Penyebab Remaja yang Tersesat dalam Mengejar Surga

Penyebab Remaja yang Tersesat dalam Mengejar Surga

- in Suara Kita
280
0
Penyebab Remaja yang Tersesat dalam Mengejar Surga

Radikalisme dan terorisme itu bukan hantu lagi, ia ancaman nyata. Di Indonesia dan juga di negara belahan dunia lain, keterlibatan kaum muda terlebih anak-anak dalam pusaran ideologi radikalisme dan terorisme merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Keikutsertaan anak remaja secara aktif dalam aktifitas kekerasan atas nama agama itu acap kali dipertontonkan.

Ada gairah keinginan untuk mengejar surga dengan instan. Remaja disuguhkan dengan imajinasi cara cepat mengejar surga apapun dosa yang dilakukan. Cara mereka mengejar surga bukan dengan Raihan amal ibadah yang ditempa dengan ilmu selama bertahun-tahun, tetapi ada tawaran lebih menarik. Masuk surga dengan cara cepat.

Berbagai faktor kerentanan yang melekat dalam diri anak muda memang tidak bisa dipungkiri. Masa silamnya yang suram, pendidikan rendah, faktor keluarga, terlibat kenakalan remaja hingga faktor keluarga yang tidak memberikan rasa nyaman dan aman. Remaja tentu memilih suatu doktrin yang kelihatan menggembirakan untuk membebaskan diri dari kesedihan dunia dengan mengejar surga.

Namun, persoalan keluarga juga bukan faktor utama. Kita pernah disuguhi fakta mencengangkan adanya keterlibatan anak-anak dalam beberapa aksi terorisme yang terjadi seperti pada tahun 2018 silam. Anak yang belum genap berusia 10 tahun telah berani menjadi martir pelaku bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel Madya, Gereja Pantekosta Pusat dan Polrestabes Surabaya. Orang tua justru mengajak anak-anaknya untuk mati bersama.

Artinya, ideologisasi “jihad semu” yang dinarasikan oleh kaum radikal dan kelompok teror telah bergerak cukup jauh dan tak terdeteksi bahkan bisa menyesatkan satu keluarga. Doktrin jihad palsu tersebut begitu terampil disampaikan sehingga mampu menipu beberapa umat Islam sampai melibatkan anak-anaknya melakukan bom bunuh diri.

Melihat praktek kebodohan itu, pasti aktor ulung kelompok radikal tertawa terpingkal, karena sekali lagi telah mampu memperdaya pelaku bom bunuh diri dengan janji bidadari dan surga. Tidak mustahil hal serupa akan terulang lagi. Kelompok radikal pasti terus melakukan upaya-upaya dalam rangka mempersiapkan calon pelaku teror berikutnya. Dan, anak remaja menjadi target utama.

Mengapa anak remaja? Tokoh kaum radikal paham tidak semua anak muda muslim memiliki pengetahuan agama yang cukup. Tidak semua anak muda muslim di Indonesia alumni pesantren tradisional yang mengajarkan Islam moderat. Ada banyak sekali diantara mereka yang memahami agama secara instan dari media sehingga mereka berada di ruang ejawantah yang dangkal tentang ilmu agama. Tipikal anak muda seperti itu yang menjadi sasaran empuk kaum radikal.

Krisis ilmu agama menjadi faktor utama anak muda mudah terpapar virus radikalisme yang berujung terorisme. Faktor kedangkalan ilmu agama ini lebih menentukan dari pada apa yang oleh kebanyakan pakar radikalisme dan terorisme disebut dengan krisis psikologis, identifikasi sosial, pencarian status dan balas dendam terhadap “musuh”.

Argumen bahwa nihilitas ilmu agama sebagai faktor utama anak muda terpapar radikalisme, tidak pernah ada alumni pesantren tradisional NU dan lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menjadi teroris. Hal ini sebagai bukti bahwa bahwa penguasaan terhadap ilmu agama menjadi faktor penting dalam konteks keterlibatan anak muda dalam aksi terorisme.

Apa yang mesti dilakukan? Untuk mencegah semakin maraknya keterlibatan anak/remaja dalam pusaran ideologi radikalisme, harus melakukan hal berikut.

Pertama, kesadaran orang tua/keluarga untuk setia terhadap perintah Nabi “Mencari ilmu wajib bagi umat Islam; laki-laki dan perempuan”. “Kalian hendaklah belajar sejak lahir sampai masuk ke liang lahat “. Dan, masih banyak lagi hadits Nabi dengan artikulasi yang sama.

Artinya, untuk menguasai ilmu agama butuh belajar dalam rentang masa yang panjang. Tidak bisa dengan cara yang instan. Dalam hal menuntut ilmu yang harus diperhatikan adalah memilih guru yang tepat yang benar-benar ulama. Sebab, kalau sampai salah memilih guru, misalnya belajar kepada kiai/ustad karbitan akan berpotensi memahami agama secara parsial dan kemungkinan terjadi kesalahan sangat krusial.

Kedua, dibutuhkan peran aktif para ulama untuk menyampaikan setiap kesalahan dari narasi-narasi radikalisme dan terorisme. Dalam setiap khutbah, pengajian, ceramah dan momen-momen acara keagamaan hendaklah menjelaskan tentang “moderasi beragama” dan pentingnya mewaspadai gerakan kelompok radikal yang selalu berupaya mencari tumbal untuk melakukan aksi-aksi biadab yang tidak berperikemanusiaan.

Ketiga, sosialisasi wawasan kebangsaan lebih diintensifkan. Wawasan kebangsaan anak remaja muslim tidak boleh kering dan literal. Hal negatif yang dinarasikan oleh kelompok radikal seperti, Pancasila bertentangan dengan ajaran Islam menjadi faktor hilangnya nasionalisme dan patriotisme. Hal ini sengaja dihembuskan kaum radikal supaya anak remaja muslim lemah dalam hal wawasan kebangsaan mereka. Dengan begitu, muslihat untuk mengelabuhi mereka dengan doktrin “jihad semu dan negara anti Islam” akan lebih mudah.

Pemahaman keagamaan yang berintegrasi dengan wawasan kebangsaan merupakan tradisi yang dibangun oleh Nabi untuk mempertegas hubungan agama dan negara. Selama negara berpijak di atas pilar yang berdasar pada norma-norma dan ajaran universal agama Islam, tidak ada alasan untuk merubah ideologi tersebut dengan undang-undang agama Islam secara formal. Contoh Negara Madinah.

Ketiga, perluasan jangkauan program deradikalisasi ke wilayah-wilayah yang selama ini tidak tersentuh. Program deradikalisasi BNPT, sebagai misal saja, selama ini tidak menyentuh pada wilayah yang lebih vital seperti lembaga pendidikan. Program deradikalisasi hanya menyentuh ormas-ormas besar.

Andai program deradikalisasi itu masuk pada wilayah-wilayah yang lebih banyak melibatkan anak remaja tentu capaian untuk menangkal laju penyebaran virus radikalisme dan terorisme lebih efektif. Salah satunya melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Upaya-upaya tersebut sebuah keharusan supaya anak remaja memiliki wawasan keagamaan yang kuat serta berkolerasi dengan loyalitas kenegaraan dan kebangsaan. Kalau semua ide-ide di atas berjalan baik, bisa dipastikan menutup celah kesempatan kelompok radikal mempengaruhi anak remaja dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Agama dan negara sama-sama terbebas dari “noktah hitam” radikalisme dan terorisme.

Facebook Comments