Pentingnya Kedewasaan Berdemokrasi untuk Kemenangan Bersama!

Pentingnya Kedewasaan Berdemokrasi untuk Kemenangan Bersama!

- in Video Damai
249
1
Pentingnya Kedewasaan Berdemokrasi untuk Kemenangan Bersama!

Hajatan besar demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019 memiliki rentetan peristiwa. Pemilu dimulai masa pencalonan, kampanye, pencoblosan, rekapitulasi suara dan penetapan calon terpilih. Pemilu kali ini memang cukup kompleks, karena sistem pemilu serentak antara pemilihan Calon Presiden-Wakil Presiden dan para Calon Legislator diberbagai tingkatan.

Kampanye yang berlangsung mulai 23 September 2018 sampai 13 April 2019 cukup menyita perhatian. Masa kampanye para kontestan idealnya beradu program tapi kenyataannya banyak calon yang saling melontarkan black campaign (kampanye hitam). Black campaign ini membuat pencemaran demokrasi dan efeknya akan mengkotak-kotak para pendukung. Hal inilah yang membuat bibit-bibit perpecahan dimasyarakat.

Waktu pencoblosan juga diisukan dengan adanya kecurangan-kecurangan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Isu-isu ini membuat para pendukung kontestan Pemilu cukup tegang dan semua saling mencurigai. Disisi lain para petugas penyelengara Pemilu banyak yang kelelahan bahkan berujung maut. Jumlah ratusan petugas Pemilu yang meninggalpun digoreng menjadi isu-isu negatif untuk memecah-belah rakyat.

Bergulir kemasa rekapitulasi bertahap mulai dari kecamatan, kabupaten, provinsi sampai kepusat cukup tegang dengan ada pihak yang sengaja mosi tidak percaya kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mosi tidak percaya KPU sudah digoreng sejak KPU menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dengan isu adanya pemilih ganda. Diperhitungan suara KPU dituduh melakukan kecurangan yang merugikan salah satu kontestan Pemilu.

Baca juga : Ramadan; Menolak Provokasi, Merajut Harmoni

21 Mei 2019 rekapitulasi hasil Pemilu selesai. Dari rekapitulasi menghasilkan siapa yang layak jadi pemenang. Tapi ironinya ada tokoh-tokoh yang menyerukan demostrasi melawan ketidakadilan. Seruan ada yang mengatasnamakan people power. Glagat people power tercium kearah makar. Kemudian banyak tokoh yang menyerukan diamankan aparat. Tidak berhenti disitu tokoh people power mencabutnya dengan gerakan kedaulatan rakyat.

Apapun dalihnya para tokoh yang tidak menerima kekalahan ini menujukkan ketidakdewasaan berdemokrasi. Provokasi untuk menurunkan massa menjadi nyata. Mulai 21-22 Mei 2019 masa demo mengepung Kantor Bawaslu Pusat. Pendemo awal-awal seolah damai pas waktu menjalankan puasa, tetapi setelah sholat tarawih dua malam ini pendemo membuat kerusuhan dan menyerang aparat. Banyak korban terluka, ada yang meninggal, ada yang ditahan aparat untuk pengamanan. Sungguh memprihatinkan melihat situasi ini.

Pemilu 2019 yang mempertemukan kompetisi Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang kedua kalinya. Jadi Pemilu kali ini memang cukup panas dan memprihatinkan. Banyak para pendukung buta hati membela jagoannya. Pesta demokrasi kali ini terlihat brutal dengan mementingkan kekusaan tanpa memikirkan nilai kemanusian. Tepatnya demo yang terjadi 2 hari ini mengingatkan ungkapan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Adapun ungkapannya sebagai berikut, “Tidak ada kekuasaan yang layak dipertahankan dengan mengorbankan darah (rakyat) sekalipun hanya setetes!”.

Ungkapan Gus Dur ini dapat ditafsiri bahwa dalam memperoleh jabatan jangan sampai mengkorbankan bangsa. Peristiwa-peristiwa yang terjadi semoga menyadarkan para peserta demokrasi untuk bersikap dewasa dalam menyikapi hasil Pemilu. Bangsa ini lebih penting daripada kepentingan segelintir orang yang tidak terima kekalahan.

Ada satu yang disayangkan sekarang yaitu kenikmatan bulan ramadan. Seharusnya bulan suci ini diisi dengan ibadah tapi di Jakarta jadi ajang demostrasi masa brutal. Padahal mayoritas masa adalah Umat Islam hal ini sungguh disayangkan. Kedamaian negeri ini menjadi kepentingan bersama dan semua komponen masyarakat untuk menjaganya.

Dewasa Berdemokrasi

Situasi perpolitikan Indonesia yang bergolak dan keruh ini, membuat masyarakat resah. Adakalanya sebuah kelompok merasa lebih superior atau lebih benar dari kelompok yang lain. Padahal pelabelan semacam ini tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. Perlu digarisbawahi bahwa prinsip utama dalam demokrasi adalah kesetaraan.

Kondisi yang memprihatinkan ini perlu adanya pengkajian terhadap pelaksanaan demokrasi tahun ini. Mulai dari pengkajian Peserta Pemilu, Pelaksana Pemilu dan Pengawas Pemilu. Terpenting saat ini perlu dilakukan sportifitas Peserta Pemilu. Sportifitas dilakukan yaitu dengan cara yang kalah mengakui kekalahan dan yang menang merangkul yang kalah. Sportifitas inilah yang akan mendewasakan demokrasi bangsa Indonesia.

Adnan Buyung Nasution dalam bukunya “Demokrasi Konstitusional” mencoba memandang demokrasi dari perspektif hukum. Aspek ini menjadi sangat penting mengingat fungsi hukum sebagai jalan tengah atau jangkar supaya tidak terjadi kekacauan (chaos) di dalam masyarakat.

Menurut Adnan, demokrasi bukan hanya sekedar cara, alat, atau proses melainkan juga nilai-nilai atau norma yang harus menjiwai keseluruhan proses bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Demokrasi adalah tujuan utama yang harus kita bangun terus-menerus sebagai bagian dari proses pendewasaan itu. Karenanya demokrasi tidak boleh dinomerduakan karena berpotensi menyesatkan dan membuka peluang bagi kembalinya cara-cara otoriter, totaliter, bahkan fasisme.

Adapun inti dari demokrasi konstitusional adalah penghargaan atas hak-hak dasar dan asasi manusia. Membangun jiwa demokrasi berarti membangun negara dalam perspektif penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini sudah dari dulu digaungkan oleh Gus Dur bahwa, “Yang terpenting dari politik adalah kemanusian.”.

Ramadan punya tiga fase; 10 hari pertama fase kasih sayang dan kedermawanan, 10 hari kedua yaitu fase magfirah (ampunan) dan 10 hari terakhir fase itqun minan nar (pembebasan dari neraka). Bukan hanya Ramadan yang punya fase, Pemilu juga mempunyai fase. Dari proses fase satu sampai fase yang terakhir memiliki tujuan yaitu kemenangan yang fitri. Sejatinya kemengan yang fitri yaitu kemengan bersama. Marilah kita rajut kembali persaudaraan bangsa ini dari goresan-goresan hajatan demokrasi.

Facebook Comments