Pentingnya Memviralkan Pesan Persatuan di Era Post-Truth

Pentingnya Memviralkan Pesan Persatuan di Era Post-Truth

- in Suara Kita
262
2
Pentingnya Memviralkan Pesan Persatuan di Era Post-Truth

Di era post-truth, kebenaran semakin sulit ditemukan. Fakta dan realitas dimanipulasi, dipoles, diedit, dan disembunyikan sehingga terlepas dari konteksnya. Pendapat individu dan kelompok menjadi landasan kebenaran opini lebih mampu menyentuh aspek emosional yang belum tentu dapat disentuh oleh realitas fakta.

Tak ayal, marak fakta yang seharusnya menjadi acuan dalam menentukan sikap justru terkubur dalam-dalam. Fakta objektif kalah pengaruh dengan emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini. Ironinya, marak pembentukan opini dan keyakinan  tidak memedulikan lagi argumen yang sesuai dengan pengetahuan dan logika. Emosi dikedepankan sehingga mengalahkan objektivitas dan rasionalitas. Kebenaran ditempatkan menjadi nomor kesekian. Benturan efek emosional yang disebarkan lewat informasi pun telah menyulut ketegangan di semua lapisan masyarakat.

Masyarakat kini tak lagi mampu menjadi satu kesatuan yang utuh. Mereka terkotak-kotak oleh baju kepentingan yang sengaja dibentuk lewat propoganda di media sosial. Konflik semakin sulit dicegah. Perbedaan yang merupakan keniscayaan malah menjadi hal yang tabu karena kuatnya hegemoni emosi kelompok.

Post-truth muncul akibat perkembangan TIK yang luar biasa yang memberikan efek terhadap kebebasan akses terhadap informasi. Masyarakat dapat memproduksi dan menyebarkan informasi sendiri dengan berbagai media seperti blog pribadi atau media sosial seperti Facebook, Whatsapp, Snapchat, Twitter, Instagram, dan Youtube. Media sosial tersebutlah orang-orang masif mengirimkan pesan yang mengedepankan opini ketimbang fakta ternyata berdampak memperburuk nalar masyarakat.

Baca juga : Mempromosikan Kebhinekaan untuk Persatuan di Jagad Maya

Dengan memanfaatkan media informasi mutakhir, semua orang bisa mengungkapkan dan mengekspresikan kepuasan/ketidakpuasaan ataupun kecintaan/kebencian kepada seseorang secara langsung. Hanya saja, seringkali hal tersebut dilakukan tanpa memedulikan tata nilai dan etika. Melalui opini yang disebarkan di media sosial, setiap orang menganggap dirinya benar. Orang yang berbeda dilabeli dengan orang bersalah. Opini membuat publikasi hoaks kian tak terbendung. Banalisasi kebohongan tersebut pun berakibat kredibilitas media (pers) kalah dengan opini pribadi.

Fitur berbagi (sharing) di media sosial ialah sumber utama penyebaran hoaks yang marak akhir-akhir ini. Hoaks menjadi seperti fakta alternatif yang disesuaikan dengan yang diharapkan masyarakat. Kenapa hoaks selalu memikat? Karena pembohong bertindak atau berbicara dengan mengikuti logika dan harapan yang dibohongi.

Secara lebih lanjut, masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menemukan bahwa persebaran hoaks sangat meresahkan kehidupan berbangsa dan bernegara, juga menghambat pembangunan nasional. Berdasarkan survei yang dilakukan Mastel pada 7-9 Februari 2017 terhadap 1.116 responden di Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 44,30 persen masyarakat menerima berita hoaks setiap hari. Sekitar 17,20 persen menyatakan menerima berita hoaks lebih dari sekali dalam sehari. Dalam survei berbasis digital yang dilakukan 7 Februari 2017 selama 48 jam, Mastel juga menemukan bahwa hoaks yang paling sering terjadi adalah berkaitan dengan politik, sebesar 91,80 persen. Setelah itu barulah SARA sebesar 88,60 persen.

Mengingat besarnya prosentase hoaks politik tersebut, maka kita perlu waspada agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang didapat berkaitan dengan politik dan pemerintahan. Apalagi bagi pegiat media sosial, mesti hati-hati dalam beraktivitas di jagad digital, karena lahan inilah yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoaks, yakni sebesar aplikasi chating (WhatsApp, Line, Telegram) sebesar 62,80 persen dan media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, Path) sebesar 92,40 persen (mastel.id).

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa memviralkan pesan perdamaian di media sosial menjadi kian penting untuk dilakukan oleh setiap pengguna media sosial. Hal ini karena apabila kebenaran telah karam ditelan oleh benturan keyakinan pribadi masing-masing orang di era posttruth, mendahulukan semangat kedamaian, persatuan, dan kesatuan merupakan hal utama. Tanpa itu, media sosial hanya akan penuh dengan narasi saling menyalahkan dan menghujat satu sama lain atas opini yang diyakini yang bisa jadi bersumber dari sebaran hoaks.

Hanya saja, gerakan memviralkan konten damai harus bergerak lewat komunitas-komunitas agar menjadi lebih optimal. Kesadaran pentingnya perdamaian dan persatuan daripada kepentingan yang egois dan emosional menjadi kunci keberhasilan gerakan ini mengakar secara masif di dunia maya. Tanpa dukungan dari hal tersebut, narasi hoaks dan sentimen emosional akibat perbedaan pendapat akan tetap memenuhsesaki dunia maya.

Maka itu, kesadaran kolektif memerangi segala konten yang berpotensi memicu pertengkaran satu sama lain menjadi hal penting yang harus menjadi perhatian utama para pegiat media sosial. Mari kita wujudkan media sosial yang terbebas dari konten hoaks dan adu domba yang memanfaatkan sentimen emosional!. Wallahu a’lam.

Facebook Comments