Penyimpangan Ideologi dan Kekuatan Pancasila

Penyimpangan Ideologi dan Kekuatan Pancasila

- in Suara Kita
1124
0

Menjadi negara yang mejamuk dengan beragam suku, agama, ras dan golongan merupakan kodrat sekaligus anugerah bagi bangsa Indonesia. Namun, satu anugerah lain yang patut selalu disyukuri oleh bangsa ini adalah kehadiran Pancasila sebagai ideologi yang bisa menyatukan perbedaan. Pancasila telah terbukti mampu menjaga persatuan dan kesatuan tidak hanya dalam merangkai perbedaan, tetapi juga benteng di tengah ancaman yang ideologi  transnasional yang membahayakan kedaulatan bangsa.

Keberhasilan Pancasila sebagai kekuatan dalam mengharmonikan keragaman tidak hanya diakui oleh bangsa ini, tetapi benyak Negara lain yang mengaguminya. Banyak Negara khususnya mereka yang sedang dilanda konflik berkepanjangan ingin belajar dari kekuatan ideologi Pancasila sebagai jalan tengah dalam memperkuat persatuan dan pertahanan bangsa.

Namun, sesungguhnya kemilau Pancasila di negeri seberang tidak berbanding lurus dengan upaya gerakan di dalam negeri. Setidaknya Pancasila pernah mendapatkan ujian luar biasa. Banyak penyimpangan dan pembangkangan yang dilakukan dalam upaya meruntuhkan Pancasila sebagai kekuatan bersama bangsa. Penyimpangan ideologi ini tidak hanya berupa ide dan gagasan, tetapi dalam prakteknya telah mengancam kedaulatan negara.

Dua Penyimpangan Ideologi

Pertama, tidak pernah dilupakan adalah gerakan komunisme melalui Partai Komunis Indonesia. Usaha menggantikan Pancasila dengan ideologi  komunis dilakukan dengan pemberontakan besar-besaran yang banyak menelan korban jiwa. Dalam sejarah, tujuh Pahlawan yang tertulis dalam sejarah yang menjadi saksi keberingasan aksi komunis kala itu. Terdapat enam jenderal dan satu letnan TNI AD sebagai korban kekejian pemberontakan tahun 1965. Jenazahnya ditemukan di sebuah lubang berdiameter 75 sentimeter di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Pemberontakan yang kemudian populer dengan sebutan G30SPKI yang dilakukan Letkol Untung tahun 1965 merupakan kup berdarah sebagai bagian upaya pengambilalihan kekuasaan yang sah yang bertujuan mengantikan Pancasila dengan ideologi komunis. Bangsa kita pernah terluka dengan ideologi komunis yang masuk ke Indonesia. Kekejaman PKI tidak akan pernah terhapuskan dari sejarah kelam Indonesia.Ancaman komunisme yang tidak mengenal adanya Tuhan, tentunya ini melawan prinsip ketuhanan yang ada dalam Pancasila yang tertulis pada sila pertama berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Kedua, jauh sebelum gerakan berdarah pada September 1965 tersebut, di saat mendirikan negara ini bangsa ini juga menghadapi serangkain gerakan kudeta, teror dan penyimpangan ideologis yang tidak kalah hebatnya. Gerakan DI/TII atau dikenal pula dengan cita-cita negara Islam Indonesia bertujuan untuk pembentukan negara Islam. Gerakan ini dimulai pada 7 Agustus 1949 oleh milisi muslim di bawah komando Kartosoewiryo.

Gerakan ini juga menolak Pancasila sebagai dasar negara dengan ingin menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dengan ajaran Islam sebagai dasar negara. Mereka menolak keras terhadap ideologi lain yang tidak berdasarkan syariat Islam yang dianggap sebagai hukum kafir. Lahir di Jawa Barat, tetapi pada akhirnya gerakan ini mempunyai beberapa gerakan turunan di beberapa wilayah di Indonesia. Pemberontakan, teror, dan gangguan stabilitas keamanan di awal kemerdekaan oleh gerakan ini telah menjadi hambatan dalam kemajuan bangsa.

Pancasil Payung Negara yang Beragama

Hilangkah semua ancaman di atas? Tentu di masa kini penyimpangan ideologi  yang ada di Indonesia harus terus diwaspadai baik dalam haluan kiri dan kanan. Ideologi tidak akan pernah mati dan bisa hadir dalam bentuk gerakan baru. Tantangan ideologi dan gerakan yang ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia tidak akan pernah surut dan padam. Kekuatan ideologi transnasional seperti khilafah yang mendirikan Negara Islam dalam konteks luas adalah contoh baru dari gerakan yang sudah lama sebagai bagian dari penyimpangan ideologi.

Bagaimana Pancasila menghadapinya? Paham komunis dan ide negara Islam atau juga khilafah merupakan dua ideologi asing yang sama-sama dilarang di Indonesia. Secara ideologis Pancasila telah menjawab persoalan ini dengan sila pertama. Indonesia bukan negara agama, tetapi negara yang beragama.

Negara yang beragama yang tidak mengakomodir ideologi yang tanpa Tuhan. Negara yang beragama tidak mengakui monopoli dan klaim tunggal agama tertentu sebagai dasar negara. Karena itulah, pada tokoh bangsa dan ulama telah membuat rumusan indah tentang Indonesia sebagai negara yang beragama. Bahkan egoisme mayoritas pun ditekan dengan menolak sila pertama berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Dengan penegasan inilah sejatinya penyimpangan ideologi dengan cara tidak menjadikan Indonesia beragama atau menjadikan Indonesia hanya milik satu agama sudah tuntas. Namun, ideologi itu akan terus berjalan sebagai ancaman laten yang tidak pernah punah. Pancasila telah menjadi ideologi jalan tengah yang mampu meramu keragaman dan mendamaikan dalam harmoni.

Facebook Comments