Pentingnya Pendidikan Literasi Melawan Hoax di Media Sosial

Pentingnya Pendidikan Literasi Melawan Hoax di Media Sosial

- in Suara Kita
471
0
Pentingnya Pendidikan Literasi Melawan Hoax di Media Sosial

Keberadaan media sosial saat ini seakan membawa kita pada situasi tanpa mengenal batas ruang dan waktu dalam berkomunikasi. Kita seakan merasakan kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam berkomunikasi. Kondisi ini menjadikan sebuah pesan menjadi liar tak terkontrol sebab si-penyampai pesan tidak perlu lagi bertatap muka dengan penerima pesan yang dimaksudkannya. Situasi ini menjadi rumit ketika oknum-oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi dan berita bohong (hoax) demi kepentingan individu atau kelompok tertentu. Bahkan, tak sedikit yang bertujuan memecah belah bangsa.

Kini informasi atau berita yang dianggap benar tidak lagi mudah ditemukan. Survey Mastel (2017) mengungkapkan bahwa dari 1.146 responden, 44,3% diantaranya menerima berita hoax setiap hari dan 17,2% menerima lebih dari satu kali dalam sehari. Bahkan media arus utama yang diandalkan sebagai media yang dapat dipercaya terkadang ikut terkontaminasi penyebaran hoax. Media arus utama juga menjadi saluran penyebaran informasi/berita hoax, masing-masing sebesar 1,20% (radio), 5% (media cetak) dan 8,70% (televisi).

Hoax juga banyak beredar di masyarakat melalui media online. Penelitian yang dilakukan Mastel (2017) menyebutkan bahwa saluran yang banyak dipakai dalam penyebaran hoax adalah situs web, sebesar 34,90%, aplikasi chatting (Whatsapp, Line, Telegram) sebesar 62,80%, dan melalui media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan Path) yang merupakan media terbanyak digunakan yaitu mencapai 92,40%. Sementara itu, data yang dipaparkan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut terdapat 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar hoax dan ujaran kebencian (Pratama, 2016).

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kehadiran hoax sangat berbahaya dan berdampak buruk bagi berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Penelitian Situngkir (2017) dengan judul “Spread of Hoax in Social Media”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Twitter, yang merubakan layanan microblogging merupakan salah satu media efektif menyebarkan berita dari orang ke orang dalam kecepatan yang sebanding dengan media massa konvensional. Hoax memiliki cakupan populasi yang besar dalam lima sampai enam kali tweet, dan berpotensi lebih besar secara eksponensial, kecuali media konvensional menghentikan penyebaran hoax tersebut.

Baca juga : Digitalisasi Akhlak Santri di Media Sosial

Sementara itu, Allcott dan Gentzkow (2017) juga melakukan penelitian berjudul “Social Media and Fake News in the 2016 Election”. Penelitian ini menyimpulkan bahwa platform media sosial seperti Facebook memiliki struktur yang sangat berbeda dari teknologi media sebelumnya (media mainstream). Konten di media sosial dapat disampaikan antara pengguna tanpa penyaringan pihak ketiga, pemeriksaan fakta, atau penilaian editorial. Rata-rata orang dewasa AS membaca dan mengingat urutan satu atau beberapa artikel berita palsu selama masa pemilihan, dengan keterpaparan yang lebih tinggi terhadap artikel proTrump daripada artikel pro-Clinton. Seberapa besar dampak hasil pemilihan ini bergantung pada efektivitas paparan hoax dalam mengubah cara orang memilih.

Berdasarkan paparan berbagai kajian dan penelitian tersebut membuktikan penyebaran hoax demikian cepat dan meluas, lebih-lebih melalui media sosial. Oleh sebab itu, hal ini tidak boleh dibiarkan, perlu adanya upaya dan strategi di ruang virtual guna menangkal hoax.

Untuk menangkal hoax tentu memerlukan langkah nyata di dalam praktik pendidikan, mulai dari pendidikan keluarga, sekolah, sampai lingkungan masyarakat. Keluarga sebagai pilar pendidikan awal memegang peranan vital menanamkan karakter anak. Orang tua harus bisa menjadi kontrol bagi anak-anaknya dalam penggunaan internet dan medsos. Kenalkan kepada mereka mana konten yang baik-baik dan informasi yang valid.

Sementara pendidikan literasi di sekolah bisa dilakukan menggencarkan budaya literasi dan pembelajaran kritis. Maksudnya ialah, didalam penelusuran informasi kita harus kritis, jangan asal menerima begitu saja. Perlu adanya verifikasi teliti. Hal ini juga bisa dilatih ketita membuat makalah, harus dirujuk pada informasi yang valid atau sumber yang kredibel.

Masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada situs atau oknum yang menebar hoax, harus segera dilaporkan. Setelah melihat sumber berita (website) dan jika telah dipastikan bahwa berita tersebut adalah hoaks, dapat melacak siapa pemilik website tersebut dengan cara mencari IP Address atau cukup menuliskan nama situs web tersebut dalam who.is.net maupun domainbigdata.com misalnya, maka akan diketahui identitas yang cukup lengkap dari pemilik situs web penyebar hoaks tersebut.

Untuk mewujudkan itu semua tentu perlu adannya sinergitas antara pemerintah dengan masyarakat, harapannya siklus hidup berita hoax dapat dipotong, sehingga tidak menjalar ke mana-mana. Lambat-laun pun hoax dapat ditumpas.

Facebook Comments