Pentingnya Regulasi untuk Membendung Sejak Dini Ekspansi Ideologi Radikal

Pentingnya Regulasi untuk Membendung Sejak Dini Ekspansi Ideologi Radikal

- in Suara Kita
149
0
Pentingnya Regulasi untuk Membendung Sejak Dini Ekspansi Ideologi Radikal

Khilafatul Muslimin mulai blak-blakan dalam mengkampanyekan penegakan khilafah di negeri yang plural ini. Terbukti, beberapa waktu lalu mereka menggelar konvoi di daerah Tegal dan Brebes.

Sontak, video konvoi Khilafatul Muslimin itu beredar luas di mendia social dan mendapatkan beragam komentar. Mayoritas netizen tentu saja geram dan menyesal mengapa pemerintah diam diam saja.

Di situlah pentinnya regulasi. Tentu regulasi yang bisa menindak tegas penyebaran ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Selama ini, regulasi hanya menyentul pada aspek pembubaran ormas yang berideologi bertentangan dengan Pancasila saja.

Walhasil, kelompok yang menyebarkan paham khilafah misalnya, tetapi mereka tidak dalam bentuk ormas, tidak bisa ditindak tegas. Akibatnya, para pendukung khilafah memanfaatkan celah tersebut untuk mengkampanyekan dan menyebarkan ideologinya.

Mewaspadai Ekspansi di Dunia Digital

Ekpansi kelompok radikal di situs online dan media sosial sudah sedemikian maraknya dan metode radikalisasi via online cukup berhasil.

Perlu diketahui bersama bahwa, dahulu, sebelum era internet berkembang pesat seperti saat ini, konten-konten atau informasi mengenai agama didapatkan melalui cara-cara konvensional seperti jurnal, buku, pengajian dan sejenisnya. Di era sekarang, mereka bermigrasi ke media-media online yang menyajikan konten secara cepat, mudah dan parsial.

Media sosial atau dunia maya saat ini sudah menjadi alternatif untuk mencari dan mempelajari informasi agama. Inilah yang sebagian kalangan menyebut fenomena ini sebagai “Revolusi Informasi”.  Lekatnya generasi saat ini dengan media sosial menjadikan remaja memiliki dunia baru dan mereka sangat tergantung dengan dunia itu. Bahkan terkesan dunia yang sesungguhnya adalah apa yang ada di media sosial (Dahlan, 2003).

Semakin seseorang  tergantung pada media online, maka media tersebut menjadi semakin penting. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan informasi terkait keagamaan. Bahkan, apa yang ada dalam media tersebut, diyakini kebenarannya. Pada posisi inilah, media online moderat tertinggal beberapa langkah dari media radikal.

Kajian McLuhan dan Harold, sebagaimana dikutip Morissan (2010) menyatakan bahwa media merupakan kepanjangan atau eksistensi dari pikiran manusia, dengan demikian, media memegang perang sentral dalam mempengaruhi tahapan perkembangan manusia.

Informasi di atas tentunya semakin membuka mata kita semua akan pentingnya melakukan gerakan-gerakan untuk membendung radikalisasi oleh kelompok radikalis di media online.

Bahaya Radikalisasi via Situs Media Online

Keberadaan internet memang sangat membantu jalannya dakwah Islam. Namun, di sisi yang lain, justru keberadaan internet sering menjadi penyebab seseorang gampang terpapar paham radikal. Kelompok radikalis memanfaatkan kanal-kanal online untuk menyampaikan propaganda, pesan terselubung serta menyebarkan paham-paham radikal.

Dirga Maulana (2018) memberikan penjelasan yang sangat apik. Menurutnya, radikalisme dalam situs dan media sosial menjadi persoalan pelik karena tiga sebab.

Pertama, media itu merupakan saluran baru. Situs dan media online merupakan saluran baru namun sudah digandrungi banyak orang. Hal ini lantaran ketaktisan dan kepraktisannya sehingga menjadi idola baru di kalangan generasi saat ini. Jumlah pengguna internet di Indonesia saban tahunnya selalu meningkat. APJII menyebutkan bahwa pada tahun 2020, pengguna internet Indonesia mencapai 196.7 juta.

