Pentingnya Memilih Penceramah Bersanad Demi Terwujudnya Masjid Sebagai Rumah Toleransi!

Pentingnya Memilih Penceramah Bersanad Demi Terwujudnya Masjid Sebagai Rumah Toleransi!

- in Suara Kita
247
0
Pentingnya Memilih Penceramah Bersanad Demi Terwujudnya Masjid Sebagai Rumah Toleransi!

Masjid adalah rumah tempat ibadah umat Islam atau  Muslim, artinya masjid yaitu tempat sujud. Masjid pertama kali didirikan oleh Nabi Muhammad SAW yang bernama Nabawi, yang berarti masjid Nabi. Di Masjid Nabawi Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam pada para sahabatnya. Berkat Nabi Muhammad SAW masjid menyebar diseluruh penjuru dunia. Mengutip data Kementerian Agama (Kemenag), Indonesia memiliki total 290.161 masjid per Mei 2022 yang tersebar di 34 provinsi.

Jumlah masjid yang cukup banyak ini menjadi berkahnya umat Muslim di Indonesia. Masjid dengan jumlah 290.161 ini perlu dikelola oleh umat Muslim secara baik, jangan sampai masjid-masjid ini dijadikan tempat menyebarkan ajaran yang menyimpang dari Islam. Masjid juga perlu dijaga dari dai-dai yang berideologi radikal. Masjid harus dikelola secara sehat sesuai syariat Islam dan tidak bertentangan dengan negara yang sah. Selain menjadi rumah ibadah, harapannya masjid juga menjadi rumah toleransi.

Mengelola masjid yang cukup banyak ini perlu ulama-ulama yang memiliki sanad keilmuan yang sampai pada Nabi Muhammad SAW, mengingat begitu banyak aliran dan sekte dalam Islam sebagaimana kita telah ketahui Khabar dari Nabi Muhammad SAW tentang pecahnya umat muslim menjadi 73 golongan dan kesemuanya sesat kecuali satu golongan yaitu Ahlus sunnah wal jama’ah.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة ، وتفرقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة ، وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها في النار الاّ واحدة ، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي على الذي أنا عليه وأصحابي . رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

Artinya ; “Dari Abi Hurairah R.A., Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu. Berkata para sahabat : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?’’ Rasulullah SAW menjawab : “Mereka adalah yang mengikuti aku dan para sahabatku”, (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadits ini menjelaskan bahwa golongan selamat (Al Firqah Najiah)  yaitu umat Muslim yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Mengikuti ajaran Islam dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tentu butuh guru yang sanadnya sampai pada-Nya. Syariat Islam lewat Al-Qur’an yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW selalu terjaga keorisinilannya. Orisinalitas Al-Qur’an terus dibawa para huffadz-Nya yang senantiasa jujur, terpercaya, kuat hafalannya dan jauh dari perbuatan dosa besar. Orisinalitas Al-Qur’an juga telah dikuatkan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hijr ayat 9 yang berbunyi ;

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Artinya ; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”, (QS. Al Hijr [15]:9).

Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga perlu dijaga kemurnian dan keotentikannya, maka disyaratkan memiliki persyaratan-persyaratan yang kuat yang tidak mungkin terjadinya distorsi atau pemalsuan di antaranya sanad yang bersambung periwayatannya kepada Muhammad SAW. Sebagaimana telah disebutkan di dalam kitab-kitab mustholah al-Hadits.

Imam Syafi’i juga berkata ; “Yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar di malam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar yang padanya ular berbisa yang mematikan dan ia tidak mengetahuinya”.

Imam Syafi’i disini menegaskan bahwa sanad atau isnad merupakan bagian terpenting dalam agama Islam. Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad keilmuan dari seorang guru ke guru, dan munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Dan sanad atau Isnad inilah yang tidak dimiliki selain Ahlussunnah wal jama’ah.

Sanad disini terbagi menjadi 2 yaitu sanad periwayatan dan sanad keilmuan. Sanad periwayatan ini berfungsi memfilter pemalsuan Hadits yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana telah diperingatkan beliau dalam sebuah haditsnya :

من يقل علي مالم أقل فليتبوأ مقعده من النار

Artinya ; “Siapa saja yang mengatakan suatu perkataan dan menisbatkannya padaku sesuatu yang tidak pernah aku katakana, maka hendaklah ia duduk di neraka”, ( HR. Bukhari).

Para ulama-ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menisbatkan suatu hadits pada Nabi Muhammad SAW. Mereka akan meneliti terlebih dahulu para rawi se atasnya, apakah sanad mereka tersambungkan kepada Nabi Muhammad SAW atau tidak. Sehingga kemudian muncul istilah Hadits dha’if, hasan dan hadits shahih, serta semisalnya yang terdapat dalam disiplin ilmu Musthalah al-Hadits.

Periwayatan hadits ini diketahui bahwa para perawi meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW. Lalu perawi di bawahnya mengambil hadits tersebut darinya, dan begitu seterusnya sampai hadits itu sampai pada imam Bukhari semisal. Kemudian beliau mengumpulkan hadits-hadits yang diterima dari rawi se atasnya dalam sebuah kitab yang pada akhirnya kitab imam Bukhari tersebut sampai pada kita.

Sanad keilmuan juga penting, Ibnu Arabi berkata :

فما زال السلف يزكون بعضهم بعضا و يتوارثون التزكيات خلفا عن سلف ، و كان علماؤنا لا يأخذون العلم إلا ممن زكي وأخذ الإجازة من أشياخه

Artinya ; “Para ulama salaf selalu memuji satu sama lainnya, dan terus terwariskan dari generasi ke generasi, dan demikian para ulama kita, tidak mengambil ilmu terkecuali dari orang yang bersih dan mengambil ijazah dari para gurunya”.

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang bisa mengamalkan keterangan atau pendapat yang terdapat dalam berbagai kitab dan menggunakannya sebagai hujjah. Karena sanad keilmuan atau periwayatan kitab sama seperti periwayatan hadits.

Munculnya banyak paham-paham menyimpang dan sesat, kebanyakan ditimbulkan karena tidak memperhatikannya masalah sanad para gurunya. Sehingga kadang kita ketahui, ada seseorang yang belajar dari sebuah buku terjemahan saja atau mungkin dari mbah google yang tidak jelas, kemudian orang tersebut memahaminya dengan pemikirannya yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya atau kadang salah paham dengan maknanya. Maka jadilah pemahaman tersebut telah menyesatkan dirinya dan bahkan orang lain. Sungguh menakutkan apabila ada penceramah yang diragukan sanad keilmuannya.

Ada tiga cara mendapatkan sanad keilmuan atau periwayatan kitab. Untuk mendapatkan sanad keilmuan atau periwayatan kitab, sebagaimana dalam periwayatan hadits terdapat metode antara lain : Pertama, sima’ yaitu mendengarkan bacaan guru atas kitab yang diriwayatkan. Kedua, qiraat yaitu membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seorang guru. Kedua metode ini disebut dengan metode talaqqi. Ketiga, ijazah yaitu izin seorang guru untuk meriwayatkan kitab tersebut.

Umat muslim generasi awal setelah Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan masalah periwayatan. Perhatian mereka dalam masalah ini begitu besar baik periwayatan Al-Qur’an dan metode bacaannya, periwayatan hadits, fiqih, nahwu maupun berbagai disiplin ilmu lainnya. Pengurus masjid disini harus selektif terhadap memilih penceramah, perhatikan sanad keilmuannya, minimal penceramah lulusan pondok pesantren yang jelas sanad keilmuannya sampai pada Nabi Muhammad SAW.

Facebook Comments