Perkuat Literasi Media, Bersihkan Isu Sara dari Dunia Maya

Perkuat Literasi Media, Bersihkan Isu Sara dari Dunia Maya

- in Suara Kita
209
2
Perkuat Literasi Media, Bersihkan Isu Sara dari Dunia Maya

Berbicara mengenai isu Suku, Agama, Ras dan Antar-Golongan (SARA) sudah menjadi topik sehari-hari yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Bangsa yang memang terkenal akan kekayaan budayanya menyimpan berbagai perbedaan, namun justru perbedaan tersebut dapat mempersatukan dalam bingkai NKRI. Berkembangnya isi SARA tidak lepas dari oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan dengan memainkan isu tersebut di masyarakat.

Isu SARA seolah menjadi dagangan yang sangat laku keras di masyarakat. Bahayanya tidak sedikit masyarakat yang tidak mengetahui bahaya yang mengancam persatuan dan kesatuan NKRI akibat isu SARA tersebut. Perkembangan teknologi yang semakin pesat menambah semakin gampangnya masyarakat menerima isu-isu SARA yang belum tentu kebenarannya.

Kita flash bacck beberapa tahun yang lalu, terungkapnya jaringan sindikat penyebar kebencian dan berita hoax di media sosial yang menaman dirinya Saracen. Belum selesai di situ saja, tahun 2019 yang ramai diperbincangkan sebagai tahun demokrasi juga membawa imbas banyaknya isu SARA yang dijadikan alat untuk meraup keuntungan tertentu. Masyarakat di Indonesia sudah mulai cerdas dalam berinteraksi di dunia maya, namun juga tidak sedikit masyarakat yang masih saja terpengaruh dengan isu-isu SARA yang tidak jelas kebenarannya.

Dunia maya memiliki peran yang sangat strategis dalam penyebaran isu-isu yang berbau SARA. Masyarakat yang terkadang hanya diam ketika mendengar isu berbau SARA seolah menggugahnya untuk ikut andil didalamnya. Tak jarang beranda dunia maya di Indonesia terkadang banyak sekali berita tidak jelas yang membawa isu SARA. Padahal dunia maya adalah posisi yang sangat strategis sebagi sarana untuk membangun masyarakat sipil yang lebih maju, toleran, beradap dan lebih menghargai antar sesama.

Baca Juga : Merawat NKRI dalam Himpitan Medsos dan Isu SARA

Tahun 2019 menjadi tahun perubahan yang sangat besar bagi arus komunikasi di Indonesia. Berdasarkan riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi penduduk di Indonesia. Jumlah tersebut naik 20% dari survey sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi penduduk di Indonesia. Ditambah lagi dengan proyek Palapa Ring yang ditargetkan selesai tahun ini akan meningkatkan penetrasi internet di Indonesia.

Data tersebut menunjukkan potensi masyarakat Indonesia termakan isu SARA sangat besar sekali. Dunia maya yang didalmnya terdapat media online, media-media sosial memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam membentuk pola pikir masyarakat dan mengajak masyarakat untuk bergerak. Sebagai contoh di media sosial, melalui uraian, ajakan, motivasi yang dikemas dalam bentuk tulisan, gambar dan video secara otomatis akan membawa pikiran pembaca untuk ikut dalam arus pesan yang disampaikan dalam konten tersebut. Dengan kata lain, jika masyarakat terpemngaruh isu SARA di dunia maya maka akan terbawa di dunia nyata yang akan membawanya menjadi masyarakat yang cenderung akan intoleran, mudah curiga, saling menyalahkan satu sama lain dan menebar permusuhan kepada kelompok yang tidak sesuai dengan kelompoknya.

Pentingnya Literasi Media

Berbagai cara harus selalu dilakukan untuk membendung arus penyebaran isu SARA yang seolah menjadi hantu di dunia maya. Masyarakat sudah mulai cerdas dan bijak dalam bermain di dunia maya dan mengakses media sosial. Namun manusia masih banyak lupa sehingga perlu adanya literasi media secara terus menerus dan berkelanjutan. Melansir dari www.harakatuna.com ada beberapa cara taktis dan praktis agar dunia maya kita tidak dijejali isu SARA.

Petama, membuat peacemaker. Dunia maya adalah ruang yang tak bertepi dan cenderung bebas sesuka hati. Sehingga sangat sulit bagi kita untuk memberangus konten-konten negatif seperti SARA. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan kontra narasi. Untuk itu, orang atau kelompok yang membuat dan selalu menyebarkan perdamaian, persatuan, kebersamaan, dan gotong-royong lintas golongan harus diperbanyak dan diperkuat. Pemerintah dalam hal ini bisa hadir dalam bentuk melalui program-program yang mengarah dan seleras dengan upaya pencegahan penyebaran isu SARA, seperti menindak pemilik akun yang gemar menggoreng isu SARA, mengajak dan melibatkan pegiat media sosial, dan lain-lainnya.

Kedua, melawan lupa. Indonesia mempunyai sejarah berdarah yang berkaitan dengan SARA. Ada konflik antar suku di Sampit (2001), konflik antar agama di Ambon (1999), konflik antar golongan seperti Ahmadiyah dan Syiah, dan masih banyak lainnya. Sudah saatnya kita melawan lupa. Bahwa bangsa ini pernah megalami peristiwa yang kelam dan merugikan banyak orang sebagaimana disebutkan di atas. Dengan cara mengingat masa kelam ini, masyarakat akan berfikir keras untuk memunculkan atau memainkan isu SARA di media sosial. Sebab, sebagaimana yang sudah-sudah, isu SARA sangat berpotensi besar menimbulkan kegaduhan yang berakhir pada perpecahan.

Ketiga, menjerat penebar isu SARA. Dunia maya sudah menjadi lapak yang menggiurkan bagi orang yang ingin berjualan isu SARA di dunia maya. Betapa tidak. Tinggal memainkan jari, kerjaan akan beres. inilah tugas pemerintah dan masyarakat yang harus saling bekerjasama ketika mendapati oknum yang gemar menyebarkan provokasi dengan isu SARA untuk segera melaporkan dan dilakukan penindakan dengan memberikan hukuman kepada pelaku sesuai dengan undang-undang yang ada.

Menjaga Indonesia tidak hanya menjaga di dunia nyata saja tetapi juga menjaga Indoneisa di dunia maya. Tanpa dipungkiri dunia maya menjadi dunia kedua masyarakat di Indonesia dalam melakukan komunikasi satu dengan yang lain. Jika kita kuat dalam menjaga keduanya maka isu SARA tidak akan mudah merusak persatuan dan kesatuan NKRI. Mari bersatu padu membersihkan dunia maya kita dari isu SARA untuk menjaga dan NKRI agar tetap rukun, damai, aman dan sejahtera.

Facebook Comments