dari penularan virus radikalisme-terorisme. 

Sehingga, dari kejadian yang semacam inilah, lembaga pendidikan kampus tidak boleh abai dan lalai. Maka, setidaknya ada 4 design kebijakan kampus yang saya rasa harus dan penting untuk dibangun dan diperkuat. Guna merdeka dari penularan virus radikalisme-terorisme. Lantas, seperti apakah 4 design itu?

Pertama, membangun kebijakan bersifat kegiatan belajar-mengajar yang terarah-mengerucut ke dalam paradigma Pancasila dan prinsip toleransi. Misalnya, dalam konteks pendidikan agama, itu harus dan perlu mengarah ke dalam satu pemahaman keagamaan yang relevan-korelatif terhadap prinsip kebhinekaan dan terjaganya harmoni sosial-keagamaan. Jadi, dunia kampus harus menyokong hal-hal yang semacam itu.

Lantas, pertanyaanya sekarang, mengapa ini penting? Tentu kita perlu paham. Bahwa, ketika kegiatan belajar-mengajar baik umum mau-pun keagamaan dibiarkan tidak memiliki goal yang mengarah ke dalam ranah kebangsaan dan harmonis sosial. Maka ini sama halnya kita membiarkan seseorang hanya paham sebuah konsep, tetapi bagaimana pengetahuan konsep itu “buta fungsi”. Artinya, tidak memiliki arah terhadap tatanan sosialnya. Sehingga, di sinilah kelompok radikalisme-terorisme mudah memanfaatkan celah tersebut untuk mengajak bergabung ke dalam komplotannya.

Kedua, membangun kebijakan yang sifatnya memperkuat (jati diri) orang-orang di lingkungan Kampus yang tetap berada dalam keadaan yang moderat, pancasilais dan tolerant. Baik secara teori di kampus dan praktik di lapangan. Artinya apa? di dunia kampus, ada begitu banyak yang mengalami semacam ketidaksinkronan. Misalnya, di lembaga pendidikan meskipun secara teori mengajarkan pemahaman yang mengerucut pada nilai-nilai agama yang tolerant, moderat dan menjunjung tinggi kebhinekaan. Tetapi, ketika di luar, (jati diri) mahasiswa justru condong intolerant dan bahkan tidak mau menghargai perbedaan yang ada.

Maka, kondisi ketidaksinkronan yang semacam ini perlu kita benahi bersama di dalam ruang-lingkup kampus. Sebagaimana, kebijakan yang sifatnya membangun semacam keterhubungan antara teori yang menjunjung tinggi nilai Pancasila itu harus menjadi (cerminan) ketika masuk dalam praktik lapangan. Atau ketika sudah menghadapi kehidupan sosial yang majemuk ini.

Ketiga, membangun kebijakan yang sifatnya check the teaching-learning conditions and personally. Jadi, perlu adanya semacam pendeteksian serta pemeriksaan yang sangat ketat. Dan ini tidak terbatas hanya bagi Mahasiswa, tetapi juga terhadap dosen dan jajaran lainnya. Untuk mengamati, memahami dan terus membangun felling research. Apakah seorang dosen tersebut berpotensi menyebarkan paham radikalisme-terorisme atau tidak. Serta, bagaimana pentingnya memerhatikan penuh jalan belajar-mengajar seorang Mahasiswa serta orang-orang di lingkup Kampus tersebut.

Keempat, membangun badan hukum dengan keterbukaan bagi siapa-pun di lingkungan kampus. Untuk care melaporkan serta saling mengamati terhadap gejala penyebaran paham radikalisme-terorisme. Baik di lingkup Mahasiswa, Dosen dan jajaran lainnya. Agar, tidak ada “pengkhianatan” yang mendekam tersembunyi. Jadi, kampus harus bergerak tegas untuk melakukan kebijakan yang semacam itu.            

Oleh karena itulah, sangat penting di dalam lingkungan Kampus. Membentuk semacam kebijakan, sebagaimana ada 4 design yang sangat perlu dibangun di dalam lingkungan kampus. Agar, dunia kampus benar-benar merdeka dari penularan virus radikalisme-terorisme. Karena kita harus ingat, bahwa penularan virus radikalisme-terorisme tidak mengenal status dan tingginya pendidikan seseorang.

Facebook Comments