Perempuan, Haji dan Jihad Perdamian

Perempuan, Haji dan Jihad Perdamian

- in Suara Kita
124
1
Perempuan, Haji dan Jihad Perdamian

Makna jihad seringkali diartikan sebagai bentuk perjuangan dilahan peperangan dengan membawa senjata serta butuh tenaga ekstra. Maka pada posisi inilah kenapa anak perempuan pra Islam sering dibunuh karena tidak bisa membantu dalam hal peperangan. Jikalau salah satu suku kalah dalam peperangan maka seringkali perempuan menjadi korban tawanan budak bagi yang menang. Namun keadaan silih berganti ketika nabi Muhammad membawa agama Islam dan merubah kedudukan perempuan secara perlahan.

Perempuan sangat jarang terlibat dalam peperangan pada masa nabi. Sehingga menimbulkan keresahan sendiri bagi perempuan pada masa nabi untuk ikut berjihad. walaupun tidak mengesampingkan terdapat beberapa perempuan yang membantu nabi berjihad dengan perang. Sebut saja Sayidah Rufaidah al Aslamiyah yang menjadi perawat dilahan perang. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak bisa melakukan jihad di jalan Allah ?

Jihad dalam arti peperangan tidak wajib bagi seorang perempuan. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Aisyah Umm al Mukminun r.a berkata: “Saya meminta izin kepada Rasullullah Saw untuk ikut berjihad, kemudian nabi menjawab: “Jihad kamu sekalian –perempuan- adalah ibadah haji. Nabi Muhammad telah memberikan kemudahan kepada perempuan untuk melakukan jihad melalui ibadah haji. Hal ini dilakukan bertujuan untuk memulyakan perempuan, selain itu Islam adalah agama yang memberi kemudahan bagi pemeluknya.

Keberadaan hadist tersebut membuat perempuan mudah untuk mendapatkan pahala jihad seperti laki-laki di medan perang. Haji merupakan ibadah fisik sehingga disamakan dengan jihad. Aktifitas ibadah fisik seperti thawaf menglilingi Baitullah, Sa’i lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa, menginap di Mina, menginap Muzdalifah, wukuf di Arafah dan masih banyak lagi aktivitas yang membutuhkan kekuatan fisik. Maka diharapkan perempuan sebelum bepergian haji melakukan persiapan fisik sedikit demi sedikit agar  ibadah haji bisa terlaksana sesuai yang diharapkan.

Baca Juga : Haji: Sesuluk Sangkan-Paran

Haji mabrur merupakan harapan setiap orang yang melakukan ibadah haji. Haji bukan hanya soal beribadah ketika di Makkah, akan tetapi bagaimana seseorang yang telah berhaji mampu meningkat nilai moral, dan kwalitas diri di masyarakat. Pada tahun 2018 data yang dimuat okezone mengenai total orang yang berangkat haji 203.351. Jumlah laki-laki 203.351 sedangkan perempuan 112.819 orang. Dari data yang didapatkan diatas bahwa perempuan lebih banyak 90.532 orang. Jumlah yang tidak sedikit tersebut jika dikelola dengan baik maka perempuan pasca haji bisa merefleksikan ibadah haji untuk kehidupan sosial keluarga dan masyarakat.

Perdamaian pada masyarakat

Bepergian haji merupakan pertemuan antara jamaah satu dengan jamaah lainnya. pertemuan ini tidak hanya masyarakat Indonesia, namun seluruh dunia mereka yang mendapatkan panggilan Allah untuk melakukan ibadah haji. Dalam ibadah haji terdapat banyak perbedaan tatacara ibadah dengan pemahaman madzhab masing-masing. Meskipun terdapat perbedaan dalam melakukan tata cara, namun jamaah haji mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari ridha-Nya.

Implementasi ibadah haji bagi perempuan tidak hanya pada cara berpakaian dan tambahan nama haji pasca beribadah, akan tetapi juga diimplementasikan pada sikap kepada tetangga, sahabat dan kerabat. Sebelum berangkat jarang tegur sapa, pulang dari haji lebih akrab dengan tegur sapa kepada tetangga, hal ini akan merangsang komunikasi sosial dan lebih mudah menciptakan situasi yang kondusif. Sehingga arti dari ibadah haji tidak hanya mengenai ibadah kepada sang pencipta –hablum minallah-, namun juga menjaga sikap dan tutur kata ciptaan-Nya –hablum minannas-. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mewujudkan kerukukan dan menghargai setiap perbebedaan.

Perdamian pada keluarga

Melakukan haji merupakan rukun Islam yang terakhir dan bagi yang mampu. Artinya sejak awal niat untuk melakukan ibadah haji setiap orang telah ditempuh baik materil maupun immateril. Materil merupakan bekal yang akan digunakan kesana seperti mempersiapkan uang, makanan dan lain sebagainya. Sedangkan immateril adalah upaya untuk lebih menyiapkan kemantapan hati seseorang dalam melakukan ibadah haji.

Dari perjalan awal niat, berangkat haji, dan kembali ke tanah air bukanlah perjalan yang singkat. Banyak lika-liku yang dialami setiap perempuan yang ingin berangkat haji karena harus mengorbakan jiwa dan harta untuk beribadah kepada Allah. Pasca ibadah haji diharapkan perempuan bisa manjadi panutan kedua setelah ayah sebagai kepala keluarga. Jihad pada saat haji dilanjutkan dengan jihad mendidik anak dari jalan kehancuran dan mengarahkan pada jalan yang lebih baik. Mendidik anak dijaman sekarang tidak kalah sulitnya dengan mengalahkan musuh di medan perang karena kemajuan jaman yang gampang mempengaruhi anak kejalan yang curam.

Agama Islam telah memberikan kemudahan kepada perempuan untuk sama-sama jihad seperti laki-laki. Allah telah memberikan kemudahan bepergian haji dengan pahala yang sama seperti jihad di medan perang. Jikalau seorang perempuan tidak mampu melaksanakan haji, maka seorang perempuan bisa melakukan dengan umroh. Lantas kalau belum mampu melakukan haji dan umrah? Seorang perempuan bisa membahagiakan suaminya setiap hari.

Facebook Comments