Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

- in Suara Kita
134
3
Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

Perempuan sering kali menjadi nomer dua dalam beberapa hal, sehingga suara-suara mereka kurang mendapatkan tempat. Perkembangan internet dan media sosial kini memberikan ruang untuk perempuan mengeksplorasi keinginannya. Dalam suatu penelitian menunjukkan perempuan sangatlah aktif dalam menggunakan media sosial. Menurut Betty Alisjahbana seorang pakar Teknologi Komunikasi dan Informatika, perempuan Indonesia pengguna internet di atas 10 persen.

Data yang dihasilkan dari penelitian Pew Research Centre, sebuah organisasi yang terjun dalam penelitian terkait internet, teknologi dan sains menunjukkan bahwa perempuan mendominasi dalam penggunaan media sosial yaitu 76 % sementara laki-laki 72 %. Data ini menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi solusi rekonsiliasi di media sosial seperti Fecebook, Twitter dan Instagram guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan yang sedikit pudar akibat perbedaan pilihan pasca pilpres.

Peran perempuan melalui jejaring media sosial seharusnya dapat memberikan solusi kemudahan dalam menangkal isu-isu yang bersifat provokatif dengan cara menyebarkan berita atau konten-konten yang positif. Namun terkadang keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Presentase perempuan pengguna medsos dengan angka 76% juga rentan terkena dampak dari berita hoax. Kurang cermat dalam melihat informasi yang beredar setiap hari di medsos menjadi penyebab utama perempuan terpengaruh berita hoax.

Kasus di Jawa Barat menjadi salah satu contoh perempuan yang terpengaruh berita hoax. Tiga emak-emak berhubungan dengan pihak berwajib karena menyebarkan kampanye hitam untuk mendiskriditkan salah satu pasangan capres. Mereka berujar jika salah satu pasangan ini menang dalam kontestasi pilpres kali ini maka adzan akan dilarang dan pernikahan sesama jenis akan dibolehkan. Video mengenai mak-mak ini beredar luas di media sosial dengan leluasa. Banyak yang membagikan dengan menambahkan narasi yang sifatnya provokasi untuk memperkeruh suasana. Namun pihak berwajib segera melaksanakan tugasnya dengan baik.

Baca juga : Dari Media Sosial untuk Rekonsiliasi Kebangsaan

Pelajaran dari peristiwa tersebut memberikan satu hal yang bisa diambil intisarinya, yaitu lebih mencermati dalam membuat berita dan membagikan berita agar peristiwa yang terjadi tidak terulang kembali. Media sosial telah menembus batas ruang dan waktu serta banyak hal baru yang ditawarkan, tanpa sifat hati-hati yang dimulai dari kita sendiri maka apa yang terjadi di atas bisa terjadi pada kita sendiri.

Perempuan dan Rekonsiliasi Media Sosial

Peran perempuan dalam rekonsiliasi selaras dengan yang diungkapkan presiden Jokowi saat berkunjung ke Sumenep untuk merayakan hari perdamaian Internasional. Presiden Jokowi mengungkapkan “perempuan merupakan kunci perdamaian”, hal ini diungkapkan pada tanggal 8 Oktober 2017 silam. Selain itu dalam lawatan acara festival rakyat yang melibatkan UN Woman dan Wahid Foundation preseiden Jokowi mengatakan peran perempuan dalam menjaga perdamaian dimulai dari suatu yang kecil yaitu keluarga. Dari satu yang kecil ini “keluarga” menuju perdamian dunia.

Maka dari itu perlu rasanya perempuan dilibatkan dalam segi ekonomi, sosial dan politik dimasyarakat dari tingkatan bawah hingga jajaran pemerintahan. Dengan melibatkan perempuan dan menghargai perempuan maka Indonesia akan lebih kuat. Perempuan mempunyai posisi penting untuk membangun perdamaian dan toleransi, melalui media sosial dengan diberi bekal pengetahuan yang pas maka perempuan akan menjadi agen perdamian di Indonesia bahkan di dunia.  Presentase yang tinggi perempuan sebagai pengguna media sosial harus diarahkan pada satu hal positif agar menciptakan kondisi yang damai di media sosial.

Tokoh perempuan yang sudah mempunyai nama di media sosial agar terus berupaya mengajak perempuan lainnya untuk mengikuti jejaknya. Salah satu tokoh perempuan yang terus gencar mengajak menebarkan perdamainan baik secara langsung atau di media sosial adalah Yenny Wahid. Anak perempuan Gus Dur ini sangat getul untuk memperjuangankan asas perdamaian melalui even-even diberbagai daerah dan juga bergerak di media sosial. Melalui Wahid Fondation, Yenny Wahid yang menjabat sebagai direktur menyampaikan dengan adanya pemberdayaan perempuan merupakan salah satu upaya untuk menciptakan masyarakat yang damai dan toleran.

Pentingnya lembaga-lembaga seperti PKK yang setiap daerah ada perlu membina anggotanya untuk memberikan pengetahuan tentang media sosial. Dengan menyelenggarakan kegiatan dan mengundang tokoh-tokoh atau LSM yang berjuangan menebarkan perdamaian diharapkan mampu menumbuhkan benih-benih gerakan perdamaian melalui perempuan di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga dari sini perempuan tidak dikesampingkan lagi perannya dalam menciptakan perdamaian di dunia nyata maupun dunia maya. Dan bisa jadi suatu saat perempuan akan menjadi motor penggerak utama dalam menyebarkan perdamaian.

Perkembangan teknologi dan internet yang begitu cepat memberikan pengaruh terhadap perempuan. Perempuan cukup aktif dalam menggunakan sosial media, maka dari itu pemerintah pusat, daerah hingga desa, lembaga-lembaga serta elemen masyarakat yang mempunyai kesadaran akan pentingnya menciptakan perdamaian harus melihat potensi perempuan untuk menjadi agen yang menciptakan perdamaian di media sosial. Disadari ataupun tidak disadari berita-berita yang beredar di media sosial banyak yang mengandung provokasi ataupun berita hoax. Maka dari itu dirasa perlu perempuan berjuang untuk ikut andil penting guna menyebarkan perdamaian di Indonesia dan di seluruh dunia.

Facebook Comments