Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme, dan Nasib Bangsa Indonesia

Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme, dan Nasib Bangsa Indonesia

- in Suara Kita
197
3
Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme, dan Nasib Bangsa Indonesia

Ancaman radikalisme masih menjadi hantu yang menakutkan untuk bangsa Indonesia. Penyebaran yang begitu masif, membuatnya semakin kuat. Bahkan, aspek pendidikan yang menjadi hal paling mendasar di dalam sebuah bangsa, kini ikut disusupi hantu tersebut.

Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto menyatakan bahwa ada sebanyak tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) terpapar radikalisme. Dari hasil pengembangan pada tahun 2018 menunjukan bahwa 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi menunjukan ketertarikannya kepada radikalisme (Kompas.com, 20/11/18).

Hal senada juga dibenarkan oleh Direktur Setara Institute, Halili, ia mengtakan bahwa dari hasil penelitiannya menunjukan sebanyak 10 PTN terpapar radikalisme. Paham itu dibawa dan sebarkan di kampus oleh kelompok keagamaan yang eksklusif, yaitu kelompok salafi-wahabi, tarbiyah, dan tahririyah.

Berdasarkan penelitianya, 10 nama Universitas tersebut yakni Universitas Indonesia, Insitute Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, UIN Jakarta, UIN Bandung, Institute Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, dan Universitas Airlangga.

Salah satu penyebab tersebarnya paham itu di PTN adalah karena ada organisasi ekstra kampus yang berafiliasi langsung dengan HTI. Sehingga mereka yang ikut organisasi tersebut, mudah untuk didoktrin dan diajak untuk melakukan tindakan radikal.

Baca juga : Radikalisme Online dan Dakwah Toleransi di Media Sosial

Menristekdikti, Mohamad Nasir bahkan menyatakan dirinya akan menindak tegas organisasi tersebut di PTN. Ia memerintahkan kepada seluruh Universitas agar menghentikan setiap kegiatan organisasi tersebut dan organisasi lain jika terbukti terafiliasi dengan HTI.

Meskipun secara organiasasi telah diberantas dan dilarang oleh pemerintah serta PTN di Indonesia, namun yang harus diwaspadai adalah radikalisme itu sendiri dalam diri civitas akademika. Karena hal tersebut sangat sulit untuk dideteksi.

Membiarkan paham ini tumbuh subur dalam sanubari Mahasiswa dan Dosen adalah bom waktu untuk bangsa. Mereka yang ada di perguruan tinggi, nantinya akan turun ke masyarkat bahkan menjadi pihak yang berperan peting dalam roda pemerintahan. Bila hal tersebut terus dibiarkan dan berkembang, kehancuran bangsa menjadi taruhannya.

Peran Perguruan Tinggi

Sebagai labolatorium generasi bangsa, perguruan tinggi harus bersih dari paham transnasional seperti HTI. Karena mereka yang belajar di sana, akan menjadi penerus bangsa, dan akan menentukan akan dibawa kemana bangsa kita ke depannya. Bila di laboraturiumnya saja sudah penuh degan cekokan radikalisme serta paham transnasional, maka bangsa Indonesia kedepannya tentu akan seperti apa yang mereka pahami dan pelajari di sana.

Peran pemerintah terutama Menteri Pendidikan dalam hal ini belum terlihat baik. Bahkan cenderung tidak melakukan penelitian perihal perkembangan perguruan tinggi di Indonesia. Sehingga terlihat menunggu bencana terlebih dahulu, lalu mereka mencari solusi untuk menyelesaikannya.

Padahal gejala radikalisme di kampus bahkan sudah terdengar tercium ketika tahun 1983, di mana Abdurrahman Al Baghdadi melalui dakwah, diskusi, dan seminar di IPB. Salah satu Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB yang dipimpin oleh Muhammad Afifuddin Al-Fakkar, mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB angkatan 2014 menyatakan cara HTI mendoktrin pengikutnya di universitas dilakukan dengan cara berdakwah langsung melalui jaringannya di kampus, serta memperluas jaringan dengan menempatkan simpatisannya dalam posisi penitng di LDK kampus.

Bahkan menurut pengakuan Aiffuddin, mereka juga pernah menggelar seminar terbuka dan pelatihan di Universitas Negeri Medan, IAIN Sumatera Utara, dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pada April tahun 2014 lalu.

Pengakuan Afifuddin selaku simpatisan HTI di kampus memperihatkan bahwa sebagian PT di Indonesia sudah dikuasai oleh mereka. Dan beberapa bahkan sudah menduduki posisi strategis di lembaga ekstra maupun intra kampus.

Bila melihat hal ini, pemerintah tentu sangat lambat dalam menjaga perguruan tinggi sebagai laboratorium pencetak generasi bangsa, yang cinta bangsanya. Karena perlahan paham radikalisme menggerogoti perguruan tinggi dan membuat para mahasiswanya mendidirikan khilafah di negara persatuan Indonesia. Ironis.

Facebook Comments