Jumlah yang melampui separuh dari total penduduk Indonesia itu sangat efektif untuk menyebarkan propaganda. Sehingga, jika situs-situs radikal di biarkan, maka akan ada banyak orang yang akan ter-infiltrasi atau terkontaminasi oleh paham radikal. Sehingga sangat membahayakan.

Kedua, jangkauannya sangat luas. Gary R. Bunt dalam bukunya “Islam in the Digital Age; E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Environments” memaparkan kondisi mutakhir. Bahwa, sebelum kejadian teror 11 September 2001 silam, gambaran Islam di media sosial sebetas aktivitas ibadah dan kegiatan amaliyah. Artinya, orang Amerika belum begitu banyak mengetahui apa itu agama Islam.

Pasca 11 September itu, fitur-fitur tentang Islam mulai mendapat perhatian serius dan kedekatan baru dikalangan orang-orang Eropa. Mereka berbondong-bondong mencari informasi terkait Islam melalui kanal-kanal media. Dari sini, website Islam, ruang obrolan, media sosial dan lain sebagainya mulai dicari dan digunakan banyak kalangan. Akibatnya, banyak orang Amerika yang memeluk Islam. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh Houssain Kettani dalam sebuah jurnal berjudul “Muslim Population in the Americas: 1950-2020”, yang menyimpulkan kenaikan jumlah pengikut Islam di AS, dari 5 juta menjadi 7 juta pada 2010 dan diprediksi aan terus naik.

Di atas adalah paparan dampak positif media sosial yang memiliki karakteristik dapat menjangkau banyak orang sehingga bisa mempengaruhi jutaan orang Amerika untuk mempelajari dan memeluk Islam. Dalam konteks radikalisme, media online atau medsos juga sangat efektif untuk memberikan propaganda dan menarik simpati masyarakat luas supaya gabung dalam kelompok radikal. Banyak contoh orang terpapar paham radikal karena membaca konten-konten di internet.

Penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menemukan bahwa situs organisasi Islam arus utama (NU Online dan Suara Muhammadiyah) kerap memproduksi narasi-narasi yang menekankan pentingnya integrasi umat, pesan yang menyejukkan, dan membawa pesan Islam yang rahmat bagi semua. (dalam Maulana). Namun, situs ini kalah populer dengan situs islam lain, yang diantaranya berafiliasi dengan wahabi.

Ketiga, ia mampu mempengaruhi seseorang dengan sangat efektif. Tidak hanya memiliki jangkauan luas, situs atau media sosial juga dapat mempengaruhi seseorang dengan sangat efektif. Apalagi jika bahasa yang digunakan dalam konten itu mengutip ayat Alquran dan hadis, pasti akan banyak orang yang terpana dan mengamininya. Padahal, konten itu justru membajak ajaran Islam.

Dengan demikian, sudah saatnya kita ‘propagandakan’ moderasi beragama, Pancasila dan toleransi ke generasi millenial secara emosional untuk membendung arus radikalisasi yang begitu massif dilancarkan oleh kelompok radikal di media atau situs online.

Cara-cara yang kreatif yang dapat menyentuh simpati dan empati kaum millenial harus digalakkan supaya mereka, teruatama millenial yang kesepian, tidak dicaplok oleh kelompok radikal. Dibutuhkan cara-cara di luar kebiasaan untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila guna memenangi pertempuran menghadapi rivalitas dan kompetisi dengan ideologi transnasional radikal.

Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa di era digital seperti saat ini, perkembangan penyebaran ideologi radikal sudah semakin massif. Pada saat yang sama, pemerintah belum punya regulasi untuk menindak sekolompok yang secara nyata menyebarkan ideologi khilafah secara terang-terangan. Oleh sebab itu, regulasi untuk menindak seseorang atau sekelompok yang mengkampanyekan ideologi bertentangan dengan Pancasila menemukan urgensinya.

Facebook Comments